Jadi, Taksi Online Harus Bagaimana?

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 06 April 2017
Jadi, Taksi Online Harus Bagaimana?

Per 1 April 2017 yang lalu, Peraturan Menteri Perhubungan no. 32 tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek resmi ditetapkan dengan masa percobaan selama 3 bulan.

Sebagai catatan sebelum kita mulai, materi 75 halaman yang terbagi kedalam 55 pasal tersebut mengatur berbagai hal perihal pelaksanaan angkutan umum dengan jumlah roda kendaraan minimum 3 buah, sehingga ojek online tidak termasuk didalamnya.

Kabar baiknya, peraturan ini memberi mereka jalan untuk dapat menjadi bagian jasa angkutan orang Indonesia yang dilindungi hukum. Kelak, mereka tidak bisa lagi dituding sebagai “taksi ilegal” dan tindakan sweeping maupun pemberhentian operasi secara paksa oleh pihak tidak berotoritas dapat dikenai sanksi hukum.

Kabar buruknya, barangkali, adalah penetapan beberapa hal yang menurut saya berpotensi membatasi fleksibilitas operasi mereka dan mendorong mereka untuk memodifikasi business process yang sudah berjalan.

Hal- hal tersebut antara lain adalah:

Pasal 41

  1. Perusahaan/ Lembaga penyedia aplikasi berbasis Teknologi yang memfasilitasi dalam pemberian pelayanan angkutan orang wajib bekerjasama dengan Perusahaan Angkutan Umum yang telah memiliki izin penyelenggaraan angkutan.
  2. Perusahaan/ Lembaga penyedia aplikasi berbasis Teknologi yang memfasilitasi dalam pemberian pelayanan angkutan orang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh bertindak sebagai penyelenggara angkutan umum.  
  3. Tindakan sebagai penyelenggara angkutan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi kegiatan: a. menetapkan tarif dan memungut bayaran; b. merekrut pengemudi; dan c. menentukan besaran penghasilan pengemudi.

Ini berarti, jika Grab, Uber dan Go-Jek tidak memiliki izin pelayanan angkutan orang, mereka tidak bisa lagi mempekerjakan pengemudi freelance dan menggunakan kendaraan pribadi mereka sebagai armada angkutan. Untuk bisnis mereka tetap berjalan, mereka harus bekerja sama dengan Perusahaan Angkutan Umum berizin resmi.

Poin lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa semua Perusahaan Angkutan Umum tidak bisa menambah armada mereka kecuali telah diperhitungkan dalam Potensi Bangkitan Jalan dan disetujui oleh Dirjen Perhubungan.

Menurut saya, kebijakan baru ini berarti mencemplungkan moda transportasi online kedalam lautan persaingan bisnis yang sama dengan angkutan konvensional. Mereka tidak bisa lagi bermain dengan ongkos yang jauh dibawah standar dan harus mengikuti proses lelang kuota kendaraan setiap kali potensi bangkitan jalan diumumkan.

Jika dilihat spesifikasi dan mekanisme detail masing- masing kelompok Angkutan, untuk periode waktu terdekat, kerjasama yang paling mudah dilakukan moda transportasi online adalah dengan Angkutan Umum dengan Menggunakan Taksi dan Angkutan Sewa.

(Yang ingin tahu detail Peraturan Menteri no.32 tahun 2016, berikut link nya)

Perkembangan terakhir yang saya perhatikan, Grab dan Uber mengambil jalan ini. Mereka berupaya keras mempertahankan potongan kue penyedia jasa transportasi lewat kerja sama dengan berbagai perusahaan rental mobil dan Taxi Express.

Gojek mengambil arah yang sedikit berbeda. Menurut saya, mereka justru terlihat melipir dari persaingan moda transportasi roda empat. Kembali ke akar “ojek online” mereka, seri komunikasi terakhir Gojek menunjukan bahwa mereka bertekad menjadi one stop provider segala kebutuhan harian kita. Mulai dari transportasi cepat, pesan makanan, kirim barang, hingga yang sedang mereka siapkan, jasa titip binatang peliharaan.

Sesungguhnya, saya melihat Grab dan Uber punya PR yang lebih banyak dalam upaya mengokupansi teritori penyedia moda transportasi. Selain teknologi dan aksesabilitas yang lebih baik, mereka perlu memikirkan cara lain untuk bersaing dengan para raksasa Perusahaan Angkutan Umum.

Tentu saja, supremasi secara image dan digital footprints yang mereka dapatkan dari investasi dan aktivitas marketing agresif beberapa tahun terakhir akan memberikan mereka keuntungan. Tapi, untuk kembali mendapatkan posisi diatas angin, mereka harus memainkan strategi yang sama sekali berbeda.

Jadi, saya punya beberapa ide yang mungkin bisa membantu.

Baby Friendly Car

Data yang dirilis Digiday mengatakan bahwa jumlah Millenial Mom (segmen ibu berusia 39 – 23 tahun) bertumbuh 50% dari sepuluh tahun lalu. Studi yang dilakukan Weber Shandwick dan Goldman Sachs mengindikasikan bahwa segmen ini sangat berpengaruh dalam banyak industry karena; 1. Memiliki daya beli yang baik 2. Sangat terkoneksi secara online maupun offline 3. Berpengaruh pada orang sekitarnya dalam pembelian barang atau jasa 4. Gemar berbagi informasi terkai barang dan jasa yang mereka gunakan.

Mereka tidak suka diam di rumah menonton sinetron. Mereka akan mengajak anak- anak mereka ke berbagai aktivitas luar rumah; meeting, arisan, baby gym, play class, field trip, atau sekedar nongkrong di coffee shop. Jangan lupa, mereka akan mengupload semuanya di berbagai akun social media.

Sekarang, bayangkan sebuah taksi atau mobil sewaan yang sudah dilengkapi car seat, hand sanitizer, baby wipes, bottle holder, buku cerita dan seperangkat mainan anak. Pengemudinya terlatih membuka, melipat dan memasukan stroller ke bagasi mobil. Kalau mau lebih all out, tercantum keterangan bahwa seluruh interior mobil sudah tersanitasi, audionya memutarkan lagu anak- anak, dan driver nya cosplay jadi Kak Seto.

Saya selalu keluar rumah dengan putri saya menggunakan mobil pribadi dengan alasan kelengkapan di atas. Tapi, jika ada taksi yang mampu menyediakan semuanya, saya akan memesan tanpa pikir panjang. Bahkan jika tarifnya 20% lebih mahal.

School Pick Up Car

Berdasarkan data Statistik Pendidikan Anak Usia Dini yang dirilis Kemendikbud, terjadi peningkatan jumlah lembaga pendidikan Play Group sebanyak 9- 16% tiap tahunnya dari 2011 hingga 2014. Jumlah peserta Didik meningkat sebanyak 55% di tahun 2012 dan konstan meningkat 5% di tahun- tahun berikutnya.

Ini adalah indikasi bahwa lebih banyak orang tua menyekolahkan anak lebih awal. Lebih banyak pula mobil pengantar yang berkeliaran diluar sana setiap jam pergi dan pulang sekolah. Sebab, berbeda dengan jenjang sekolah SD keatas, orang tua yang anaknya bersekolah di preschool normalnya enggan membiarkan putra- putrinya pergi dan pulang sekolah sendirian naik kendaraan umum.

Tapi, bahkan di Jakarta, saya tidak menemukan banyak preschool yang menawarkan jasa antar-jemput sekolah. Sebagai ilustrasi, dari 7 preschool yang saya survei untuk putri saya, hanya 2 yang memiliki fasilitas school bus. Sebagai ibu bekerja, ini merupakan nilai tambah yang sangat menarik.

Dari sisi sekolah, menyediakan school bus bukanlah investasi yang murah. Ada elemen budget gaji sopir, pembelian dan maintenance mobil, juga bensin. Moda transportasi berbasis aplikasi memungkinkan sekelompok anak dijemput dan diantar di satu atau dua pick up point tertentu, dan memudahkan pihak sekolah dan orang tua mentrack perjalanan anak- anak mereka via perangkat seluler.

Airbnb Pick Up Car

Airbnb is hot right now. Seiring meningkatnya belanja pariwisata dunia sebanyak 4% atau senilai 1.4 triliun dollar AS (data UNWTO Mei 2016), Airbnb mencatat peningkatan pendapatan sebanyak 900 juta dollar AS, atau 360% dibanding 2 tahun sebelumnya. Saat ini, mereka mengakomodasi lebih dari 2.3 juta properti diseluruh dunia dengan lebih dari 500 ribu stays per night (DMR stats).

Jika hotel- hotel besar biasanya memiliki paket penjemputan sendiri, tidak demikian dengan Airbnb. Padahal, untuk turis yang baru pertama kali bepergian ke Indonesia, menemukan lokasi properti Airbnb seringkali bukan hal yang mudah, terutama dengan kendala bahasa. Mereka juga sasaran empuk pengemudi taksi konvensional nakal yang memilih jalur memutar untuk mengakali argometer.

Properti Airbnb yang sepaket dengan armada penjemputan, driver yang tahu persis lokasi dan jalur terbaik menuju kesana, juga cakap berkomunikasi, akan menjadi penawaran yang sangat menarik. Terutama, setelah kini Angkasa Pura membuka kemungkinan kerjasama dengan armada transportasi online.

Demikianlah. Kalau dilihat- lihat ini semua sarannya demi menguntungkan emak- emak banget hahaha. Oh, well.

Terakhir, moda transportasi yang baik bagi penduduk kota besar nyaris sama krusialnya dengan sandang, pangan dan papan. Kita perlu sarana yang bisa diandalkan; aman, tepat waktu dan nyaman. Membuat orang malas menggunakan kendaraan pribadi tidak cukup dengan strategi Push seperti kebijakan ganjil-genap, tapi juga memerlukan strategi Pull; transportasi umum yang kondisinya tidak bak bumi dan langit dengan mobil pribadi kita. Dan moda transportasi online berkualitas, bisa jadi adalah jawabannya.

  • view 245