Jika Pemimpin adalah Produk untuk Dijual

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Politik
dipublikasikan 20 Februari 2016
Jika Pemimpin adalah Produk untuk Dijual

Menjelang Pilkada 2017, kita bisa melihat jajaran partai politik, kandidat, tim sukses, sampai tukang sablon mulai ambil ancang- ancang.

Pesta demokrasi tak ubahnya marketing battlefield dengan pemimpin sebagai komoditi dan elektabilitas sebagai target volume. Media massa akan dipergunakan besar- besaran. Mulai dari strategi hard selling sejenis iklan, ?Saya Mutiarini, nomer 2, pilih saya! Yes!? sampai yang jauh lebih halus dan terselubung seperti agenda setting.

Pelaku politik juga sudah lama berusaha mengutilisasi social media untuk berkampenye. Masalahnya, banyak yang tidak menyadari bahwa pemimpin tak ubahnya produk; beda karakter, beda pula strategi pemasarannya. Saya akan mengambil beberapa studi kasus.

Note: Ini bukan upaya membandingkan satu pemimpin dengan lainnya. Karenanya, kuantitas & kualitas hasil kerja tidak dibahas. Ibarat produk, setiap pemimpin melayani konsumen dengan segmen dan kebutuhan berbeda.

Exhibit A: Ridwan Kamil, Walikota Bandung

Saat ini, Ridwan Kamil memiliki 1.6 juta pengikut di Facebook page dan 2.5 juta di Instagram.

Sebagai pribadi, Ridwan Kamil adalah sosok yang sangat marketable. Beliau putra daerah, kebetulan camera face, sangat paham cara berpakaian, dan punya hobi kekinian; bersepeda dan fotografi.

Sebagai social media persona, beliau (atau team promosinya) mampu meramu pesan dengan down to earth, sangat baik secara visual, dan hampir selalu komikal- dengan bumbu humor ala Raditya Dika (mantan, jomblo, pacar orang, dan sejenisnya).

Cara menjual pemimpin jenis ini adalah membiarkannya bicara langsung dengan masyarakat sebagai dirinya, secara pribadi. And that?s exactly what they did. Akun social media Ridwan Kamil adalah sarana sempurna utuk memendekkan jarak antara ia dan warganya. Ia terasa dekat, seperti tetangga.

Dengan sudah terbentuknya persepsi positif ini, maka informasi yang lebih ?serius? seperti aktivitas pemerintah daerah, sosialisasi peraturan baru, hingga himbauan nonton Persib, bisa diloloskan dengan mulusnya. Hasil kerja pun bisa ?dijual? secara elegan untuk meningkatkan elektabilitas.??

Exhibit B: Basuki Tjahja Purnama, Gubernur DKI Jakarta

Ahok adalah antithesis Ridwan Kamil. Beliau tidak ganteng, tidak stylish, tidak memiliki akar budaya di DaPilnya, cara bicaranya bikin takut pula.

Ahok juga mengundang kontroversi. Gaya penyelesaian konflik dan caranya menampilkan diri di media massa memberi ruang besar untuk beberapa pihak menyerang titik lemah elektabilitasnya; kepercayaan, ras, bahkan kadang etika berkomunikasi.

Tapi, siapa yang menyangkal beliau punya basis pendukung yang kuat?

Secara marketing, pemimpin sejenis Ahok membutuhkan orang lain untuk berbicara mewakili dirinya. Karena, sosoknya sendiri membuat orang segan, meskipun dalam konteks positif.

Disinilah letak peran strategis ?Teman Ahok?. Gerakan ini punya kekuatan untuk menyumbangkan elektabilitas bagi Ahok karena mereka terasa organik, terbuka, mudah diakses. Merekalah yang punya fleksibilitas dan suara besar untuk mengkomunikasikan kebijakan, visi dan hasil kerja Ahok.

Sebentar, dua studi kasus diatas adalah untuk pemimpin yang sudah menjabat. Bagaimana dengan menjual calon yang sama sekali baru?

Oke, seandainya ada kader parpol atau tim sukses yang membaca ini, izinkan saya menawarkan beberapa saran;

  1. Hindari Iis Dahlia. Iis Dahlia = Iklan Salaman sambil Dadah Liat Kamera. Anda pasti paham maksud saya. Calon anda mau menyumbang kaum dhuafa? Bagus. Tapi tak perlu membuat foto ketika beliau menyerahkan sekardus indomie sambil bersalaman kemudian menyebarkannya. Cara ini membuat kalian terlihat tidak tulus dan suka memanfaatkan kelompok marginal.
  2. Highlight keahlian khusus. Calon Anda pengusaha sukses? Buat sebanyak mungkin workshop entrepreneurship gratis. Musisi? Buat ia mengajarkan musik pada sejumlah anak muda dan beri mereka jadwal manggung di kafe terdekat. Calon Anda tak punya keahlian khusus? Ya jangan dicalonkan.
  3. Jangan overselling Partai Politik. Sayangnya, saat ini partai politik berkonotasi positif dengan kepentingan golongan. Jadi, memberikan porsi visual terlalu banyak untuk logo partai pada materi komunikasi calon, apalagi menambahkan foto pemimpin ParPol segala, hanya akan memberikan persepsi bahwa si calon cuma melayani partai tersebut, bukan warga DaPil secara keseluruhan.
  4. Sesuaikan aksi Anda dengan value yang dijual.?Tagline Anda ?Untuk Jakarta Bersih dan Tertib?? Lalu, kenapa ada poster muka Anda ditempel di pohon- pohon sepanjang jalan protokol? Tanpa cap pajak reklame pula. Ibarat?menyarankan diet tapi ngajak makan sop konro.

Terakhir, perlu disadari bahwa pemilih Indonesia adalah pemilih yang pintar, meskipun kadang hobi menekan tombol ?share? tanpa sungguhan membaca isi berita. Pelaku politik harus mulai berpikir kreatif untuk menjual calonnya, dan membangun kredibilitas bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan dalam periode sesingkat masa kampanye.

What would you do, fellas?

  • view 369

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Sisi pandangnya menarik, marketing calon gubernur DKI. Saya suka, tulisan2 kmu... Terkadang membahas sesuatu yg dilupa dengan data yg cukup. Mksi untuk ulasan2nya

  • Utari Novi
    Utari Novi
    1 tahun yang lalu.
    Tokohnya banyakin bisa sandiago uno, ganjar pranowo mungkin sampai yang di sulawesi. Biar kerasa indonesianya.

    • Lihat 1 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    ((((( Iis Dahlia ))))))