Melapangkan Sebuah Kehilangan

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Renungan
dipublikasikan 11 Mei 2017
Melapangkan Sebuah Kehilangan

Seseorang bisa hidup begitu lama, yang lainnya hanya punya umur yang singkat. Tak sedikit yang harus kembali bahkan sebelum sempat sampai di dunia ini ....

Saat banyak orang merayakan kelahiran-kelahiran baru yang bahagia, tak sedikit yang menangisi kepergiaan orang terkasihnya, bahkan sebelum sempat berjumpa di dunia, tanpa pernah tahu rupa batang hidungnya.

Saat kita begitu bahagia merayakan hidup bersama orang yang kita cinta, tiba-tiba takdir menjauhkannya dengan paksa, tanpa pernah kita duga.

Mungkin tak sedikit yang bertanya-tanya, dalam keterpurukan dan kesedihannya, "jika Tuhan hanya akan menitipkannya sebentar, mengapa harus diciptakan?"

"Bukankah lebih baik tidak pernah ada, daripada mengakhirinya dengan menyedihkan?"

"Jika pada akhirnya harus berpisah, kenapa Tuhan mempertemukan?"

 

Tuhan mungkin akan menjawab, "Aku melakukan apa pun yang Aku kehendaki. Kau tak punya hak mendikte kehendak-Ku."

Nyatanya, Tuhan memang selalu berbuat sesuai yang Dia kehendaki, tanpa intervensi. Mutlak kehendak-Nya, mutlak kuasa-Nya.

Namun, semua yang Dia lakukan, semua yang Dia kehendaki, tidak terjadi begitu saja tanpa rencana matang. Tuhan tak pernah asal menciptakan. Tuhan tak pernah asal membiarkan semua hal terjadi begitu saja. Segalanya terukur dan terarah. Semuanya tertulis dalam rencana yang rapi, dengan jalan cerita yang sudah ditentukan oleh-Nya.

Dan segala sesuatu yang Tuhan berlakukan, sesungguhnya bertujuan untuk menunjukkan kasih sayang-Nya pada setiap yang Dia ciptakan. Semua yang Dia lakukan, semua yang Dia kehendaki, adalah demi kebaikan seluruh makhluk-Nya. Semua ada maksudnya, semua ada hikmahnya, semua ada tujuannya.

Tuhan tidak pernah bermaksud mendzalimi makhluk, tidak bermaksud membuatnya sedih atau menderita.

Hanya saja, kapasitas akal dan pikiran kita yang terbatas, tidak selalu mampu menjangkau ke sebalik semua yang terjadi. Hikmah yang masih ghaib itu, tidak selalu mampu kita temukan begitu saja dan tiba-tiba. Semua ada prosesnya.

Sering kali kita salah dalam menyikapi sebuah kesedihan atau kehilangan. Dalam sudut pandang kita sebagai manusia, mungkin kesedihan itu terlihat pahit. Bahwa kita kehilangan orang yang berharga dalam hidup kita. Bahwa Tuhan telah merenggut salah satu alasan kebahagiaan kita.

Padahal, maksud Tuhan tidak begitu. Bahwa hal yang kita anggap sebagai sebuah kehilangan, bagi Tuhan adalah sebuah kebaikan. Yang akan menjadi gerbang untuk datangnya kebahagiaan lain yang lebih baik dan lebih besar.

Hanya saja, kita sering terlanjur menangkap hal-hal negatif, melihat hal-hal negatif dengan prasangka yang buruk terhadap sesuatu yang -kita anggap- buruk terjadi dalam hidup kita.

Kita terlanjur jatuh di dalam kubangan dalam yang keruh hingga tak mampu melihat dengan jelas, dan kita terlanjur kehabisan napas, memenuhi ruang hati kita dengan segala kekeruhan yang semakin mengacaukan sudut pandang. 

Sehingga kita tidak mampu melihat yang sesungguhnya dengan jelas.

Kita tidak mampu melihat maksud di sebalik semua yang terjadi. Karena kita sudah meracuni hati dan pikiran dengan prasangka kita sendiri.

Padahal, di atas sana, Tuhan sesungguhnya sedang menyaksikan dan menilai. Sejauh mana kita mampu menghadapi, bersabar, dengan semua ketetapan-Nya. Sejauh mana kita mampu menerima dengan ikhlas, tanpa banyak tanya, tanpa menuntut kepada-Nya.

Bahwa kita benar-benar mengimani kekuasaan Tuhan, bahwa kita benar-benar percaya kepada apa pun yang Tuhan berlakukan. Bahwa Tuhan tak pernah bermaksud menyakiti kita. Bahwa Tuhan akan selalu memberikan yang terbaik bagi kita.

Tuhan ingin melihat semua itu terpancar di hati dan pikiran kita.

Ketika kita sudah sepenuh jiwa raga mengimani segala sesuatu tentang Tuhan, maka apa pun ujian yang Dia berikan, tak akan mampu membuat kita tersungkur jatuh.

Ketika semua kesedihan menjadikan kita semakin mesra dengan Tuhan, maka Tuhan akan menyibak semua jarak antara diri-Nya dengan kita.

Kita bahagia mencintai-Nya, Dia akan membahagiakan kita dengan cinta-Nya.

Seberat apa pun beban hidup atau kesedihan yang menyayat hati, kita tahu, pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Semua ada masanya.

Sebesar mana kesedihan, seberat mana ujian, ketika kita mampu bertahan untuk tetap menggantung di buhul-Nya, maka kita akan semakin kuat dan semakin tegar bersinar.

Bersabarlah dan tetap baik sangka ...

Tuhan selalu punya cara untuk menyampaikan maksud baik-Nya ...

#MR, 11.05.17

Renungan malam, 15 Sya'ban 1438H

Gambar diambil di sini

  • view 191