Jangan Paksakan Jalan Cerita

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Maret 2017
Jangan Paksakan Jalan Cerita

Belakangan ini, benakku dipenuhi banyak tanya.

Tentang banyak hal, tentang hidup, tentang waktu, tentang kesedihan, kebahagiaan, tentang cinta, tentang semuanya.

Di satu titik waktu, aku mendapati, menyadari, ternyata, sekarang, aku menghadapi dunia dengan sudut pandang yang berbeda. Bukan hanya sudut pandang, tetapi, rasa kehidupan juga menjadi berbeda, di hati, di pikiran.

Aku mendapati diriku yang sekarang, bukan lagi diriku tahun kemarin, atau berbulan-bulan kemarin. Entah sejak kapan, namun sepertinya, setiap peristiwa sudah menggeser segala sudut pandang dan penilaian diriku tentang banyak hal, perlahan tanpa kusadari. Ketika akhirnya aku tersentak sadar, aku merenungi banyak hal, ternyata aku sudah berubah, dan semoga perubahan itu adalah ke arah yang lebih baik.

Ya, sampa saat ini, aku masih bertanya-tanya, takdir seperti apa yang Tuhan sudah persiapkan untukku? Selama ini aku sudah berusaha, namun, di antara berbagai hal yang menjadi harapan, berbagai harapan yang menjadi kenyataan, masih ada satu yang buntu. Sebenarnya bukan buntu, hanya saja aku masih belum melihat dan belum bisa membayangkan, akan menjadi seperti apa? Mungkinkah waktunya masih lama? Atau sedikit lagi harapan itu akan tercapai?

Selama ini aku sudah berusaha. Tapi aku tidak tahu, apakah usahaku ini sudah cukup, ataukah usahaku ini masih kurang? Apakah Tuhan sudah puas, ataukah Tuhan justru kecewa? Entahlah, aku tak punya ide sama sekali tentang hal yang satu ini. Aku hanya melakukan sesuai dengan apa yang aku yakini. Ya, memperbaiki diri, meningkatkan diri.

Meski itu sangat tidak mudah. Tentu saja ...mana ada jalan kebaikan yang begitu mudah tanpa hambatan? Meski dikatakan bahwa niat baik akan dimudahkan, namun bersama kemudahan itu juga datang berbagai halangan dan godaan yang berusaha menghambat dari celah-celah yang luput kita perhatikan.

Aku sudah mempelajari cukup banyak tentang hal yang satu ini. Dan aku juga meyakini, aku tahu, betapa Tuhan itu Maha Adil. Dia Mahatahu, Dia mempersiapkan yang terbaik untuk setiap hamba. Tak ada niat Tuhan mendzalimi, tak ada niat Tuhan membuat hamba menderita. Tuhan hanya merencanakan yang terbaik buat semua hamba.

Masalahnya adalah pada diri kita sendiri. Terkadang, kita terlalu tidak sabaran dan ikut campur, mendahului takdir Tuhan, memaksakan jalan cerita, mengubah jalan cerita semaunya. Padahal, semua sudah berjalan baik sebagaimana mestinya. Hanya saja, sikap kita yang terlalu sok tahu, kita merasa tahu segalanya, kita merasa benar di banding siapa saja di dunia, kita tak sabar pada hasil akhir yang disiapkan Tuhan, kita mendahului takdirnya, dengan cara-cara yang Tuhan tidak suka.

Akibatnya, kebahagiaan yang mungkin sudah tinggal sejengkal jaraknya, membelok dengan terpaksa, memantul sejauh-jauhnya, sebab kita sudah terbalut perisai, yang menghambat kita dari curahan rahmat, karunia, rejeki, dan kebahagiaan yang sudah Tuhan siapkan. Sayangnya, kita tak menyadari itu. Ketika semua kebaikan terasa menjauh satu per satu, ketika kita bertanya-tanya tentang apa yang salah, kita tidak sadar bahwa sesungguhnya kesalahan itu membaluti sekujur tubuh kita, kesalahan diri kita sendiri.

Ya ... apa yang kita dapatkan adalah hasil dari perlakuan kita sendiri. Bukan karena Tuhan tidak sayang, bukan karena Tuhan pilih kasih, bukan karena Tuhan men-dzalimi.

Bukankah Tuhan sudah bilang, sejak 1400 tahun silam, di dalam Kitab Suci, Tuhan sudah bilang,

“ fa mayya’mal mitsqaala dzarratin khairayyarah, wa mayya’mal mitsqaala dzarratin syarrayyarah.”

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah (99): 7 – 8)

Jadi, tidak ada yang salah, hukum sebab – akibat berlaku dengan sempurna. Ini membuktikan bahwa Tuhan kita sungguh Maha Adil. Hanya saja, kita perlu menyadarkan diri.

Yah, tentu tidak mudah, ketika kita sedang terlena, bagaimana mungkin kita bisa sadar sendiri? Tuhan tahu bahwa kita tidak mungkin tiba-tiba sadar begitu saja.

Kita perlu dicolek, ditegur, disentakkan. Ibarat orang yang sedang melamun, tidak akan mnyadari berbagai hal yang terjadi di sekitarnya, dia tenggelam dalam lamunan, hingga seseorng memanggil, atau mencolek, atau menepuk pundaknya, barulah dia akan tersadar.

Begitu juga dengan Tuhan. Ketika Dia merasa bahwa kita telah cukup jauh menyerong dari jalan yang lurus, diberilah kita hambatan, kesedihan, didatangkan bertubi-tubi hal-hal buruk yang tidak pernah kita harapkan. Itu bahasa Tuhan, cara Dia untuk menegur, memanggil kita, menyadarkan kita dari lamunan panjang. Menyadarkan kita dari kesalahan-kesalahan.

Itu tanda Tuhan masih sayang. Beruntunglah kita yang tidak pernah dibiarkan, beruntunglah kita yang kerap mendapat teguran. Meski itu terasa pedih dan menyakitkan, tapi itu adalah cara Tuhan untuk mmbersihkan, mengajarkan, mendidik dan menguatkan.

Lalu, ketika kita sudah sepenuh sadar dan kembali ke jalan-Nya yang lurus, insya Allah, kebahagiaan dan kelapangan akan menyelimuti hidup kita. Meski begitu, bukan berarti bahwa diri kita akan terhindar dari segala jenis kesedihan. Tuhan mungkin masih akan memberikan banya kesedihan, atau musibah, namun itu menjadi sebuah ujian bagi kita. Ketika Tuhan ingin membuktikan, sejauh mana kita mampu bertahan, sejauh mana kita tetap memegang teguh keimanan. Ketika Tuhan menjadikan banyak hal lebih sulit, apakah kita akan menyerah? Ataukah kita akan melaluinya dengan ikhlas dan perasaan lapang? Meski terasa berat, ketika iman mengakar kuat di dasar hati, segala kesulitan akan terasa mudah teratasi.

Sebab kita tahu, Tuhan selalu ada di sana bersama kita, mengawasi, dan tak akan pernah meninggalkan kita sendiri.

Dengan segenap ikhlas, berusaha melapangkan hati, juga tetap mensyukuri setiap keadaan, semoga Tuhan menghitung setiap tarikan napas sebagai ibadah. Semoga tiap detik yang terlewati menjadi ibadah, dan semoga Tuhan ridha, sudi membersihkan segala noda dosa, dan memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba yang Dia cintai, fid-dunya wa fil-aakhirat ...

Aamiiin .....

#MR #Jejakpenarati, 050317

gambar diambil di Pixabay

  • view 193