KurinduITD - Wanita Miskin di Negeri yang Kaya : Fakta atau Opini?

Mutmainna Tahir
Karya Mutmainna Tahir Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 20 November 2016
KurinduITD - Wanita Miskin di Negeri yang Kaya :  Fakta atau Opini?

Wanita Miskin di Negeri yang Kaya :

Fakta atau Opini?

 

Masih ingat dengan lagu yangberjudul “Kolam Susu” karya Koes Plus? Lagu tersebut menggambarkan betapa istimewa, kaya, dan ajaibnya negara kita ini. Negara yang dipuja-puja karena kekayaan alamnya yang sangat melimpah, dengan keindahan dan kemakmuran yang luar biasa dari sang pencipta. Indonesia dikenal sebagai cultural diversity dan Heaven Earth oleh mata dunia. Hal ini karena Indonesia merupakan sebuah Negara Kesatuan yang penuh dengan keberagaman dan sumber daya yang melimpah yang tidak dapat dipungkiri keberadaanya.

 

Namun sadarkah kita bahwa hal itulah yang membuat kita justru terpuruk? Kekayaan budaya, suku bangsa, dan agama mendorong berbagai keahlian tertentu yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia yang entah karena alasan apa tidak dimanfaatkan oleh negara sendiri. Mereka juga sukar untuk mengembangkan potensi mereka kerena faktor tertentu, salah satunya adalah faktor ekonomi. Banyaknya sumber daya alam yang melimpah di negara kita tentunya memungkinkan peluang kerja yang cukup banyak, dan memungkinkan terpenuhinya jumlah tenaga kerja, meskiIndonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terpadat ke-4 di dunia, dengan jumlah penduduk sekitar 255 juta orang.

Faktanya, jumlah pengangguran di Indonesia sangat tinggi. Pada tahun 2016, Badan Pusat Statistika (BPS) mencatat, jumlah tenaga kerja Indonesia sebesar 127.8 juta orang dengan jumlah pengangguran 7 juta jiwa. Namun yang lebih membuat miris adalah sebagian besar jumlah pengangguran tersebut adalah wanita. Data Bank Dunia dan BPS membuktikan bahwa pada tahun 2010 dengan jumlah tenaga kerja 116.5 juta jiwa, 8.7 %  merupakan pengangguran dari total tenaga kerja wanita. Hal ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah pengangguran laki-laki  yang hanya sebesar 7.1%

Fakta tersebut membuktikan bahwa di era yang reformasi seperti sekarang ini, wanita masih dianggap lemah dan tidak dibutuhkan dibandingkan kaum pria, terkhusus dalam hal mendapatkan pekerjaan. Kalaupun mendapatkan pekerjaan, mereka hanya menjadi pekerja rentan rentan (tenaga kerja yang tidak dibayar dan pengusaha). Dalam satu dekade terakhir ini tercatat sekitar 60% pria Indonesia dan tujuh 70%  untuk wanita. Banyak yang merupakan 'pekerja rentan' adalah mereka yang bekerja di sektor informal.

Tak heran jika di negara yang sangat kaya, seperti Indonesia, sebagian besar tenaga kerja wanitanya bekerja di luar negeri sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Diluar negeri saja, kebanyakan dari TKI tersebut mengalami diskriminasi di semua tahapan dari pemberangkatan hingga saat bekerja di luar negeri, bahakan sampai terancam dengan hukuman mati. Berdasarkan data Kementerian Luar Negeri, hingga Juni 2016 jumlah WNI/Pekerja Migran Indonesia yang saat ini menghadapi ancaman hukuman mati di luar negeri berjumlah 208 orang. Terdiri dari 154 kasus di Malaysia, dan sisanya tersebar di berbagai belahan dunia.

 

Selain masalah TKI, juga ada beberapa peraturan perundang-undangan di berbagai daerah di Indonesia yang secara langsung maupun tidak langsung mendikriminasi wanita. Mirisnya semua ini terjadi ditengah aturan-aturan nasional yang memberikan perlindungan terhadap wanita.

 

Salah satu contoh dari sekian banyak Peraturan Daerah yang diskriminatif terhadap perempuan adalah Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo Nomor 10 Tahun 2003 tentang pencegahan maksiat pasal 6 ayat 1,  menyebutkan bahwa setiap perempuan dilarang berjalan sendirian atau berada di luar rumah tanpa ditemani muhrimnya pada selang waktu pukul 24.00 sampai dengan pukul 04.00 kecuali dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Tak sadarkah kita bahwa ini merupakan salah satu bentuk dikriminasi? karena peraturan ini memandang perempuan sebagai penyebab pelacuran. Diskriminasi juga terjadi dalam bentuk pengurangan atas hak perempuan untuk bergerak dan mengaktualisasikan dirinya kapan saja secara bebas, karena dihambat dengan pembatasan waktu dan syarat yang mengharuskan dirinya didampingi dalam melakukan aktifitasnya pada jam-jam tertentu.

 

Sebenarnya masih  ada banyak kasus-kasus  yang secara langsung maupun tidak langsung mendiskriminasi wanita di negeri ini. Namun jika semuanya diungkit satu persatu, maka tidak akan ada  habisnya. Uraian-uraian tersebut juga sejalan dengan salah satu buku karya Denny J.A, “Menjadi Indoenesia Tanpa Diskriminasi” yang didalamnya juga membahas tentang diskriminasi terhadap perempuan.

Sadarkah kita bahwa semua ini sungguh memalukan? Sebuah negara yang sudah merdeka, namun hak-hak yang dimiliki warganya, terutama wanita justru tidak dipedulikan. Secara tidak langsung Inilah yang disebut dengan diskriminasi terhadap kaum wanita, yang merupakan diskriminasi paling luas dan mungkin ditemukan di dalam kehidupan sehari-hari. Pada zaman sebelum Indonesia mencapai kemerdekaan, diskriminasi terhadap wanita terlihat dengan sangat jelas. Namun, yang menjadi pembeda di era sekarang adalah bentuknya yang secara tidak langsung.

Habis gelap terbitlah terang”  merupakan sebuah buku  kumpulan surat yang ditulis oleh seorang pahlawan emansipasi wanita, R.A Kartini (1911)  yang berhasil mengangkat derajat kaum wanita pada masa penjajahan. Namun sadarkah kita bahwa sebenarnya kita masih dijajah? Di masa reformasi seperti sekarang, kita masih diajajah oleh keegoisan, yang membuat wanita di Indonesia secara tidak langsung mengalami diskriminasi.

Kekayaan Indonesia tak akan sia-sia jika Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusianya, terutama wanita, jika dimanfaatkan dan dilindungi dengan baik. Oleh karena itu, wanita indonesia perlu diperlakukan setara baik secara hukum maupun sosial terlepas dari identitas sosilanya. Karena negara yang maju adalah negara yang menghormati wanitanya

 

 

Biodata Penulis

Mutmainna Tahir, dilahirkan di Pinrang, 10 Juni 2001, merupakan putri tunggal dari H.M. Tahir dan Hj. Siama. Tinggal di Jl. Bulu Paleteang No.89 Kab. Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan. Penulis memiliki cita-cita menjadi seorang dokter.Sekarang penulis sedang menempuh pendidikan di SMA Negeri 11 Ungguan Pinrang. CP : 081354678892, e-mail : mutmainnahtahir001@gmail.com, FB : Mutmainnah Tahir

 

  • view 202