Seberapa Penting kah Pendidikan untuk Perempuan?

Novi Setiany
Karya Novi Setiany Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Oktober 2017
Seberapa Penting kah Pendidikan untuk Perempuan?

Dewasa ini, sebuah pendidikan bagi seorang perempuan masih dianggap tabu. Mereka berpikir setinggi apapun perempuan mengenyam pendidikan, maka pada akhirnya akan bermuara juga ke dapur. Hal ini membuat masyarakat berfikir bahwa pendidikan yang tinggi tidak terlalu penting bahkan dianggap tidak perlu bagi perempuan, khususnya bagi masyarakat pedesaan yang masih awam dalam mengenal pendidikan serta masih mempertahankan budaya patriarki.
Seperti yang kita ketahui, perempuan sangat rentan menjadi korban kekerasan, baik itu kekerasan secara fisik, seksual, psikis maupun ekonomi. Menurut catatan tahunan 2017 Komnas Perempuan, terdapat 259.150 jumlah kekerasan terhadap perempuan selama tahun 2016. Hal tersebut terjadi karena kaum perempuan belum terlalu dihargai. Minimnya pendidikan yang dirasakan oleh kaum perempuan menjadi alasan utama terjadinya tindak kejahatan yang menimpa kaum hawa tersebut. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan 1 dari 3 perempuan usia 15-64 tahun pernah menjadi korban kekerasan. Dan yang mengejutkan, bahwa korban kekerasan tersebut banyak dialami oleh perempuan yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah. Oleh karena itu, pentingnya pendidikan yang tinggi bagi kaum perempuan, membuat mereka dihargai dan dihormati oleh kaum laki-laki.
Di zaman yang berkembang pesat secara teknologi dan ilmu pengetahuan ini, pendidikan seharusnya tidak lagi memandang gender. Masyarakat harus merubah pola pikirnya yang beranggapan bahwa kaum laki-laki lebih utama dibandingkan dengan kaum perempuan termasuk dalam bidang pendidikan.
Jadi, untuk apa perempuan terdidik?
Selain untuk mengurangi tingkat pelecehan dan kekerasan karena perempuan dianggap rendah dan tidak dihargai, ada sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara, jika baik wanitanya maka baiklah negaranya dan jika rusak wanitanya maka rusak pula negaranya”. Setelah mendengar ungkapan tersebut, tentu hal ini menjadi sangat penting bagi kita semua khususnya kaum perempuan. Dimana urusannya bukan lagi dengan diri mereka sendiri melainkan melibatkan negara. Sebab dari para wanitalah akan lahir para pemimpin dan pengurus negara.
Dari kalimat diatas wanita diibaratkan sebagai tiang negara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tiang diartikan sebagai tonggak panjang (dari bambu, besi, kayu dan sebagainya) yang dipancangkan untuk suatu keperluan. Sedangkan tiang negara adalah sesuatu (orang dan sebagainya) yang menjadi kekuatan negara. Dari pengertian tersebut dapat kita garis bawahi, semakin kuat dan makmur wanitanya maka semakin kuat dan makmur pula negaranya. Serta perempuan juga bisa disebut sebagai agent of change. Dimana kaum perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam perubahan masyarakat serta bertanggungjawab untuk melahirkan generasi yang cemerlang bagi kehidupan masa depan.
Oleh karena itu, pendidikan sangat diperlukan bagi kaum perempuan agar mereka cerdas, terdidik dan berahklakkul karimah. Jika kaum perempuan sudah dapat demikian, maka tidak sedikit kemungkinan masa depan kehidupan bangsa akan menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
Perlu kita ketahui, perempuan terdidik tidak hanya supaya mereka dihargai dan diakui pendapat serta argumennya. Akan tetapi, ada yang jauh lebih penting dari itu. Bukan pula untuk menyaingi lelaki atau suami mereka kelak, tetapi untuk bekal mereka menjadi seorang ibu.
Dalam kaidah syara’ dinyatakan, “Al-ashlu fil mar’ah innahaa ummun wa rabbatul bait.” Bahwa hukum asal wanita itu adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.
Sebagai ibu, perempuan memiliki tugas penting melahirkan generasi masa depan serta sebagai pencetak generasi yang cemerlang. Tidak hanya itu, seorang ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia harus mempunyai ilmu serta bekal pengetahuan yang cukup dalam mendidik dan memahami karakter anak. Contoh kecilnya dalam memberikan pendidikan usia dini. Pendidikan usia dini berawal dari kandungan. Di dalam rahim terdapat tiga tahapan kehidupan, yakni fase pre embrionik, embrionik, dan fetus. Seorang ibu harus paham dengan kondisi janin yang ada di kandungannya. Misalnya, saat janin mulai bisa mendengar ketika usia kehamilan memasuki bulan keenam, janin bisa mendengar apa saja akivitas sang ibu. Oleh karena itu, seorang ibu hendaknya memberikan rangsangan suara yang positif misalnya tilawah Al-Qur’an serta ia harus menjaga lisannya dari perkataan yang tidak baik maupun suara keras yang dapat menimbulkan stres terhadap janin. Itulah pentingnya pengetahuan bagi seorang perempuan, agar kelak ketika menjadi seorang ibu, ia tidak asal dalam memberikan pendidikan serta attitude kepada anak.
Tidak hanya itu, wanita sebagai pengatur rumah tangga berarti ialah pemimpin yang bertanggung jawab atas rumah suami dan anaknya. Ia adalah manager di rumah tangga suaminya yang bertugas mewujudkan baiti jannati. Sehingga membuat suasana rumah laksana surga yang membuat siapapun nyaman dan tenteram tinggal di dalamnya. Selain itu, seorang istri juga harus pandai dalam mengelola keuangan keluarga. Mengutamakan kebutuhan dibandingkan keinginan. Serta tidak membelanjakan hartanya di jalan yang dibenci Allah. Dan perempuan terdidik tahu itu semua, karena sebelum berumah tangga, mereka sudah mempunyai bekal ilmu untuk menghadapi setiap persoalan yang ada. Dengan demikian, perceraian serta kekerasan terhadap perempuan khususnya yang sudah berkeluarga dapat dihindari karena adanya rasa cinta serta saling pengertian antara suami dan istri.
Selain membuat sukses peran perempuan di sektor domestik, pendidikan juga membuat perempuan bebas berperan aktif di sektor publik. Mereka dapat menuangkan pendapat dan gagasannya di muka umum. Menggali potensi diri sehingga dikenal oleh banyak khalayak. Contohnya seperti RA Kartini dan Raden Dewi Sartika, mereka adalah tokoh perempuan berprestasi yang layak menjadi inspirasi wanita masa kini.
Jadi, perempuan terdidik sangatlah penting bagi generasi masa depan bangsa yang cemerlang. Karena pemimpin yang cerdas terlahir dari seseorang yang berkarakter dan cerdas pula. Serta perempuan terdidik dapat membedakan mana yang lebih penting dan mana yang tidak. Berfikir sebelum bertindak dan berdoa sebelum beranjak. Karena yang berpendidikan belum tentu terdidik tetapi yang terdidik sudah pasti berpendidikan.

  • view 85