Apakah Kau Juga Tertipu?

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Renungan
dipublikasikan 31 Desember 2016
Apakah Kau Juga Tertipu?

Tuhan benar, Tuhan selalu benar ...

Tiba-tiba saja aku mendapati diri telah berada di penghujung 2016, seolah waktu yang telah berlalu hanya sekejap mata, tidak terasa.

360 hari terkesan begitu panjang, iya 360 matahari terbit dan terbenam, itu jumlah yang tidak sedikit. Tak terhitung detik waktu yang kususuri, juga tarikan napas, entah berapa juta kali?

Jika melihat dari sudut pandang lain, semua itu sangat panjang. Entah itu bilangan hari, waktu, atau jumlah tarikan napas, 1 tahun adalah waktu yang begitu panjang, tentu saja.

Aku sangat tahu itu. Tapi itu tak juga mampu menghentikanku dari sebuah sentakan,menyadari bahwa hari ini adalah akhir dari rangkaian waktu yang panjang itu, aku terheran-heran. Benarkah? 360 hari telah berlalu? Kenapa terasa seolah aku baru melewati 1 jam, bahkan 1 detik waktu?

Semua berjalan begitu cepat, berlalu bagai melesat.

Time flies so fast. Itu benar.

Dan Tuhan juga benar. Tidak, bahkan tanpa kunyatakan, Tuhan memang selalu Mahabenar.

Dalam kitab suci, itu sudah termaktub. Bahwa kehidupan dunia hanya sebentar. Hidup hanya sesingkat pagi atau sore hari.

"Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu (karena suasananya hebat), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar saja) tinggal (di dunia) pada waktu sore atau pagi hari.” (An-Nazi’at 46)

Tak perlu menunggu hingga kiamat datang untuk menbuktikan itu. Sebab sekarang pun, aku merasakannya, bukan lagi untuk beberapa jam di waktu pagi atau sore.

Bahkan aku merasakan bahwa rangkaian 2016 berlalu hanya sekedipan mata.

Sang waktu begitu lihai menipu.

Luar biasa. Aku berkali-kali  tertipu, bagaimana denganmu?

Ketika berada di awal 2016, ada begitu banyak proposal hidup yang kususun. Kupintakan Tuhan agar menyetujuinya, dan membantuku untuk mencapai semuanya.

Seperti biasanya seorang yang menghadapi sesuatu yang "baru", tentu saja aku begitu bersemangat, tahun baru adalah momentum untuk melakukan hal-hal lebih baik, melakukan banyak perubahan, pencapaian, dan sebagainya, dan sebagainya.

Namun, seperti kebanyakan orang, seperti yang lazimnya terjadi, semangat itu hanya menggebu di awal. Di sini, di tanah kalahiranku, Sumbawa, masyarakat kami menyebutnya dengan istilah "panas-panas tai ayam".

Ketika jiwa dan raga mulai merasa lelah, semuanya menguap begitu saja. Ditambah lagi bisikan-bisikan sesat yang meyakinkan bahwa "masih ada waktu", "waktu masih panjang" dan lain sebagainya, aku mulai telena, termakan hasutan pikiran sendiri.

Ya, hasutan diri sendiri. Tentu saja tidak bisa menyalahkan para setan, sebab mereka memang seperti itu. Aku tahu, setan selalu berusaha menyerongkan arah manusia dari tujuan yang benar. Salahku sendiri, sudah tahu itu sesat, masih juga kuturuti.

Ya, sang waktu memang begitu lihai menipu.

Begitu panjang, bagitu besar, begitu banyak kesempatan. Tapi, tak semua mampu kumanfaatkan. Lagi-lagi karena hasutan tentang "masih banyak waktu", membuatku lalai. Setiap kesempatan di depan, kugeser ke belakangvtanpa sadar, hanya dengan kata "nanti".

NANTI SAJA. MASIH BANYAK WAKTU.

Ya, begitulah. Ku sadari bahwa waktu yang berlalu tak akan pernah bisa kembali, tapi tetap saja, kata  "Nanti" itu menjadi semacam mantra yang memiliki kekuatan besar untuk menghentikan jalan menuju kebaikan.

Yah, tentu saja, tidak sepanjang waktu aku  tertipu.

Ada banyak hal juga yang begitu berkesan sepanjang waktu yang sudah menjadi masa lalu itu.

Betapa Tuhan banyak menunjukkan kasih sayang-Nya. Begitu banyak hal manis yang terjadi, yang membuatku merasa-bahkan-meski sepanjang detik hidupku mengucap syukur, itu tak akan pernah cukup.

Meski kuakui, tidak semua prosposal hidup berjalan sesuai yang kurencanakan-akibat kebodohanku sendiri-tidak sedikit pula yang akhirnya tersuguh nyata. Ini tdak selalu tentang materi atau prestasi. Bahwa Tuhan masih sudi menjagaku dan keluargaku, tetap baik-baik saja hingga detik ini, itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Bukan karena aku tak punya cita-cita tinggi. Hei ... kau tak tahu apa-apa tentangku. Jika saja kau kuijinkan melihat Dream List hidupku, kau mungkin akan tertawa melihat begitu banyak kemustahilan yang aku inginkan, kemustahilan dalam sudut pandang kita sebagai manusia. Tapi aku sangat yakin, Tuhan tak mengenal kemustahilan.

Tak ada yang tak mungkin jika Dia berkehendak. Asal selalu taat dan tak mendurhakai Dia, siapa yang tahu? Di satu titik waktu nanti, mimpi-mimpi yang kupeluk erat selama ini, akan dikabulkan.

Tentu saja, aku akan berusaha yang terbaik, meski itu jelas tidak akan mudah. Sebagaimana yang dikataka mantan RI 1 yang menjabat selama 2 periode kepemimpinan,

"Tak ada jalan lunak menuju cita-cita besar."

Aku setuju, dan aku selalu mengingat itu.

Setiap saat aku mulai terlena dan tertipu, kata-kata itu menjadi semacam formula yang menbantuku untuk kembali sadar. Tentang siapa aku, apa tujuan hidupku, tentang mimpi-mimpiku, tentang dari mana asalku, dan ke mana aku akan menuju.

Well, tahun 2016 bagiku adalah tahun yang paling berwarna sepanjang sejarah kehidupan yang kulalui, terhitung sejak aku mampu mengingat hidupku sendiri.

Kupikir, saat-saat paling menakjubkan adalah tahun-tahun di Sekolah Menengah. Bukankah orang-orang bilang, Masa SMA adalah masa yang paling indah?

Ah, tentu saja indah, karena kita hanya berpikir tentang belajar, bergaul, berteman, menjalin persahabatan. Tentu saja itu terasa indah.

Masa kuliah juga adalah waktu yang menakjubkan, ketika aku belajar untuk hidup mandiri, jauh dari kampung halaman, belajar banyak hal, menuntut ilmu, mengenal banyak orang dari berbagai daerah dengan latar belakang yang lebih beragam, mengunjungi banyak tempat, menjalin banyak pertemanan dan persahabatan baru.  Itu seru dan indah.

Ya, setiap fase kehidupanku sungguh menakjubkan. Alhamdulillah. Namun, tahukah? Di antara semua bagian dalam rangkaian waktu, hingga detik ini,

2016 adalah yang paling berkesan dalam.

Bagiku, di sinilah, Tuhan benar-benar berniat untuk menempa diriku,  dengan berupa-rupa kejadian. Ujian yang Tuhan berikan, tidak lagi tentang hal-hal biasa yang bisa ku atasi dengan mengatakan "all is well, aku baik-baik saja."

Ah, bagaimana ya, menjelaskannya? Kamu mengerti kan, apa yang ku maksudkan?

2016 adalah Tahun Ujian bagiku. Diawali dengan kebahagiaan, dan ditutup dengan duka kesedihan.

Kedewasaan, kesabaran, ketaatan yang terus menerus diuji. Seolah Tuhan mengatakan, "Kulakukan ini, Ku ambil kembali titipan-Ku, Ku berikan kau kesedihan ini, Ku panggil pulang orang kesayanganmu, apakah kau akan tetap taat dan bersyukur, atau kecewa dan berpaling dari-Ku?"

Seolah Tuhan mengatakan semua itu, menguji kesabaran, menguji iman, menguji ketaatan.

Aku hanya manusia biasa, yang masih berusaha untuk mengokohkan ketaatanku. Aku hanya manusia biasa dengan kadar iman yang masih fluktuatif. Aku manusia biasa, yang masih terseok menapaki jalan lurus-Nya.

Tentu saja, Tuhan berhak melakukan apa pun kehendak-Nya. Dibanding setiap hal yang sudah Dia limpahkan sepanjang kehidupanku, dibanding setiap tarikan napas yang selalu sudi Dia gratiskan untukku, dibanding rahman dan rahim-Nya yang meliputi segala sesuatu dalam diriku, Dia berhak mengujiku, Dia berhak mempertanyakan dan ingin tahu tentang keimananku.

Aku selalu berusaha untuk mensyukuri tiap detik kehidupan, mendetakkannya di jantung hati, meyuntikkannya di aliran darah, merangkaikannya di  tulang belulang, bahkan mendenyutkannya hingga ke urat nadi.

Aku selalu berusaha meski itu tidak mudah. Dan Tuhan tahu itu. Dan Dia ingin tahu, apakah aku masih akan berusaha, meski jika Dia membuatnya lebih sulit lagi.

Ya, aku harus yakin, bahwa aku mampu. Tidak mengecewakan Dia yang sudah memberikanku segala. Sebab dengan keyakinan itulah aku mampu tetap berdiri meski belum sempurna tegak.

Tuhan tidak akan memberikan ujian yang tak sesuai tingkat kemampuanku untuk mengatasinya. Bahkan para guru tidak akan memberikan soal ujian yang tidak pernah diajarkan. Tentu saja Tuhan akan lebih baik dari itu.

Dia tidak hanya memberi ujian dan menyiapkan jawaban. Dia juga akan memberikan kekuatan. Entah kita menyadarinya atau tidak. Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita tumbang.

Akhirnya, kudapati diriku berada di sini, 17 jam terakhir di tahun 2016, yang akan segera berlalu.

Ada begitu banyak penyesalan waktu, tapi juga tak terhingga rasa syukur, bahwa Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menyesal, dan Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki setiap penyesalan.

Semoga masih akan panjang usia, untuk melakukan lebih banyak hal di tahun 2017 dan tahun-tahun selanjutnya nanti. Tentu saja, harapan-harapan baru akan selalu menyertai. Berharap Tuhan akan selalu membimbing langkah, memberikanku kekuatan agar tak lagi mudah tertipu sang waktu yang begitu lihai menipu.

Bagaimana denganmu?

Selamat menyambut Tahun Baru 2017

Semangat Baru

Harapan Baru

Semoga Tuhan selalu menaungi langkahku dan langkahmu.

#MR,31 Desember 2016

ditulis pukul  06.00-07.00, 17 jam penghujung 2016.

gambar diambil di sini

  • view 227