NOSTALGIA

Mutiara Mutiara
Karya Mutiara Mutiara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Juni 2017
NOSTALGIA

Dari sudut kanan teras rumah, mereka  anak-anak berur belasan tahun terlihat tengah menikmati skenario yang telah di rancang khusus untuk mereka, dan mereka itu pemeran yang cubup baik.

Matahari enggan menampakan kehadirannya dengan terang-terangan, dia terlihat malu, bersamaan dengan kicauan burung yang bersenandung pada pepohonan rindang. Tak lantas menghibnotis dua hati yang tengah bergelak.

"ahahaha.. kamu itu lucu yaa"

"dih kok akunya yang lucu!?, aku bukan badut loh ul, mungkin yang kamu maksud itu gurauanku"

"siapa bilang kamu bukan badut!?, kamu ini ngga punya kaca di rumah?, kalian terlihat mirip, jelas bukan karna gurauan"

Rio memasang mimik yang memikat, dengan seringaian yang di maknai tak terdefinisi oleh lawan bicaranya.

"kamu tak lihat, aku ini orang tampan dan imut, mana mungkin trlihat sama dengan badut jelek itu"

Dengan kepercaya dirian, Rio menyampaikan apa yang di rasa benar. Ula merespon perkataan Rio dengan senyum manis beserta beberapa kalimatnya .

"iya si imut, tapi masih kalahlah sama pengamen angkutan, ahahaha.. badut mana ada yang tampan!?" 

Rio membenamkan wajahnya ke arah kiri, berlawanan dengan keberadaan ula.

Pandangan Rio kini berbalik ke arah Ula, dengan tangan menyisir rambut bagian atas dan tak lepas dari senyum memikatnya, di lanjut dengan permainan mata genitnya.

Ula terpaku, dia tak bisa memainkan kata-katanya lagi, yang dia bisa hanyalah memompa detak jantung, sampai begitu sulit di kendalikan.

"ula, hey ula, ulaaaa"

"i..iya, ada apa?"

"kamu terpesona dengan ketampananku inikan?, eaks..eaks..eaks, aku tau aku punya pesona yang memikat"

"iish apaan si, nggalah.. mana mungkin aku terpesona"

"itu buktinya, tubuhmu terpaku saat memandangku, dan pipimu merah merona"

"umm itu.. itu"

"sudahlah manis, kamu tak bisa memungkiri, aku cukup mengenalmu"

"apaan si rio, manis?, kamu ingin menggodaku"

ula tersenyum..

"tidak juga, emang benarkan. kamu manis, semua orangpun tau. sampai-sampai aku ingin mengemutmu seperti permen gula"

"rio hentikan, kamu membuatku malu"

"wha.. lihat, kamu terlihat begitu manis dengan rona di pipimu"

"rio.. kau ini benar-benar membuatku jengkel"

Kedua tangan ula mencubit pipi rio dengan gemasnya, sampai rio terperanggah dengan sakitnya.

"ula..ula ini sakit, tolong hentikan. kalau tidak di hentikan, maka aku akan"

"akan apa?"

"menciummu!"

"hei kau gila, aku ngga mau punya teman sepertimu, kau menjijikan"

"tapi kamu sukakan!?"

Plakkk.. tangan Ula mendarat di pipi mulusnya Rio. Ula berlari kecil menjauh dari keberadaan Rio. Rio mengejar Ula, tapi amat di sayangkan, Ula telah membenamkan diri di balik pintu rumahnya.

Di ketuk rio pintu rumah Ula..

"ula aku ini bercanda, kamu jangan marah dong. aku ngga ada niat untuk perkataan tadi"

"ula,, tolong dengarkan perkataan aku ini"

Ula hanya mematung di balik pintu, dengan amarah yang tak kunjung padam, dia sadar betul Rio mengatakannya dengan sungguh, dan dia sangat tidak suka. Karna dia rasa itu telah melampaui batas persahabatannya. Sampai Ula berniat mematahkan rantai persahabatan yang telah lama di bangun.

Ibu menghampiri Ula..

"ula kamu ada apa dengan rio?, dia memanggilmu tapi tak kau hiraukan?"

"ngga bu ngga ada apa-apa, ula hanya membencinya karna satu kesalahan"

"loh kalian itukan teman baik, mengapa satu kesalah bisa mematahkan?"

"ibu ngga tau, dan mungkin ngga akan pernah tau"

"kamu takmau membaginya dengan ibu tak apa-apa, tapi jangan seperti ini. kasian rio"

"yang anak ibu itu siapa?"

Ibu hanya diam, tak ingin membuat anaknya lebih beremosi lagi. 

Ula berlari menuju kamar, dia hanya memandangi langit-langit kamarnya.

 

Sudah satu bulan lamanya, semenjak kejadian di teras rumah itu, Rio membujuk Ula untuk berbaikan, namun hasilnya nihil.

 

Dua bulan kemudian Rio mengunjungi rumah ula kembali untuk berpamitan, respon ula masih sama, tak ada, hanya Ibu ula yang memberikan perhatiannya pada Rio.

Rio pindah karna tuntutan pekerjaan Ayahnya.

Bukan berarti Ula tak perduli, diapun perduli dengan kepergian Rio, tapi rasa kecewanya mengurungkan niatnya untuk menjumpai Rio, dia hanya memperhatikan di balik jendela kamar tanpa bersuara, namun terlihat butiran bening mengalir deras di pipinya, karna kesedihan yang tak dapat di bendung.

                                         ***

"hei.. ula, kok lo nangis sambil ngelamun gitu!?, ayok lanjut ceritanya, gua penasaran nih!"

"eh cha kamu ngga liat dia nangis ke gitu, udah ula ngga usah kamu lanjut lagi ceritanya, itu malah bikin kamu tambah nyesel"

"ups, maaf yaaa ula. gua ngga begitu peka, yaampun lo jangan nangis lagi, maafin gua"

Terlihat di ruang kamar, dua orang sahabat tengah memeluk ula. Ya kejadian sembilan tahun yang lalu telah membuat Ula menyesali perbuatannya pada Rio, sampai sekarangpun dia merasa kehilangan sosok yang selalu di rindukan, hanya sepenggal cerita yang mengisahkannya bersama rio..

"rio kau dimana?, aku merindukanmu?,_ aku benar-benar minta maaf telah mencampakanku, kembalilah rio.. "

  • view 54