Telolet: Apa di Balik Konten “Sampah” yang Mendunia?

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 07 Januari 2017
Telolet: Apa di Balik Konten “Sampah” yang Mendunia?

Saat masih menjadi mahasiswa Public Relations, saya belajar bahwa sebuah gagasan harus menginspirasi, mengedukasi dan menghibur untuk dapat menjadi bentuk komunikasi yang efektif dan menyentuh targetnya. Belakangan saya berpikir apakah pandangan ini masih relevan.

“Om Telolet Om” apanya yang menginspirasi, mengedukasi dan menghibur sampai bisa jadi world trending topic? :D

Trend telolet konon dimulai oleh sekelompok bocah di daerah Pantura yang menemukan hiburan dengan meminta sopir- sopir bus dan truk yang tengah melaju di jalanan depan rumah mereka untuk membunyikan klaksonnya. Apa yang menurut mereka menarik dari suara klakson telolet sehingga mampu membuat mereka menari jejingkrakan bahagia luar biasa, saya juga kurang paham. Tapi, aktivitas ini kemudian ditiru oleh banyak kelompok bocah dan remaja lainnya, didokumentasikan, dan disebarkan di ranah maya oleh banyak netizen.

Saya pertama kali membaca tentang telolet ketika fenomena ini dibahas sebagai jokes oleh sejumlah komikus strip seperti @komikfaktap dan @tahilalat di akun Instagram mereka. Yang menarik dari trend ini adalah, kita dapat dengan mudahnya menjadi bagian hanya dengan menuliskan “Om Telolet Om” di kolom komentar social media siapapun. Agaknya ini menjadi sapaan wajib sejenis “Hey, ‘lam kenal” atau “Folbek dong kakak”.

Menurut Malcolm Gladwell dalam buku Tipping Point, ada tiga hal yang akan membuat sesuatu - baik itu ide, produk maupun aktivitas – menjadi viral;

Hal pertama adalah Komunikator; sekelompok orang yang memiliki kekuatan untuk menyebarkan sebuah ide menjadi trend. Connectors – orang yang memiliki koneksi kuat ke banyak lingkaran pergaulan yang berbeda. Maven – orang yang dianggap ahli dan kredibel dalam suatu bidang. Salesmen – orang yang sangat baik menyampaikan sebuah gagasan sehingga apapun yang ia katakan terdengar menarik.

Hal kedua adalah Konteks; sebuah epidemik berkaitan sangat erat dengan situasi dan kondisi tempatnya terjadi. Hanya jika sebuah ide lahir pada ekosistem yang tepat, ia akan hidup dan mampu menyebar.

Hal terakhir disebut Gladwell sebagai Stickiness Factor, yang saya terjemahkan sebagai sebagaimana mudah sebuah ide dapat diingat atau diduplikasi.

Pada kasus telolet, ia beroleh traksi ketika di akhir bulan Desember, sejumlah DJ dan musisi terkenal dunia seperti Dj Snake, Zedd, dan Martin Garrix mulai berkicau di twitter mereka, “What is Om Telolet Om?”. Firebeatz bahkan membuat aransemen memanfaatkan video dan audio “telolet”. Belakangan, beberapa musisi Youtube seperti Kurt Hugo Schneider juga membuat hal yang sama. Mereka adalah Maven- selebritas dengan jutaan follower di seluruh dunia, dan atensi mereka untuk telolet membuka pintu dunia untuk trend ini lewat bidang yang mereka kuasai, yaitu electronic dance music. Ini membawa saya ke faktor berikutnya.

Kehebohan telolet terjadi hanya seminggu setelah penyelenggaraan event Djakarta Warehouse Project (DWP). Saat itu, netizen Indonesia masih demam electronic dance music. Mereka yang datang ke DWP masih sibuk memposting foto dan video penampilan musisi favorit mereka di berbagai akun social media. Sedangkan mereka yang berhalangan datang, tapi ingin ikut serta dalam euforia DWP dan kebetulan mungkin memang penggemar telolet, membanjiri semua konten terkait DWP dengan komentar “Om Telolet Om”. Jika diperhatikan, para DJ yang pertama kali membahas “Om Telolet Om” di social media adalah mereka yang menjadi main performer di DWP.

Terakhir, yang harus diakui adalah, telolet sticks really easily. Sama sekali tidak sulit mengingat frase “Om Telolet Om”, sama tidak sulitnya dengan menuliskannya di social media, atau kalau mau sedikit repot, mencegat bis antar kota dan berteriak minta pengemudinya membunyikan klakson. Ini adalah ide yang sangat mudah diduplikasi.  

Tapi, trend sosial yang mendunia belakangan ini memang setidaknya memiliki dua dari tiga faktor pembuat viral menurut Gladwell tadi. Ingat Ice Bucket Challenge? Trend yang ramai dilakukan di tahun 2014 ini mendunia karena memiliki 3 viral factors; dimulai oleh nama- nama high profile seperti Bill Gates dan Mark Zuckerberg, dalam konteks untuk meningkatkan kepedulian terhadap penyakit ALS di salah satu negara dengan angka penderita tertinggi di dunia, dan sangat mudah diduplikasi dengan modal hanya seember air es.

Gangnam Style tidak berkonteks dan kita tidak mengerti 90% dari lirik lagunya. Tapi, gerakan dance ini sangat lucu dan mudah dilakukan. Irama musiknya juga sederhana dan mudah diingat. Plus, selebritas dunia mulai dari Ellen DeGeneres hingga Madonna dan Hugh Jackman melakukannya.

Atau yang terbaru, Mannequin Challenge. Meskipun tidak memiliki konteks yang jelas, kegiatan ini menjadi viral salah satunya karena dilakukan Michelle Obama di White House, dan kita dapat berpartisipasi cukup dengan berpose diam tidak bergerak selama beberapa menit.

Meskipun demikian, menurut saya bisa juga sesuatu menjadi trend karena memiliki salah satu dari viral factors tadi dengan intensitas yang tinggi. Apple Pineapple Pen, misalnya. Lagu menyebalkan yang membuat saya selalu terbayang om- om berkumis bercelana cutbray ini, beroleh traksi hanya karena video klipnya yang annoying, sedikit porno tapi lucu dan sangat mudah dilakukan ulang. Meskipun, bisa juga trend ini meledak karena dimuat beberapa kali oleh portal humor terbesar dunia, 9gag.

Tapi, pada dasarnya, manusia tetap adalah mahluk sosial yang disadari atau tidak, selalu mencari cara untuk terhubung satu dengan lainnya. Trend sosial seperti ini membuat kita merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Meskipun kesamaan diantara kita hanyalah gerakan dance absurd, terasa menyenangkan menjadi bagian dari sesuatu yang besar dan terkini kan?

Secara personal, saya juga ingin menambahkan. Meskipun tidak jelas manfaat riilnya, eforia telolet mampu menyatukan banyak dari kita berapapun singkat periodenya. Ini jelas lebih baik daripada meributkan design uang baru, atribut terduga komunis dan restoran Pizza kan? ;)

  • view 333