Book Review: "Sirkus Pohon" by Andrea Hirata

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Buku
dipublikasikan 26 Agustus 2017
Book Review:

Penulis fiksi yang saya kagumi sampai semua karyanya saya baca, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Andrea Hirata adalah salah satu dari mereka.

Jadi, ketika ia hadir dengan karyanya yang ke-10; karya yang diselesaikannya dalam total waktu 6 tahun untuk riset serta penulisan, dan konon adalah karya novel terbaiknya – tidak bisa tidak, saya harus membuat review tentang ini :D

Saya segera saja membuat perbandingan antara “Sirkus Pohon” dengan karya pertama Andrea yang saya baca, tetralogi “Laskar Pelangi”. Pada “Laskar Pelangi”, Andrea mempesona kita lewat anak- anak cerdas dengan mimpi besar, yang tak surut oleh kemiskinan sehingga pada akhirnya mampu mewujudkan hal-hal luar biasa.

Kali ini berbeda. “Sirkus Pohon” menawari kita kisah orang- orang sederhana, dengan mimpi yang juga sederhana, dan mereka menemukan kebahagiaan lewat hal- hal yang paling sederhana. Tapi, Andrea mampu menghadirkan visi yang sangat cantik lewat hal- hal sederhana ini. He has again proven his magic touch. Saya menamatkan novel ini cukup dalam waktu 4 jam.

“Sirkus Pohon” diceritakan dari sudut pandang orang pertama bernama Sobrinudin, sering disapa Hob, seorang kuli serabutan di pasar kampung yang drop out sekolah saat kelas 2 SMP karena salah pergaulan. Ia tidak pandai, tidak rupawan, sangat lugu dan diketahui berkawan dekat dengan seorang pembuat onar kambuhan bernama Taripol. Semua kualitas itu menghadiahinya status jomblo sampai usia 28 tahun. Bujang lapuk, kalau istilah orang Melayu.

Arah nasib Hob berubah karena 3 peristiwa penting; jatuh cintanya ia pada seorang gadis penjaga toko bernama Dinda, pohon delima yang tumbuh tanpa sengaja ditanam di pekarangan rumahnya, dan bergabungnya ia dengan sebuah kelompok sirkus keliling.

Hob yang sederhana dan tidak banyak gaya harus bersinggungan dengan banyak urusan penting akibat 3 peristiwa tadi. Ia yang hanya berprofesi sebagai badut sirkus, sampai harus berinteraksi dengan dukun yang konon paling sakti, sempat dipertimbangkan untuk menjadi Kepala Desa, hingga dipercaya sebagai “orang pintar” karena mampu bicara pada hewan dan tumbuhan.

Tapi, lewat Hob kita akan belajar tentang dedikasi, kesetia kawanan, dan cinta yang luar biasa tulus. Semua itu, tanpa diduga datang dari seorang kuli serabutan buruk rupa yang sempat ditangkap polisi karena dituduh mencuri toa.

Di sisi lain, Andrea juga menghadirkan sebuah kisah romantis yang melibatkan 2 remaja; Tara dan Tegar. Mereka adalah anak- anak berbakat yang jalannya selalu dijegal nasib. Cinta pertama mereka meletup karena dipertemukan saat masing- masing tengah menghadapi patah hati pertamanya di usia 8 tahun; perceraian orang tua.

Kisah cinta Tara dan Tegar tidak sophisticated seperti teen-lit. Tapi, kita akan terpesona dengan transformasi indah cinta monyet mereka menjadi cinta yang memberi kekuatan harapan selama bertahun- tahun. Andrea dengan sangat efektif merangkainya dalam satu kalimat; Cinta memihak mereka yang menunggu.

Menceritakan kisah ini dari sudut pandang Hob yang sederhana tak lantas membuat Andrea mengurangi kecantikan diksinya, kecanggihan personifikasinya, dan kekayaan referensinya untuk menggambarkan adegan demi adegan yang terjadi di sebuah kampung Melayu pedalaman. Jadi, meskipun saya sedang membaca tentang seorang laki-laki berdebu bernama Debuludin yang gemar nongkrong seharian di sebuah tempat bernama Kupi Kuli, keseluruhan pengalaman ini tetap jadi indah buat saya.

Kekuatan lain novel ini menurut saya adalah unsur humornya yang dengan licik diselipkan di tempat- tempat tidak terduga. Devious ;)

Saya juga harus mengingatkan bahwa novel ini menyimpan plot twist yang tidak saya antisipasi. Pesan yang saya tangkap di akhir cerita adalah; karma sungguhan ada dan bahwa kebaikan bisa saja datang dari orang- orang yang paling tidak terduga.

In general, highly recommended.

#SirkusPohon #ResensiSirkusPohon

  • view 437