Jadi, Blue Bird Harus Bagaimana?

Mutia Rini
Karya Mutia Rini Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 24 Maret 2016
Jadi, Blue Bird Harus Bagaimana?

Dua hari belakangan, Jakarta mencekam akibat aksi demo pengemudi taxi reguler yang menamakan diri Paguyuban Pengemudi Angkatan Darat (PPAD). Aksi ini menuntut kejelasan hukum layanan kendaraan umum berbasis aplikasi. Para pengemudi taxi reguler keberatan bersaing dengan armada berbentuk kendaraan pribadi yang kondisinya lebih baik dengan tarif yang lebih murah seperti Uber dan Grab Car.

Tapi, yang menjadi tajuk utama berita adalah aksi anarkis yang dilakukan sejumlah oknum sopir taxi Blue Bird. Mulai dari sweeping pada mobil- mobil yang diduga sebagai armada taxi online sampai menyerang sesama armada mereka yang masih menarik penumpang dan tidak berpartisipasi dalam demo. Kita terkejut karena perilaku macam simpatisan nasi bungkus itu ternyata bisa keluar dari pengemudi Blue Bird yang sebelumnya dikenal jujur, ramah dan bisa diandalkan. Aksi yang awalnya bertujuan menarik simpati, justru membawa antipati.

Statistik menunjukkan saat ini ada 3.5 juta orang yang bepergian setiap harinya di kawasan Jabodetabek. 2.4 juta bekerja atau belajar di Jakarta. Sementara itu, di Jakarta tercatat hanya ada 37 ribu armada taxi konvensional per tahun 2014. Secara presentase, jumlah ini hanya mengcover 1.5% dari kebutuhan. Saya pernah berdiri mengantri di taxi stand kantor saya selama hampir 2 jam saat waktunya pulang kerja. Sambil lapar dan ingin pipis. Miris.

Itulah alasan utama layanan taxi berbasis aplikasi disambut sangat baik di Jakarta. Ada demand untuk kendaraan umum yang aman, nyaman dan bisa mendatangi kita dengan cepat. Saat ini warga Jakarta secara umum lebih memihak taxi online karena mereka menawarkan solusi yang sudah lama dicari. Siapapun yang mempersulit perkembangan positif ini akan dianggap pihak antagonis.

Kembali ke kasus Blue Bird. Aksi anarkis sejumlah oknum pengemudi mereka tak lain adalah bentuk keresahan- takut sumber penghasilannya terganggu. Hanya saja, keresahan karyawan biasanya merupakan cerminan kondisi internal perusahannya. Entah pihak manajemen yang tidak mampu meyakinkan karyawannya bahwa bisnis berjalan stabil dan semua akan baik- baik saja, atau ada kepentingan yang dititipkan dalam aksi demo kemarin ini. Karena menurut saya, tidak mungkin demo berjalan tanpa restu manajemen. Yaelah, demonya aja pake aset perusahaan gitu.

Saya sebenarnya kurang setuju pada pendekatan yang dipilih Blue Bird untuk menyelesaikan situasi ini. Memang sehari setelah kericuhan di hari Selasa (22/03/2016), mereka menggratiskan seluruh layanan Blue Bird sebagai permintaan maaf. Yang justru membuat saya berpikir; kalau mereka mampu melakukan ini sebagai tindakan reaktif, kenapa tidak dari dulu melakukannya sebagai promosi untuk menjaga posisi mereka tetap top of mind?

Yang menurut saya salah adalah pernyataan resmi yang mereka release ke media, terutama bagian berikut;

Jika netizen memiliki bukti (foto/video) keterlibatan pengemudi kami, Mohon dapat dilaporkan via email ke customercare@bluebirdgroup.com.

Bukti ini kami perlukan karena yang menggunakan seragam biru tidak hanya Blue Bird. Kerugian yang disebabkan karena diturunkannya penumpang secara paksa juga dapat dilaporkan kepada kami.

Statement ini berpotensi menjadi blunder karena; Pertama, ada impresi menghindar dari tanggung jawab. Ya, yang berseragam biru bukan hanya Blue Bird. Tapi sudahlah, berbagai media massa telah mengupload banyak foto aksi anarkis sekelompok orang berseragam batik burung biru secara real time, sehingga susah rasanya mau salah tuduh. Kedua, lebih besar kemungkinannya netizen mengupload foto- foto kericuhan di social media mereka. Ini justru menyebabkan bad word of mouth lebih cepat menyebar. Ketiga, pernyataan ini menambah informasi bahwa ada penumpang yang ikut dirugikan. Secara komunikasi digital, statement sejenis ini adalah sasaran empuk cyber bullying.

Jadi, apa yang sebaiknya mereka lakukan? Prioritasnya tentu saja menyelesaikan publisitas negatif ini terlebih dulu. Secara terbuka, informasikan proses pemberian sanksi pada para pengemudi anarkis. Sanksi tegas dari Blue Bird menunjukkan itikad baik untuk menjaga integritas dan komitmen bahwa mereka akan selalu memberikan yang terbaik bagi konsumen. Lagipula, sudah tidak ada yang mau disupiri orang- orang menakutkan ini. Just let those people go, and let everyone knows you do it.

Selanjutnya adalah tentang step your game up. Angin sudah berubah arah, dan sebagai pemimpin pasar, Blue Bird harusnya bisa bermain lebih cantik dalam upaya menunjukkan supremasi.

Ayolah, Blue Bird. Kalian sudah membangun kredibilitas sejak tahun 1972 dan langganan menang Top Brand Award. You can do better than this.

Di era ini, yang terpenting adalah memastikan aktivitas promosi kita memiliki substansi dan mencolok, sehingga layak untuk diperbincangkan. Izinkan saya menyarankan beberapa hal;

Share A Cab and Get Discount

Sesekali bantulah Pak Ahok mengurangi kemacetan Jakarta dengan mengajak lebih banyak orang naik kendaraan umum. Dengan strategi berbagi taxi untuk mendapatkan diskon, Blue Bird menarik mereka yang biasanya keberatan naik taxi karena tarifnya, sekalian promosi dan menyebarkan berita positif.

Surprise Celebrity Driver

Pengemudi adalah faktor penting dalam bisnis taxi karena merepresentasikan institusi secara langsung. Tapi, seringnya mereka malah kurang berkomunikasi dengan konsumen. Kejutkan kami dengan sopir yang ternyata selebritas, rekam dengan kamera tersembunyi, lalu jadikan viral. Saya request Rio Haryanto. Lalu saya mau ikut Mas Rio pulang :D

Taxi Mileage Program

Mekanisme penghitungan mileage bisa memberikan Blue Bird image premium karena sangat asosiatif dengan?program maskapai penerbangan. Sistem penghitungan bisa ditanam di aplikasi. Setelah mileage cukup, bisa ditukar dengan upgrade ke Silver Bird, misalnya.

Co Creation Cab

Banyak korporasi besar yang melirik taxi sebagai sarana iklan. Puluhan ribu armada yang dinaiki jutaan orang tiap harinya selama lebih dari lima menit sekali trip sangat menarik dari sisi consumer engagement. Coba lebih kreatif meramu advertisement spot di armada kalian. Misalnya kerja sama dengan IKEA untuk membuat guerilla marketing?berupa interior taxi super homey.

Udah ah, segitu aja. Kalau mau lebih banyak saya harus dibayar *lah dagang.

Saya tidak yakin aksi demo kemarin akan berujung pada penutupan total sarana transportasi umum berbasis aplikasi. Penyesuaian tarif mungkin, tapi jangan menutup mata bahwa masyarakat memerlukan mereka, karena ya, armada yang sekarang memang belum cukup untuk menampung.

Jadi, saran terakhir saya untuk perusahaan taxi reguler secara umum adalah; jangan pelit dan jangan malas. Jangan pikir posisi kalian aman karena sudah menjadi pemimpin pasar, punya izin usaha dan trayek, blablabla. Supremasi bisnis tetap harus dijaga dengan berbagai strategi kreatif dan service yang mumpuni. Step your game up, tidak ada pilihan lain.

Oh ya, satu lagi. Tolong dong sopir- sopirnya dididik supaya hapal jalan, tidak judes apalagi bau badan, hobi pipis sembarangan dan tawuran. Bhay.


  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Bagaimana ya? Sepertinya sudah sebagian di jawab oleh mbak.. :-)

  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Iya, sy bukan org jakarta. Jika saya dinas ke jakarta sya pasti naik Blue Bird, berharap aman dan sopirnya tau jalan (tdk diputer2 tak tentu arah) tapi, tak jarang mereka tak tau jalan. Ampun saya, ditambah lagi demo yg barus saja terjadi, terasa menakutkan. Semoga Blue Bird lebih baik lgi ke depannya. Mksi mba untuk ulasannya yg menarik.

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Enak sekali dibaca. Q malah jarang bgt naik taksi mba. Bisa di itung. Hihihi

  • B.R. Karya 
    B.R. Karya 
    1 tahun yang lalu.
    Ide-idenya mantap sekali mbak!