Atribut Pilkada Imam-Mondir Nempel di Tempat Ibadah, NITIZEN KESAL!

musthofa yaqin
Karya musthofa yaqin Kategori Agama
dipublikasikan 08 Januari 2018
Atribut Pilkada Imam-Mondir Nempel di Tempat Ibadah, NITIZEN KESAL!

Bangkalan - Baru-baru ini tengah beredar suatu acara kampanye yang dilakukan oleh salah satu calon Bupati Bangkalan yang diletakkan di masjid. Ada kesan yang mendalam dari publik masyarakat Bangkalan. Sayangnya, kesan itu dilontarkan secara pedas oleh nitizen di sosial media. Mereka mempersoalkan pelaksanaan kampanye yang digelar di masjid, terutama ketika ada benner terpampang di dalam masjid dan menutupi tempat imam. Beragam cercaan dan kritikan dilontarkan oleh publik nitizen bahkan secara terang-terangan menyebut bahwa pelaksanaan kampanye di dalam masjid telah melunturkan dan menodai agama dengan mengubah fungsi masjid, yang awalnya sebagai tempat ibadah malah dijadikan tempat bagi agenda dan kepentingan politis.

"Sungguh sangat tidak pantas apa yang dilakukan paslon Pilbup Bangkalan Imam Buchori Cholil dan Mondir A Rofii itu. Masjid sebagai tempat beribadah yang sifatnya spiritual, kini telah berubah fungsi menjadi tempat kampanye yang bersifat politis. Padahal mereka merupakan figur masyarakat (kyai) yang seharusnya membimbing ke jalan yang benar," tulis Rofi** Hadi dalam akun facebook-nya. Apa yang ditulis Rofi** Hadi itu bisa dimengerti sebagai kegelisahan tersendiri dari publik nitizen akan adanya bentuk kampanye yang menyalahi norma dan adat keberagamaan masyarakat Bangkalan, begitupun dengan masyarakat Islam secara umum.

Komentar dengan nada sama juga dilontarkan oleh pengguna akun facebook Diha* RB yang juga nampak kesal dengan bentuk kampanye di masjid. Diha* RB menulis dengan bahasa Madura, "Lakar lok pateh teppak makeh mak kaenah tretan tempat imam di ttup dengan bener masaalloh paya okkal raaaaaaa kocca jiah sabek bebenah lencak roh todus ejelling oreng benyak (Memang tidak benar walaupun kyainya saudara tempat imam ditutup dengan benner masyaAllah payah buka saja itu letakkan di bawah ranjang malu dilihat orang banyak)". Begitulah kekecewaan yang dirasakan Diha* RB bahwa dirinya malu lantaran kampanye yang dilakukan oleh kyai atau tim suksesnya yang sudah meletakkan benner dengan ukuran besar sehingga menutupi tempat imam.

"Boleh berpolitik, tapi mohon maaf dengan Hormat Jgn masjid dijadikan tempatnya... Ini kalau menurut saya orang awam... Karna kurang begitu sopan dan juga bukan tempatnya untuk dijadikan sperti itu..," tulis Rid** A, memberikan pernyataan kekesalannya meski dalam bahasa yang halus kepada bentuk kampanye yang dilakukan oleh paslon Imam Buchori Cholil dan Mondir A Rofii karena sudah tidak sopan dan dirasa bukan tempatnya. Lebih dari itu, dari saking geramnya bahkan ada nitizen yang menyumpahi agar pasangan calon bupati tersebut tidak jadi. "Kampanye dek masjid???Semoga gagal," tulis Sal* Bat*** dalam komentarnya di facebook.

Ada juga yang menyindir secara nyinyir dari salah seorang nitizen yang mengatakan dengan "Masjid utk beribadah bukan utk berpolitik atau kampanye ken lok andik pecce nyewa hotel lekah utk deklarasix ta'iyeh (Masjid untuk beribadah bukan untuk berpolitij atau kampanye memang tidak punya uang nyewa hotel aja untuk deklarasinya ya)," tulis Raf*** dalam komentar akun facebooknya.

Namun demikian, ada nitizen yang membela dengan menyebutkan bahwa hal itu bukanlah kampanye, melainkan temu keluarga yang dilakukan di musholla. Hanya saja, benner politik yang meletakkan nama calon bupati Imam-Mondir menjadi kekesalan tersendiri dan kurang elok dilihat bagi masyarakat karena dianggap tidak lazim dan sampai menutupi tempat imam atau Mihrab. Sehingga, masyarakat merasa kesal dan tidak terima dengan adanya benner di tempat ibadah.

  • view 39