Kalis vs Gilang: Mengulas Kekuatan Viral Emak- Emak

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 13 Agustus 2017
Kalis vs Gilang: Mengulas Kekuatan Viral Emak- Emak

Apa yang lebih seram dari emak- emak bermotor matic sen kiri belok ke kanan? Jawaban saya, emak- emak berhape yang baru isi kuota :D

Beberapa hari belakangan, saya iseng mengikuti berbagai bahasan dan balas- balasan posting terkait artikel yang dipublish Kalis Mardiasih di mojok.co versus status Facebook singkat Gilang Kazuya Shimura yang menanggapi artikel tersebut dengan nada miring.

Menurut saya, persoalan Kalis vs Gilang ini memang sangat berpotensi menjadi viral. Karena, menyangkut sebuah isu yang sangat emosional bagi banyak perempuan: Tak peduli betapapun tinggi dan membanggakan prestasi seorang perempuan di bidang akademis, karir profesional maupun angka finansial, semua itu tak ada artinya jika sampai usia tertentu ia belum menikah.

Seiring dengan merebaknya perdebatan online ini, berkembang pulalah hashtag #akhiakhicupet. Saya pernah menulis tentang jejak digital kita yang nyaris tidak mungkin hilang. Dan dengan viralnya bahasan ini, saya yakin banyak netizen perempuan yang punya cara baru mengingat Gilang Kazuya Shimura.

“Gilang Kazuya siapa?”

“Itu lho, yang #akhiakhicupet”

“Oooh”

Pelajaran moral yang bisa ditarik dari peristiwa ini adalah: Hati- hati dengan netizen perempuan. Mereka punya kekuatan viral yang sangat besar.

Praktisi marketing sebenarnya sudah lama melihat potensi perempuan sebagai pembuat keputusan konsumsi keluarga. Sebagai pihak yang sering ditugasi berbelanja keperluan domestik, perempuanlah yang kemudian membuat keputusan tentang brand roti tawar, pasta gigi, detergent, dan tusuk gigi yang akan digunakan seluruh anggota keluarga. Dan brand yang dipilih para perempuan ini, sangat mungkin menjadi brand yang dipilih anak- anak mereka di kemudian hari.

Pihak yang memegang kunci keputusan pembelian sebuah produk adalah target operasi semua brand. Their opinions are all that matter.

Pada paper consumer segmentation yang mereka rilis pada tahun 2012 untuk pasar Amerika; The Millenial Consumer- Debunking Stereotype, The Boston Consulting Group (BCG), bahkan memiliki sebuah segmen yang khusus mewakili perempuan. Mereka menyebutnya Millenial Mom.

Menurut BCG, Millenial Mom mewakili 22% dari total populasi Millenial. Mereka digambarkan memiliki daya beli yang baik, berorientasi pada keluarga, percaya diri, dan sangat paham cara bernavigasi secara digital. Mereka punya intensitas online yang tinggi, rajin bersosialisasi dan lapar informasi. Mereka berusia lebih tua dari kelompok Millennial lainnya dan merupakan kelompok dengan income tertinggi.

Presentase ini mungkin berbeda untuk pasar Indonesia, tapi saya rasa kita bisa setuju bahwa ciri- ciri Millenial Mom yang disebutkan BCG tadi tidak sulit ditemukan di negara kita. Saya juga yakin, jumlahnya tidak sedikit.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016, disebutkan bahwa pengguna internet perempuan adalah sebanyak 48.2% dari total populasi netizen.

Meskipun demikian, data yang dirilis Nielsen pada Januari 2017 menyatakan bahwa perempuan menghabiskan waktunya di social media 6% lebih lama dari pria. Data lain yang dirilis brandwatch.com pada tahun 2015 menyebutkan bahwa perempuan menggunakan Facebook 10% lebih banyak dari pria dan memiliki 55% lebih banyak post di wall mereka dibanding pengguna pria. Dan mengingat 97.4% netizen Indonesia memprioritaskan waktu onlinenya untuk mengakses social media, saya rasa cukup aman untuk menyimpulkan bahwa social media Indonesia lebih ramai oleh perempuan.

Implikasi mudah yang bisa kita lihat dari fenomena ini adalah; 5 orang selebritas Indonesia dengan follower Instagram terbanyak adalah perempuan, dengan fanbase perempuan yang kuat pula; Ayu Ting-Ting (meski banyak pula hatersnya), Syahrini, Nagita Slavina (sepaket dengan Raffi Ahmad), Prilly Latuconsina dan Laudya Cintya Bella.

Belakangan kita menjadi saksi badai backlash untuk beberapa orang figur publik yang membuat opini kontroversial terkait perempuan di social media; ibu bekerja adalah ibu paruh waktu, surga dan pesta seks dengan bidadari, operasi caesar dan pengaruh jin, lalu terakhir ini – hubungan antara tingkat pendidikan seorang perempuan dengan attractiveness level nya di mata pria.

Sebagai marketer, bukan sebagai perempuan, saya gatal ingin memberi saran: jika Anda berencana membangun karir yang mengharuskan Anda memiliki profil digital yang mumpuni- entah itu penceramah, politisi atau penulis- dan masih berpikir untuk menggunakan social media untuk membangunnya, jangan iseng membuat komentar yang berpotensi membuat sewot sekompi perempuan berhape dengan kuota penuh terisi.

Materi komunikasi brand- brand besar di dunia biasanya sudah melewati berkali- kali screening oleh team marketing, legal, corporate affair bahkan management sebelum disebarkan ke masyarakat luas. Hal ini dilakukan agar tidak ada kelompok sosial tertentu yang merasa tersakiti oleh materi tersebut. Jangankan kelompok yang mendominasi social media, segmen minoritas pun tak boleh terlewat dipikirkan pendapatnya.

Sebab, berbeda dengan kepercayaan jurnalistik dimana bad news is good news, dalam dunia public relations, bad PR bisa berarti rusaknya kredibilitas brand dan perusahaan yang sudah dibangun bertahun- tahun. Ingat Pepsi yang harus menarik iklan terbarunya dengan Kendall Jenner?

Masalahnya, dengan pertumbuhan kilat ranah digital di Indonesia, banyak bermunculanlah selebritas instan social media yang tampaknya belum memahami aturan ini seperti halnya mereka belum siap mental menerima ketenaran.

Akhir kata, tak peduli apapun gender kita, rasanya sudah selayaknya kita memberlakukan etika bersocial media yang sama tinggi seperti saat kita bersilaturahmi dengan tetangga- tetangga satu RT. Hati- hatilah memilih kata, karena status dengan profile picture yang nyata sesungguhnya sama bobotnya dengan pembicaraan tatap muka.

Bedanya, sekali screen shot, maka abadilah perkataan kita.

  • view 255

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    3 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan

    Lagi-lagi tulisan opini Mutia Rini yang menggigit dan nyinyir dan tentunya kekinian. Kali ini dia mengupas tentang debat yang sempat viral di media sosial minggu lalu tentang pendapat yang sebenarnya sudah lama ada di masyarakat tetapi memang sepertinya akan seru diperbincangkan, yakni wanita berpendidikan tinggi dan tuntutan menikah. Kasus Kilas versus Gilang ini Mutia tulis dengan sudut pandang yang cukup aman, dimana ia lebih menyoroti gegap gempita wanita yang jadi pengguna media sosial mengerikan jika punya kuota penuh, apalagi mendapati ada komentar yang lumayan menyudutkan kaum hawa ini.

    Dari sini, Mutia, yang selalu jadi poin plusnya, adalah menjelaskan atau memberi informasi mengenai jangkauan pasar pengguna internet, khususnya media sosial, oleh kalangan wanita. Data yang ia bagi komprehensif dan meyakinkan sehingga pendapatnya tak sekadar asal ngomong tetapi juga berbobot. Sipp, Mutia!