Ahok dan Pelajaran Public Speaking yang Baik

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 11 Mei 2017
Ahok dan Pelajaran Public Speaking yang Baik

Ahok tengah menjadi pusat perhatian Indonesia. Dan karena Indonesia adalah salah satu negara paling cerewet di social media, dunia ikut menolehkan kepala kearah kita.

Hingga kini, masih banyak pendapat pro-kontra tentang layak tidaknya Ahok mendapatkan hukuman penjara, dan bertumbuh dengan liarlah berbagai asumsi terkait perkembangan politik dan hukum di Indonesia pasca penangkapannya.

Setidaknya, banyak yang akan setuju dengan satu hal ini: Semua kehebohan ini berawal dari public speaking yang buruk.

Ya, Ahok membuat kesalahan - yang sayangnya dilakukannya dalam beberapa kesempatan. Menariknya, dalam perkembangan kasusnya, ia bukanlah satu- satunya orang yang melakukan kesalahan ini. Beberapa tokoh masyarakat, pemuka agama, pemimpin ormas dan ahli pendidikan juga sempat membuat statement yang justru menambah runyam keadaan.

Public speaking yang kurang bijak, yang ironisnya dilakukan oleh orang- orang yang cukup diperhitungkan di negeri ini, telah menciptakan efek snowball yang pada gilirannya membuat gerah timeline kita semua.

Jangan salah. Saya dan Anda mungkin juga sudah melakukannya.

Banyak yang tidak sadar bahwa menuliskan buah pikiran (baik yang masak maupun yang asal- asalan) di social media tak ubahnya naik ke atas mimbar sambil membawa toa dan berteriak disana. Sekali screen shot, abadilah perkataan Anda. Jika tidak siap dengan kemungkinan terburuk, yaitu dituntut dengan UU ITE dan Surat Edaran tentang Ujaran Kebencian, lebih baik kembali curhat di buku diary.

Oh ya, jangan lupa. Dunia digital bukanlah black hole yang akan menelan lenyap semua jejak aktivitas kita. Dengan serangkaian riset yang mudah, perusahaan tempat Anda bekerja, calon boss dan investor, bahkan calon mertua, akan bisa menemukan jejak sepak terjang Anda di social media. Sudah siapkah menanggung risiko jika ternyata mereka berseberangan pemikiran dengan Anda, dan hilanglah prospek peningkatan karir, perkembangan usaha, dan mendapatkan jodoh akibat ledakan emosi sesaat?

Komunikasi pada hakikatnya adalah proses pertukaran pesan. Menurut model komunikasi Osgood dan Schramm yang diterbitkan pada tahun 1954, beginilah proses komunikasi kita;

Intinya, saat kita mendengarkan atau membaca pesan yang dikirimkan lawan bicara kita, kita sedang melakukan proses decoding. Pesan yang kita tangkap ini kemudian kita interpretasikan secara internal. Setelah kita menginterpretasikan, kita kemudian mengirim balik pesan tersebut dalam bentuk komunikasi yang verbal maupun non verbal – inilah yang disebut dengan encoding.

Proses ini tidak selalu mulus. Kadang, ada noise, atau gangguan yang menghambat proses encoding, interpreting dan decoding. Noise dalam konteks komunikasi langsung bisa berupa suasana berisik atau lawan bicara yang bau badan. Sedangkan dalam konteks komunikasi digital – pop up ad segede domba atau kuota internet yang habis tiba- tiba.

Tapi, yang ingin saya soroti lebih lanjut adalah proses Interpretation. Masih dari model komunikasi yang sama, ada yang disebut dengan Field of Experience, atau yang saya terjemahkan secara bebas dalam Bahasa Indonesia – Ranah Pengalaman.

Field of Experience mencakup budaya yang kita adopsi, latar belakang sosial, kepercayaan, pengalaman pribadi, serta nilai dan aturan yang kita anut. Ini merupakan seperangkat processor yang membentuk bagaimana cara kita berpikir, bersikap dan berkata- kata. Membentuk kita menjadi mahluk sosial.

Tentu saja, Field of Experience kita berbeda satu sama lain. Hal ini membuat kita menginterpretasikan informasi yang sama dengan cara berbeda. Inilah yang kemudian memicu perbedaan pendapat.

Lalu, apakah masalahnya terletak pada perbedaan pendapat?

Menurut saya tidak. Permasalahan kita seringkali terletak pada proses encoding.

Tidak semua orang dikaruniai kemampuan berkomunikasi dengan baik. Sayangnya, jika meminjam konteks marketing, eksekusi seringkali sama pentingnya dengan konsep. Tak peduli betapa luhur niat di dalam hati, betapa masuk akalnya ide dan pemikiran yang sedang dirumuskan, jika kata- kata yang digunakan sebagai sarana menyampaikan tidak tepat, semuanya bubar jalan. Ini berlaku untuk semua pihak yang berdiri diluar sana dan melakukan public speaking ya, bukan cuma Ahok saja.

Belakangan, banyak dari kita yang kurang hati- hati dalam penyampaian komunikasi. Maksud hati bolehlah mengajak orang lain menuju ridha Illahi dan atau kemajuan bangsa; tapi jika gaya komunikasi yang dipilih cenderung agresif, provokatif dan tendensius, boro- boro dianggap persuasif, yang ada lawan diskusi kita sudah tersinggung duluan.

Di masa yang super sensitif ini, marilah lebih bijak dalam berbicara di ranah publik. Perkataan kita seringkali tak hanya dianggap sebagai cerminan sikap kita seorang, tapi juga kepercayaan, suku, ras dan institusi yang kita wakili. Menurut saya ini berbahaya, karena merupakan bibit- bibit stereotype. Menyedihkan memang, tapi generalisasi masih sering terjadi di masyarakat kita.

Tapi, saya kan cuma mau sharing pendapat? Meluruskan kesimpang siuran tentang agama saya? Mendidik masyarakat tentang bagaimana bernegara dengan baik?

Silahkan. Tapi, lakukan dengan baik, dengan sopan, dengan penuh hormat. Ingat, Anda bicara dengan sesama manusia. Pilih kata- kata Anda dengan bijak. Susun gagasan Anda dalam struktur yang baik, pastikan Anda bicara dalam konteks yang tepat, periksa apakah data dan teori yang Anda gunakan sebagai dasar argumen benar- benar valid, dan introspeksi diri apakah Anda cukup punya kredibilitas untuk menyampaikan itu semua. Dan sekali lagi, bungkus semuanya dalam aura bersahabat.

Tidak bisa? Saya sarankan lebih baik tidak usah bicara.

Di periode yang menguji kedewasaan kita semua ini, saya jadi ingat sebuah ajaran penting yang hadir hampir di semua kepercayaan;

“Berkatalah yang baik atau diam”.

  • view 2.1 K