Rindu di Penghujung Senja

Novi Setiany
Karya Novi Setiany Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Oktober 2017
Rindu di Penghujung Senja


Di sudut ini, aku biasa memandangmu dari jauh. Aku masih ingat saat-saat kita saling mengenal. Aku yang saat itu sedang memegang buku, berjalan seorang diri melewati keramaian gadis-gadis yang sedang menyaksikanmu bermain basket. Aku menengok ke arahmu, dan kamu juga menengok ke arahku. Mata kita saling bertemu. “Raihan …!” seseorang memanggil namamu sebagai isyarat bahwa kamu harus menangkap bola itu. Kamu mengabaikannya. Seketika, bola itu mengenai kepalaku. Aku terjatuh dan tidak ingat apa-apa lagi.
Perlahan, aku mencoba membuka mata. Beberapa meter dari tempatku berbaring, aku melihatmu duduk membelakangiku.
“Ummm, hallo. Siapa disana?” tanyaku penasaran.
Kamu menoleh ke arahku, lalu berjalan mendekatiku.
“Perkenalkan aku Raihan,” katamu mengulurkan tangan.
Aku bangun dari tempat tidur itu dan mencoba untuk duduk.
“Kenapa aku disini?” tanyaku lagi. Aku mengabaikan tanganmu yang saat itu sedang menunggu tanganku untuk berjabat.
“Tadi kamu pingsan di lapangan.” Kamu tersenyum. “Masih sakit?”
Untuk kali keduanya aku mengabaikanmu. Aku berjalan ke arah kursi dalam keadaan kepala masih terasa sakit.
“Terimakasih,” ucapku. Segera aku mengambil tas, lalu pergi meninggalkanmu dan ruang UKS itu.
Saat itu, aku mengira bahwa kamu juga menganggapku aneh seperti yang lain. Namun, dugaanku salah. Kamu mengejarku lalu menepuk pundakku dari belakang.
“Bukumu ketinggalan.” Kamu menyodorkan sebuah buku kepadaku. Segera kuambil buku itu. Kembali kamu mengulurkan tangan untuk berjabat denganku.
“Perkenalkan, aku Raihan, panggil saja Rey. Siapa namamu?” Kamu tersenyum lagi padaku. Senyum itu sama persis dengan senyummu di ruang UKS tadi. Kali ini, aku menyambutmu. Kuulurkan tangan kananku untuk menjabat tanganmu.
“Airin,” jawabku singkat.
Semenjak itu kita menjadi dekat. Pada awalnya, aku selalu menghindarimu. Tapi kamu selalu membuntutiku jika aku pulang sekolah. Kamu selalu menghampiriku saat aku sedang membaca buku diperpustakaan. Dan aku tahu Raihan … kamu selalu memotretku diam-diam. Aku rindu itu dan aku rindu kamu.
Semenjak mengenalmu, aku yang pemurung ini menjadi lebih ceria. Meskipun orang-orang di sekelilingku tetap menganggap bahwa aku ini aneh. Aku tidak punya teman selain kamu, Raihan. Dan aku tidak tahu, kenapa kamu ingin menjadi temanku. Bahkan kamu memintaku untuk menjadi lebih dari sekadar teman.
Aku masih ingat hari itu. Hari dimana kamu mengajakku pergi ke suatu tempat. Kamu memakai kaos berwarna biru, lengkap dengan topi dan jam berwarna hitam di pergelangan tanganmu.
“Aku mencintaimu Airin,” ucapmu sambil memegang tanganku dengan erat.
Mataku mulai berkaca-kaca. Kamu tahu kenapa, Rey? Karena aku juga mencintaimu. Tapi aku merasa tidak pantas untuk menjadi seseorang yang berarti dalam hidupmu.
“Tapi aku ini aneh,” jawabku.
“Kamu tidak aneh, Airin. Bagiku kamu sempurna. Orang-orang itu hanya menilaimu dari luar saja. Kamu cantik, baik, pintar. Dan aku mencintaimu.”
Kamu benar, Rey. Aku ini tidak aneh. Aku hanya seorang gadis introvert, pendiam dan tidak suka keramaian. Aku tidak aneh, Rey. Aku hanya tidak suka banyak berbicara yang tidak penting. Dan aku lebih suka menulis dan mengurung diri di kamar sambil memeluk tedy bear kesayanganku.
Kamu menatapku dalam. Air mataku tak dapat kubendung lagi, aku menangis. Kamu mengusap air mataku, mengecup keningku dan memelukku dengan erat. Aku ingin seperti ini, selalu bersamamu, selamanya … terus bersamamu, Rey.
Rey, momen itulah yang masih dan selalu membekas dalam ingatanku. Aku merasa bahwa semesta sedang berbaik hati kepada kita. Takdir yang mempertemukan dan menyatukan kita hingga sedekat itu. Dan Semenjak saat itu pula, senja selalu hadir menemani penantian masa depan indah kita.
Namun, takdir juga lah yang memaksa kita untuk menjalani kehidupan masa depan yang tak pernah kita inginkan.
Rey, saat ini senja hadir menenggelamkanku, bukan lagi kita. Tapi aku merasa kamu selalu ada membersamainya. Aku belum ingin pulang, aku masih rindu dengan tempat ini, sekolah ini. Dari sudut taman ini, aku biasa melihatmu bermain basket. Melihat senyummu, kekecewaanmu jika gagal mengalahkan lawan. Aku tak pernah berpikir untuk bisa mengenalmu, Rey. Bahkan aku tak pernah berpikir , dulu kita bisa sedekat itu.
Rey, aku sedang tak ingin menangis. Tapi, tempat ini memaksaku meneteskan air mata. Meskipun kamu sudah berada di sisi Tuhan, tapi aku masih melihatmu berada disana. Memainkan bola dan tersenyum melihat ke arahku. Aku merindukan senyum itu, merindukan tangan yang selalu erat menggenggamku. Aku merindukan candamu, rindu menangis di pelukkanmu. Aku rindu tertawa bersamamu dan aku rindu saat-saat kamu berbisik padaku bahwa kamu mencintaiku. Aku ingin kamu tahu itu ….

Akhir rinduku disini
Di penghujung senja
Jika aku menutup mata
Masih saja ada kau yang membersamainya

  • view 321