Book Review: Inteligensi Embun Pagi

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Buku
dipublikasikan 07 Maret 2016
Book Review: Inteligensi Embun Pagi

Dewi Lestari adalah salah satu penulis fiksi favorit saya. Menurut saya, ia mampu menggambarkan realitas dengan sangat relevan, menciptakan karakter-karakter kuat dengan urutan nalar yang manusiawi, serta menulis roman yang menyentuh tanpa harus menye- menye berlebihan. Ciri khas Dee yang paling menjual adalah referensi yang kaya dan penggunaan metafora yang orisinil, juga humor yang sangat sehari- hari.

Serial Supernova menjadi istimewa karena untuk kali pertama di Indonesia, sebuah karya sastra modern mengangkat tema spiritualisme dengan sangat edgy. Dee menggabungkan unsur science fiction, metafisika, filosofi dan drama dengan gaya kontemporer. Kalau boleh menyederhanakan, rasanya seperti membaca fusi yang terdiri dari epik Buddha Gautama, Paulo Coelho, sedikit X-Files dicampur Interstellar, tapi dengan sentuhan ringan Sophie Kinsella.

Tidak mungkin menikmati Inteligensi Embun Pagi (IEP) sebagai satu cerita utuh tanpa terlebih dulu membaca 5 pendahulunya: Ksatria, Putri & Bintang Jatuh; Akar; Petir; Partikel dan Gelombang. Jadi, saya akan sedikit mengulas kelimanya sebelum masuk ke review IEP.

Pada setiap seri Supernova, selain dibuat menikmati jalan cerita yang dijalani tiap tokohnya, kita dipancing untuk bertanya-tanya, kemanakah ini semua akan bermuara. Benang merah yang jelas terasa sejak buku pertama adalah spiritualisme. Ksatria, Putri & Bintang Jatuh sangat sukses berperan sebagai kickoff yang mengalihkan perhatian kita dari genre pop chic literature yang tengah booming pada masa itu. Selanjutnya, kita tersihir untuk dengan sabar menunggu selama 15 tahun demi mendapatkan jawaban dari ujung perjalanan Gio, Bodhi, Elektra, Zarah dan terakhir Alfa.

IEP menawarkan jawaban tuntas atas rasa penasaran kita. Mengapa Bodhi bisa melihat mahluk alam lain, bagaimana Elektra mampu memanipulasi medan listrik, kemana ayah Zarah pergi, dan siapa sebenarnya Diva Anastasia, yang menjadi awal mula keseluruhan cerita?

Tapi, izinkan saya memberi peringatan. Dee mencoba menggambarkan semesta Supernova beserta konsep hierarki dan cara kerjanya dalam satu buku. Sehingga, membaca IEP akan membuat kita merasa seperti Peretas yang baru pertama kali mengakses Kandi; begitu banyak data dan informasi untuk dicerna. Di beberapa buku sebelumnya Dee mungkin sudah memberi kita petunjuk; Reinkarnasi, Portal, Poros Keempat, Antarabhava, Infiltran dan Sarvara. Tapi, setidaknya bagi saya, remah- remah roti ini tidak cukup menyiagakan untuk kejutan besar yang disimpan belakangan.

Jika JRR Tolkien memilih menggambarkan Middle Earth setahap demi setahap dalam trilogi The Lord of The Rings, sehingga pembaca diizinkan mempelajari seluk-beluk sebuah dunia fantasi asing sedikit demi sedikit, Dee menggunakan pendekatan yang berbeda. Setiap seri Supernova tak ubahnya puzzle yang membuat pembaca menebak- nebak, sehingga di seri terakhir ini, kita kebelet ingin melihat keseluruhan gambaran besar semesta Supernova. Pertanyaannya, apakah satu buku cukup merangkum semuanya?

Kita terutama penasaran tentang bagaimana semua tokoh sentral Supernova akan berinteraksi dalam IEP, dan Dee menghadirkannya dalam hubungan yang natural, network yang terasa masuk akal, dan sekaligus romantis seperti dalam film Love Actually. Siapa kenal dengan siapa? Baca saja sendiri deh. Saya tidak mau disumpahi karena jadi spoiler :p

IEP juga menghadirkan beberapa plot twist yang tidak hanya menambah bumbu cerita, tapi juga menjadi penjelasan mengapa sejumlah hal terjadi. Kita akan dibuat kaget mengetahui siapa Infiltran, Sarvara, dan Peretas dari gugus yang lain. Menggenapi pemahaman yang ditawarkan Dee bahwa tidak ada yang namanya kebetulan.

Serial Supernova mendorong kita menggali makna lebih dalam dari jalan cerita yang disajikan. Saya sendiri menginterpretasikannya sebagai sebuah metafora besar yang mewakili pertempuran tiada akhir dari pihak yang selalu bergerak dan menawarkan perubahan; Peretas, dan mereka yang sebisa mungkin mempertahankan status quo atas nama keseimbangan; Penjaga. Yin and Yang, akan selalu ada gelap untuk terang.

Banyak pemikiran segar yang ditawarkan Dee lewat Supernova. Salah satunya, ia menyajikan tokoh utama cerita ini, para Peretas, dalam wujud orang- orang dengan anomali; Biksu penggemar musik punk yang berprofesi sebagai tattoo artist, pengelola tempat nongkrong gaul sekaligus penyembuh alternatif, cucu pemuka agama kampung yang kebetulan atheis dan percaya eksistensi mahluk extra terrestrial. Semuanya mewakili mereka yang menolak hidup dalam standar aman kebanyakan untuk mengikuti kata hatinya.

Saya merekomendasikan Inteligensi Embun Pagi sekaligus serial Supernova sebagai fiksi yang tidak hanya menghibur dengan ide out of the box, tapi juga menawarkan konsep berpikir yang bijak. Semuanya dibalut dalam latar belakang dengan deskripsi mendetail, yang hanya bisa didapatkan dari proses riset yang teliti. Percayalah, Anda tidak akan menemukan cerita dengan setting itu lagi, itu lagi.

Kembali ke pertanyaan saya diatas. Apakah satu buku cukup merangkum semuanya? Menurut saya tidak. IEP masih meninggalkan beberapa pertanyaan; Apa yang terjadi setelah pertemuan Bulan dan Ksatria? Untuk apa Murai dikonversi menjadi Penjaga? Apa sebenarnya peran Peretas Puncak, yang menjadi misi utama seluruh kisah ini?

Mungkin seperti yang disebutkan Dee berulang kali dalam bukunya; ada pertanyaan yang hadir tidak untuk dijawab. Tapi, mungkin juga perkiraan saya lebih tepat.

Supernova spin off, anyone? :D


  • Wijatnika Ika
    Wijatnika Ika
    1 tahun yang lalu.
    Saya pembaca serial Supernova sejak buku pertama dan merasa tersihir. Tapi saya membuat jeda dari fuforia para penggemarnya sebelum memutuskan membaca IEP. Saya pertama-tama ingin membaca pendapat-pendapat orang mengenai penutup serial ini. Seperti sebuah rombongan yang sedang berjalan ke suatu tempat, saya ingin berjalan di belakang, menyaksikan celoteh dan kegembiraan para pejalan di depan saya. Terima kaish telah membuat review IEP.

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Sangat mebantu riviewnya, trims

  • Dhanang Adi
    Dhanang Adi
    1 tahun yang lalu.
    wah, baru mau posting review serupa ternyata sdh keduluan

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    review yang keren ih...

  • Alenia 
    Alenia 
    1 tahun yang lalu.
    soal cerita paling suka gelombang tapi soal tokoh saya pling senang dengan zarah. "Akhirnya kumengerti betapa rumitnya konstruksi batin manusia. Betapa sukarnya manusia meninggalkan bias, menarik batas antara masa lalu dan masa sekarang. Aku kini percaya, manusia dirancang untuk terluka" Zarah

    • Lihat 1 Respon