Bisikan Rumput

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Motivasi
dipublikasikan 05 Februari 2016
Bisikan Rumput

Kembali kutapaki padang ini. Selayak hari-hari lalu, melepas belasan raga. Seketika aroma menyapa indera. Hembuskan risalah, tentang takdir yang memaksa hadirku di sini. Dan aku tak punya pilihan. Aku harus mengakrabi suratan.

?

Peluh ini tetap setia. Alirkan residu duka mengerak di dasar jiwa. Pernah terlintas 'tuk layangkan secarik gugat pada-Nya. Aku ingin seperti bocah-bocah lain yang bermain dengan gembira, tak ada duka pada wajah mereka. Namun, aku selalu berakhir di sini, menjaga raga-raga gembala hingga senja merangkul jingga. Memastikan tiap raga kenyang. Sedangkan mereka, bocah-bocah yang seharusnya kuakrabi, menontoniku dengan ledek tawa, "Anak bau kambing!" sungguh memekak, melukaiku. Dukaku menderas.

?

Tahukah? Aku ingin menjadi hebat. Namun apa dayaku? Aku sebatang kara, memagut segenap duka. Tak ada tempat kupulangkan tangis. Hanya pada bentangan rumput kuhempas segala ratap. Sempurna kugugat Dia, yang memikulkan terlalu banyak beban pada pundak kecilku yang rapuh. Aku tak kuat.

?

Namun, aku tak punya pilihan. Kutelan segenap kepahitan. Hanya tangis yang mampu sampaikan pedih hatiku. Hingga pada suatu senja, dalam isak tangis, kulihat rerumput melambai. Memanggilku mendekat.

?

Lalu, kudengar ia berbisik, "Jangan meratap, bocah. Hiduplah sepertiku. Hinaan tak membuat aku rapuh. Aku diinjak, dipangkas, dicabut. Aku tidak diinginkan. Tapi aku tak menyerah. Aku tak mau mati. Bangkitlah! Hapus air matamu. Lawan mereka yang menghinamu. Tanpa benci. Tunjukkan kau pantas mendapatkan hidup seperti mereka. Jangan kalah!"

?

Lalu aku bangkit, bersama bisik rumput yang terus menggema di semesta jiwa. Aku bangkit, berlari, ingin kugapai mimpi-mimpi. Aku jelata tanpa naungan ayah, tanpa dekapan bunda. Ingin menjadi sejiwa megah. Mereka menggelak tawa, berteriak sadis, "Kamu tidak mungkin bisa!"

?

Namun, rerumput terus berbisik, "Jangan dengar mereka. Berlarilah ke tempat-tempat jauh. Kau akan sampai ke puncak. Dan mereka akan bungkam."

?

Tahun-tahun berlalu, masih setia kutatap barisan hijau yang membentang. Adaku di sini bukan lagi keharusan. Aku sedang ingin berada di sini, nikmati jingga senjakala. Menyusuri peta waktu. Mengingat masa lalu. Betapa bentangan hijau yang kuakrabi ini adalah sahabat yang paling mengerti dukaku. Darinya kuserap semangat. Hingga aku mampu buktikan diriku.

?

Ya ..., kini aku telah membungkam gelak tawa mereka. Dan rerumput tersenyum jumawa, berhasil mengasuh jiwaku setegar dirinya yang tak pernah sudi menyerah kalah.

#MR, Renungan Senja

  • view 134