Mencari Content Creator di Tumpukan Selebgram

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 15 April 2017
Mencari Content Creator di Tumpukan Selebgram

Menemukan selebgram adalah hal yang mudah. Memutuskan apakah mereka adalah content creator yang baik untuk sebuah brand, itu urusan lain lagi.

Dengan 22 juta akun aktif, Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna Instagram terbanyak di dunia. Kepopuleran ini menarik banyak brand untuk melakukan aktivitas engagement di dalamnya. Baik menggunakan akun mereka sendiri, atau melakukan endorsement pada sejumlah IG personality dengan jumlah follower akun yang signifikan, yang selanjutnya lebih kita kenal sebagai selebgram.

Ada gula ada semut, makin menjamurlah pengguna IG yang berlomba menjadi selebgram. Banyak cara dilakukan, mulai dari yang halal seperti memperbaiki kualitas foto dan rajin mereview berbagai produk, hingga yang haram (versi saya, bukan MUI) seperti beli follower dan spam “folbek dong kakak”.

Yang menarik, ratusan ribu hingga jutaan follower tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan membuat konten yang justru paling dibutuhkan oleh brand yang tertarik berinvestasi pada akun mereka lewat aktivitas endorsement.

Selebgram yang mendapatkan endorsement diharapkan bisa memproduksi konten yang mampu menyelipkan produk atau jasa yang ditawarkan ke dalam deretan timeline nya, dengan cara senatural mungkin sehingga seolah, produk atau jasa tersebut sudah menjadi bagian hidupnya sehari- hari. Ia dituntut untuk mampu bertindak sebagai customer yang memberikan review positif dengan tulus, hanya saja review tersebut dibaca oleh ratusan ribu orang.

Kemampuan inilah yang kemudian membuat seorang selebgram layak disebut content creator.

Menurut saya, perbedaan selebgram dan content creator dapat digambarkan dalam Diagram Venn berikut:

Saat ini, jumlah follower hanya menjadi indikasi potential impact yang mampu diciptakan oleh seorang selebgram. Untuk menentukan apakah seorang selebgram akan mampu menjadi content creator yang kontributif, sebuah brand harus mempertimbangkan setidaknya 5 hal berikut;

    1. Karakter Selebgram ; Seorang selebgram sesungguhnya sedang membangun personal brand mereka sendiri. Karenanya, saya menyarankan untuk hanya bekerja sama dengan mereka yang punya area fokus yang jelas, bukan selebgram karbitan yang misi hidupnya adalah menampilkan, “I’m a happy human being, everything in my life is perfect”. Apakah ia seorang ibu rumah tangga yang “megang” banget urusan MPASI, baby care, home-made foods, dan manajemen domestik lainnya? Ataukah ia seorang fashionista yang tak pernah melewatkan hadir di event bergengsi, punya perspektif yang bagus tentang up and coming label dan designer, dan kebetulan juga punya fisik mendukung untuk menampilkan itu semua? Kejelasan area fokus ini memudahkan Anda mengaitkan brand Anda dengan cerita hidup mereka, dan memungkinkan induksi konten yang lebih mulus.
    2. Profile Follower ; Anda tidak akan punya waktu mengidentifikasi berapa persen dari ratusan ribu follower mereka yang merupakan akun palsu, bayaran atau terakhir aktif setahun yang lalu. Tapi, random check untuk beberapa akun yang rajin memenuhi kolom komentar si selebgram akan mampu memberi Anda informasi indikatif tentang demografi, SES, pendidikan dan preference mereka. Selanjutnya, silakan mengevaluasi, apakah profil mereka beririsan dengan target konsumen brand Anda, dan yang menurut saya lebih penting – apakah follower mereka akan mampu membeli produk/ jasa yang Anda tawarkan?
    3. Level of Engagement ; Social media adalah media interaktif dua arah. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa kita tertarik menggunakannya, kan? Karenanya, Anda perlu mengamati bagaimana si selebgram berinteraksi dengan followernya. Apakah ia rajin membalas komentar, meski tak harus semuanya? Apakah ia membuat beberapa post khusus untuk menjawab pertanyaan followernya? Atau ia justru menonaktifkan kolom komentar di akunnya?
    4. Feed Tonality & Consistency ; Instagram adalah platform visual. Karenanya, kualitas foto punya peranan besar disini. Apakah si selebgram bersedia berinvestasi pada kamera, lighting dan tripod (atau bahkan fotografer) berkualitas, teliti memilih filter dan cukup rajin mengedit sehingga visual foto- fotonya optimal? Apakah ia cukup kreatif mengeksplorasi angle yang menarik? Saya akan sebal sekali ketika saya mengendorse seorang selebgram dengan produk perawatan wajah, dan yang ia lakukan hanyalah berpose close up dengan kamera HP berkualitas rendah sambil menempelkan kemasan produk saya di pipinya. Basi!
    5. Kualitas Komunikasi ; Saya tidak akan bekerja sama dengan selebgram yang bahkan tidak mampu merangkai satu paragraf dengan baik. Meskipun seperti saya sebutkan diatas, Instagram adalah platform visual, yang Anda cari adalah story telling. Kemampuan menulis caption akan membantu memberikan konteks pada produk/ jasa yang dijual via si selebgram. Apakah ia mampu menyesuaikan feed fotonya dengan caption? Mampukah ia menyelipkan sedikit humor jika diperlukan? Apakah gaya menulisnya terasa natural, akrab, tidak fabricated?

 

 Akhir kata, karena tujuannya adalah memproduksi konten yang natural dan memproduksi cerita bahwa produk/ jasa kita sudah menjadi bagian hidup seseorang, saya percaya 1x post yang bersifat hit and run bukan langkah bijaksana. Konten kita akan mudah tertelan lalu hilang. Tak ada salahnya berinvestasi untuk beberap post pada timeline dan konteks yang sudah kita pertimbangkan dengan matang.

  • view 416