12 Tahun Kepergiannya

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Maret 2016
12 Tahun Kepergiannya

Hari ini, 17 Maret, tepat 12 tahun kepergiannya. Kembali ke sana. Memenuhi panggilan Tuhan, ?menuju keabadian.

12 tahun yang panjang, hari-hari yang kujalani dalam kehilangan. Sosok paling kuhormati. Seorang kakek, guru, juga ayah bagiku. Kakek yang juga kuanggap sebagai ayah, pengganti sosok ayah yang tak membersamaiku.

Kesedihan yang pilu, kehilangan yang tiba-tiba tanpa tanda. Hari kelam itu amat kuingat hingga titik koma, sedetal-detailnya. Kepergiannya terjadi di masa aku bukan kanak-kanak lagi. Aku sudah remaja dan sudah mulai mengerti tentang dunia. Sehingga aku bisa merasakan. Betapa aku kehilangan pijakan, kehilangan sandaran, kehilangan penunjuk arah tujuan.

Kakekku, adalah orang yang telah mengajariku banyak hal. Mengeja Alif- Ba-Ta, menghafal berbagai do'a, hingga fasih mengaji, semua karena bimbingannya. Betapa banyak bekal hidup yang telah dia tancapkan di jantung hatiku, kokoh dan dalam.

Tentang berbagai kebajikan, kejujuran, pentingnya belajar dan berusaha dalam mencapai semua impian. Dialah yang memberiku semangat, memberiku banyak kekuatan, memberiku banyak keberanian untuk bermimpi dan berprestasi.

-Kita mungkin menghadapi banyak kesulitan, tapi kita pantang menyerah dan putus asa.

-Yang terpenting dalam hidup adalah kaya hati. Hanya dengan itu kita bisa bahagia. ?Sedangkan harta hanya bonus yang sifatnya melengkapi.

-Kita harus selalu bersyukur, apa pun keadaannya.

-Jangan pernah tinggalkan shalat. Selalu ingat Tuhan yang menciptakan.

Itulah sebagian kecil dari nasehatnya yang selalu kuingat dan menjadi pegangan kehidupan. Begitu banyak nasehat berharga. Bergema di semesta jiwa.

Kakek memang sudah pergi, 12 tahun berlalu sejak hari kelam itu, mungkin raganya sudah menyatu dengan bumi. Namun jiwanya tetap hidup, abadi di hati.

Bahwa dirinya adalah orang yang paling berbahagia sebab dia telah mewariskan banyak kebajikan, bekal hidup yag tak ternilai harganya.

Maka setiap 1 huruf terucap dalam bacaan shalat, setiap 1 huruf yang terucap dalam lantunan ayat-ayat Qur'an, ada hak pahala baginya. Berharap setiap untaian do'a, menjadi suluhnya di perut bumi yang gulita.

~

12 tahun sudah kukandung rindu padamu, Kakek.

Semoga selalu lapang dan benderang barzakh-mu...?

Semoga Allah selalu menyayangimu sebagaimana kau menyayangi aku hingga akhir usia.

Semoga kelak kita berkumpul lagi di Surga-Nya.

Aamiin ya Robbal 'alamiin ....

~

#MR, Dalam semesta kenangan, 17.03.2016

Gambar diambil?di sini

  • view 123