cinta yang sebenarnya

Mutiara Mutiara
Karya Mutiara Mutiara Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Maret 2017
cinta yang sebenarnya

hari yang begitu melelahkan, 

menilik ke berbagai masalah,,, hanya membuatku larut dalam kegelisahan dan  kegusaran. begitu rumit memang jalan cerita di kehidupan nyata, kita harus melewati berbagai jalan buntu nan berliku, juga di sertai bermacam halang-rintang. sampai beberapa orang lebih memilih mundur ataupun hanya berdiam diri tanpa berusaha.

prihal kehidupan nyata di atas,, apa kesannya berlebihan?, untuk jawabannya yang pasti kalian punya penilaian masing-masing. berbicara mengenai berlebihan,,, sesuatu yang berlebihan itu sungguh tidak baik bukan?, dan hal tersebut tentu memiliki dampak yang buruk. seperti sebagian pengalaman yang mengisahkanku..

terbuai aku dalam kesementaraan, membuat aku melupakan jati diriku yang sebenarnya, aku yang dulu berusaha menghargai waktu untuk mengabdikan diri pada Sang Kuasa, kini telah berpaling dan menjerumuskan dirinya. mungkin inilah jawaban pasti,,, yang telah Dia rencanakan untuk orang-orang sepertiku, orang yang menitik beratkan urusan dunia.

di kemudia hari, aku mulai menjatuhkan pilihan terhadap orang yang tidak tepat. dia bukan laki-laki jahat, bukan pula laki-laki pembohong, bukan pecundang, dan semua bentuk karakter yang buruk tidak terdapat pada dirinya, dia sungguh laki-laki yang memiliki budi-pekerti yang baik.

seiring berjalan waktu,,,, aku berubah, perubahan dalam diriku ini bukan sepenuhnya dia yang mempengaruhi, tapi ini buah tanganku. aku selalu asyik ketika bercakap dengannya, sampai melupakan waktu wajib beribadahku. dia, laki-laki itu tak lupa mengingatkanku untuk itu, tapi aku sedikit melontarkan kata yang meminta untuk menunda waktu wajib beribadahku, sampai aku menundanya dalam kurung waktu yang teramat lama, hingga kemudian menjadi rutinitas beribadah yang tertunda.

waktu berjalan beriringan berdasarkan porosnya. tiba-tiba orantuaku mengatakan sesuatu yang tujuannya melarang anaknya ini untuk berhubungan dengan dia yang memiliki perbedaan kepercayaan. sangkut paut terhadap agama, kami menganut agama yang sama, yang membedakannya itu hanyalah golongan, namun golongan agama yang kami anut iniii sangatlah bertolak belakang, dan tentu dari masing-masing pihak kami memegang teguh kepercayaannya masing-masing. kami mengambil keputusan yang menurut kami cukup sulit, kami memilih untuk berpisah dan menjalankan keseharian yang dulu sebelum mengenal satu-samalain. 

rasanya sungguh menyakitkan,  sedih, juga hampa, berkeyakinan untuk bisa terus bersama,,,  menjadi teman hidup, namun nyatanya Sang Kuasa berkata-lain. Sekarang aku sadar.. mungkin Sang Kuasa tidak suka melihat aku yang  memalingkan diri terhadapnya, dan terlalu berharap pada keadaan dengan perasaan yang kian memuncak, hingga bertahap aku memudarkan kecintaanku terhadap-Nya. Dan aku rasa Dia menyadarkanku dengan pelantara orang terdekat pada waktu yang tepat, sungguh Dia menyayangiku (menurut sekeyakinanku), Dia tidak ingin perasaanku jatuh ke dasarnya, sampai aku tidak bisa lagiiii mematuhi perkataan orangtuaku, dan pergi memilih laki-laki itu.

Terimakasih Ya-Allah, Love you

  • view 103