Jika Comic Stripper jadi Marketer

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 29 Januari 2017
Jika Comic Stripper jadi Marketer

Sebelum saya mulai, comic stripper ini maksud saya adalah komikus yang bikin komik strip ya. Bukan stripper yang itu. Ya, itu lah.

Anyway, kurang lebih sejak 2012, istilah ‘konten marketing’ mulai sering disebut oleh banyak praktisi dan agency. Konten marketing merupakan strategi untuk menginduksi sebuah brand campaign ke dalam komunikasi yang dinilai lebih bermanfaat bagi target konsumen, dibandingkan hanya sekedar iklan satu arah.

Logika di belakang strategi ini adalah, saat ini kita semakin selektif terhadap segala hal yang kita tonton, baca dan dengar. Jika tidak ada konten yang menurut kita bermanfaat disana, baik itu memberi kita informasi baru atau menghibur kita dalam bentuk apapun, pesan komunikasi tersebut tidak layak untuk mendapat perhatian. Inilah sebabnya, menurut banyak survey, efektivitas media konvensional, seperti billboard dan TV kian menurun di tiap tahunnya.

Seiring perkembangan ini, kemudian bermunculanlah apa yang disebut sebagai content creator. Jika boleh memberikan definisi saya sendiri, content creator adalah mereka yang mampu menciptakan koneksi antara brand dengan kehidupan kita sehari- hari lewat story telling dan testimoni pribadi. Content creator bisa iadi adalah blogger, vlogger, atau yang belakangan paling hits, selebgram.

Sementara itu, sejak tahun 2014, banyak komikus Indonesia yang mulai menggunakan media Instagram sebagai perpanjangan tangan untuk showcase karya mereka. Secara business process konvensional, komikus biasanya menerbitkan karya mereka lewat penerbit besar seperti Elex Media Komputindo atau RE:ON untuk volume eksemplar besar, meskipun bisa juga mereka menerbitkan komik mereka secara mandiri, jika konsep naskah komik tersebut dirasa kurang menjawab permintaan pasar saat itu oleh penerbit komersil, tentunya dengan volume eksemplar yang lebih terbatas.

Sweta Kartika, komikus Nusantara Ranger, Grey & Jingga, dan H20, serta Sheila Rooswita Putri, komikus Cerita si Lala dan Komik Kriuk, termasuk diantara mereka yang mulai memanfaatkan Instagram untuk tujuan ini di tahun 2014 dan awal 2015.

Perkembangan selanjutnya menjadi menarik karena ternyata Instagram juga mampu membuka pintu bagi para komikus dan illustrator yang lebih junior untuk menerbitkan karya mereka. Dalam hal ini Instagram menjadi platform yang sangat jujur untuk memproyeksikan sambutan publik terhadap suatu karya. Pihak penerbit memiliki market insight sebagai bahan pertimbangan sebelum mengkomersilkan sebuah karya. Hal ini seperti terjadi pada @getgoh dan @komiklieur.

Menurut saya, komik strip Instagram merupakan salah satu content creation yang menjanjikan untuk pasar Indonesia karena tiga alasan; Pertama, masih rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, (0,001% menurut survey Unesco). Sementara itu, sebuah konten visual dengan jumlah panel berkisar 2-4 memungkinkan penyampaian gagasan yang straightforward dan mudah dipahami. Banyak orang yang akan lebih suka melalap konten jenis ini daripada membaca caption yang panjang. Kedua, 62% pengguna internet di Indonesia mengakses dunia maya lewat perangkat seluler. Format social media seperti Instagram memungkinkan pengguna internet untuk mengaksesnya bahkan dengan paket kuota termurah sekalipun. Ketiga, 89% dari pengguna Instagram di Indonesia berada pada range usia 18-40. Ini merupakan range usia yang produktif dengan daya beli yang baik, sehingga sangat menarik bagi pelaku berbagai kategori bisnis.

Di sisi lain, kekuatan amplifikasi akun Instagram komik strip ini memang tidak bisa diremehkan. Akun @tahilalats memiliki 1.4 juta follower, @maghfirare 239 ribu follower dan @komikazer @134 ribu follower.

Belakangan, saya memperhatikan mulai banyak brand dari berbagai kategori yang mengutilisasi komik strip Instagram untuk melancarkan strategi konten marketing mereka. Salah satu yang memulai dan paling sukses adalah Wak Doyok, produk penumbuh bulu dan rambut. Secara natural, produk dengan unique selling point yang sangat spesifik ini sangat berpotensi mentrigger berbagai konten komik strip dengan unsur humor yang kental. Pada bulan Maret 2016, mereka mengadakan kontes komik strip dengan tagar #wakdoyokjktkomikcontest. Cukup dengan menawarkan reward sebesar Rp. 5 juta, mereka mendapatkan lebih dari 200 submission. Tidak buruk untuk sebuah produk baru dengan awareness rendah dan target market terbatas.

Nah, untuk para pemilik brand yang ingin mencoba platform ini, saya punya sedikit saran. Meskipun marketing via komik strip saat ini tergolong budget efficient, ada baiknya kita mempertimbangkan hal- hal berikut;

Fungsional, bukan Sensorial

Saat ini, komik strip Instagram memiliki keterbatasan berupa oleh ukuran media dan kualitas visual. Karenanya, menurut saya komunikasi via platform ini lebih baik menitik beratkan pada fungsi sebuah produk atau jasa, baik secara teknis maupun sosial. Produk atau jasa yang perlu di showcase dalam bentuk sensorial seperti produk fashion dan makanan tidak bisa digambarkan dengan optimal disini.

Kredibilitas Komikus

Sangat wajar jika semakin banyak follower seorang comic stripper, semakin ia kebanjiran order untuk membuat postingan berbayar. Hanya saja, jika presentase iklan dan karya dalam akunnya tidak proporsional, ia akan kehilangan kredibilitasnya sebagai seniman. Ada baiknya memilih komikus yang konsisten dengan gaya maupun pesan moral dan sosial dalam karyanya.

Engagement dengan Pembaca

Karena konten berbayar pada komik strip Instagram sudah semakin banyak, maka tidak bisa dipungkiri efektivitas per posting pun akan menurun. Menurut saya, hal yang harus diperhatikan adalah supaya produk atau jasa kita tidak sampai terlihat sebagai iklan biasa kemudian menghilang ditelan timeline. Pertimbangkan untuk bekerja sama dengan seorang komikus dalam jangka waktu tertentu, untuk lebih dari satu postingan. Selain menunjukan konsistensi pesan, si komikus juga punya ruang lebih luas untuk mengeksplorasi brand Anda.

Sebagai marketer yang juga penggemar komik, saya sangat tertarik pada perkembangan platform ini. Selain untuk kepentingan komersil seperti konten marketing, saya juga berharap agar fenomena komik strip Instagram ini juga membantu mendewasakan industri komik Indonesia.

Untuk teman- teman comic stripper di luar sana, good luck!  :)

  • view 385

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Mutia Rini kembali menghadirkan tulisan khasnya yang memang cukup berbeda dibandingkan rerata tulisan di sini; tentang pemasaran dalam balutan bahasa yang asyik dan mudah dipahami, bahkan bagi mereka yang mungkin kurang paham tentang topiknya. Kali ini, Mutia mengulas tentang tren pemasaran dan bisnis melalui ‘comic strip’.

    Ia tuntas membahas fenomena ini yang kian ‘booming’ di tengah maraknya penggunaan media sosial, terutama Instagram. Termasuk sejarah, contoh seniman komik yang sukses serta saran bagi mereka yang ingin berkecimpung di dalamnya. Informatif, kekinian, kaya isi dan asyik. Ditunggu ulasan lainnya, Mutia!

    • Lihat 1 Respon