Aku dan Kamu

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Maret 2017
Aku dan Kamu

Terkadang, kita perlu melapangkan hati, berdamai dengan keadaan.

Bahwa tidak selamanya kebersamaan melingkupi hidup kita. Ada saatnya ketika aku jauh. Pun ketika kau disibukkan oleh kehidupanmu sendiri.

Memang benar, kita diciptakan dalam waktu yang sama, kita menumpangi rahim yang sama, dalam waktu yang juga sama.

Entah kau yang mewujud lebih dulu, atau jantungku yang berdetak lebih dulu. Kita memiliki permulaan takdir yang terpaut waktu 50 menit saja.

Fakta bahwa sidik jari pun tak pernah sama. Takdir hidup kita pun mustahil senada.

Memang tidak mudah pada awalnya, fakta bahwa kita berbagi hidup bahkan sejak roh kita ditiup, menjadikan kita terikat erat.

Lalu kini, kau telah terikat dengan manusia lain yang disebut 'suami'. Meski aku tak tahu, kapan tiba waktu aku akan memanggil seseorang dengan sebutan 'suami', bukan itu masalahnya.

Ini tidak mudah ... Pada awalnya, aku merasa kau dirampas dari sisiku. Sebab kau adalah satu-satunya yang kupunya dalam ikatan darah, sebab kita hanya semata wayang, aku begitu merasakan itu.

Bukan aku tak bahagia. Sebaliknya, kupastikan bahwa diriku adalah orang paling bahagia, melebihi rasa bahagia dirimu sendiri.

Aku hanya merasa sedikit sesak. Tersebab teman hidupku, teman terbaik dalam hidupku, kini telah bertemu dengan teman hidup lainnya, untuk sama-sama menjalani sisa usia.

Bukan berarti aku tak punya orang lainnya untuk berbagi cerita. Kau bahkan lebih tahu, kita punya banyak teman dan sahabat. Tapi bukan itu masalahnya. Ah ... kau pasti mengerti maksudku, kan? Kau pasti mengerti bagaimana rasaku ini.

Benar, sudah 1 tahun berlalu, 1 tahun sejak kau diambil dari sisiku. Selama waktu yang kujalani, aku belajar melapangkan hati, berdamai dengan diri sendiri.

Tentu saja tak akan seumur hidup kita bergandeng tangan susuri peta waktu. Meski kita sedarah, meski kita berasal dari satu sel telur yang membelah dua, kita tetaplah manusia yang berbeda. Dua jiwa yang memiliki takdirnya pribadi. Dua jiwa yang akan memikul hidupnya sendiri.

Baiklah, aku akan lebih sabar dan mengalah. Atas waktu kita yang bersimpangan. Atas kebersamaan kita yang tak lagi bisa kita nikmati semaunya. .

  • Berbahagialah, jadilah istri yang selalu diridhoi suami ....

Mari saling menjaga lewat do'a-do'a kita ...

#MR, 17.03.17

Jejakpenarati

  • view 102