Sarjana Tidak Wajib Melamar Kerja

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 13 Februari 2016
Sarjana Tidak Wajib Melamar Kerja

Selama 4 tahun menggeluti jagad entrepreneurship, aneka respon saya dapatkan.

Banyak orang yang mendukung, tapi ada juga yang terkesan meremehkan.

Pernah ada yang bilang begini, "untuk apa sekolah tinggi, kalau gak jadi PNS/kerja kantoran?"

?

Apakah saya tersinggung mendengarnya?

Tidak, karena saya memaklumi bahwa:

Orang yang berpikiran seperti itu adalah orang yang memiliki sudut pandang terbelenggu.

Saya justru merasa kasihan,

Dunia demikian luas tetapi mereka hanya memandang ke satu arah tujuan yang mereka anggap paling benar, dan mereka bahkan tidak menyadari itu.?

Kasihan sekali.

Padahal, tujuan sekolah tinggi bukan sekedar untuk melamar kerja, jadi PNS atau kerja kantoran. Seorang sarjana tidak wajib kerja kantoran. Tidak ada yang mengharuskannya seperti itu. Bahkan, seorang sarjana tidak wajib melamar kerja. Justru dia harus mampu menyediakan peluang atau lapangan kerja, minimal bagi dirinya sendiri.

Berbekal pemikiran seperti itu, alih-alih melamar kerja, sehabis wisuda saya lebih memilih merintis usaha mandiri. Bukan karena saya tidak mampu bersaing, tapi itulah yang saya inginkan. Menjadi mandiri.

Tapi, tidak semua orang berhasil memahami pemikiran saya.?

4 bulan pertama ketika masih merangkak memulai usaha, bahkan seorang kawan ada yang berkomentar seperti ini,?

"Saya lebih memilih bekerja kantoran. Alasannya, orang kantoran itu lebih berwibawa dan bermartabat daripada pengusaha. Orang kantoran masa depannya jelas dan pasti karena segala sesuatunya ditanggung negara."

Saya katakan bahwa pandangan seperti itu salah besar. Wibawa dan martabat tidak ditentukan oleh status pekerjaan, tetapi dari tingkah laku, akhlak, dan kekayaan nila-nilai yang mendasari hidup kita.

Mungkin dia tidak sadar, "masa depan jelas dan pasti" yang dia dapatkan itu berasal dari duit pajak yang juga turut dibayar oleh para pengusaha. Bahkan para pengusaha adalah penyumbang pajak terbesar kepada negara Indonesia tercinta.

Lagi pula, menjadi pengusaha itu tidak mudah. Jika mudah, tentu semua orang sanggup melakukannya. Menjadi pengusaha itu berkarib dengan resiko besar dan ketidakpastian. Hanya orang-orang berani saja yang sanggup menantang ketidakpastian itu!

?

#MR, mengenang perjalanan, 13.02.16

Gambar diambil?di sini