Perisai Rejeki

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Motivasi
dipublikasikan 30 Oktober 2016
Perisai Rejeki

Allah menjanjikan banyak hal, banyak kebaikan kepada kita, hamba-Nya.

Contohnya, di bulan Ramadhan. Kebaikan Allah disuguhkan berlipat ganda kepada kita. Kita mendapat jamuan pahala, kemuliaan, berbagai nikmat yang tak terhitung.

Tidak hanya untuk kepentingan akhirat, tapi juga untuk kepentingan dunia.

Tapi, kebanyakan kita tidak paham. Karena janji-janji itu bersifat abstrak, kita  tidak benar-benar meyakini apa yang Allah janjikan. 

Kita tidak benar-benar menumpukan diri kepada Allah. Kita tidak benar-benar menyandarkan segala lini kehidupan kepada kekuasaan Allah.

Kalau kita mengerti, kalau kita paham, kalau kita sepenuh sadar meyakini kemahasegalaan Allah, kita meyakini tentang kekuasaan dan kekayaan-Nya yang luar biasa, kita menyerahkan segenap kehidupan di bawah naunganNya, kita taat sepenuh jiwa raga, kita yakin,

Maka tak akan ada kemiskinan, tak akan ada penderitaan, tak akan ada kesedihan, tak akan ada hutang, tak akan ada kekurangan, tak akan ada kebodohan, segala hal yang tidak baik tidak akan menimpa kita, karena kita sudah menyerahkan segenap jiwa raga dalam jaminan Pemilik Semesta.

Dalam segala hal, dalam segala lini kehidupan.

Juga dalam urusan rejeki.

Ketika kita sudah tahu, sudah paham, sudah mengerti, maka rejeki itu akan datang bertubi-tubi.

Kenyataannya apa yang terjadi?

Kita sudah berusaha mati-matian, bekerja banting tulang, kita ke sana kemari mencari sesuap nasi, tapi yang kita dapatkan hanya sedikit, setetes, bahkan tidak ada sama sekali. Dan yang paling memilukan, kita bekerja, tapi malah hutang yang kita kumpulkan, hutang yang berlipat ganda.

Kenapa bisa seperti itu? Karena kita tidak paham dan tidak tahu tentang hakikat rejeki dan rahasia di baliknya.

Sebenarnya, rejeki itu sudah dijamin oleh Allah. Setiap yang bernyawa dijamin rejekinya. Karena sudah dijamin, kita bahkan sesungguhnya tidak perlu susah payah mencari rejeki. Buat apa dicari? Buat apa dikejar? Toh rejeki itu tersedia setiap hari.

Rejeki itu sifatnya diturunkan atau jatuh dari atas. Ibarat hujan, jatuh dari langit, dan setiap apa yg ada di bawahnya pasti akan basah.

Bahkan rejeki ditebar lebih deras dari hujan, dan kita manusia ada di bumi, di bawah. Rejeki itu membanjiri bumi. Lalu seharusnya hidup kita basah bahkan banjir oleh rejeki, penuh, bahkan tenggelam oleh rejeki.

Seperti itu.

Tapi apa? Banyak orang yang tidak kebagian, yang hanya mendapatkan setetes, dua tetes, bahkan tidak kebasahan sama sekali.

Kenapa?

Apa yang terjadi?

Di saat bumi banjir oleh rejeki, dia bahkan tidak basah sama sekali.

Jawabannya adalah karena dia mempunyai PERISAI, TAMENG, PENGHALANG. Sedihnya, dia memakai PERISAI itu bahkan TANPA DISADARI.

Apa itu perisainya? Apa itu penghalang, tameng  kita dari rejeki bertubi-tubi?

Ialah DOSA. 

Ya, dosa-dosa kita sesungguhnya adalah penghalang dan perisai yang membuat kita tak didekati rejeki. DOSA itu menjadi perisai, bahkan percikan rejeki pun tak bisa mengenai kita karena adanya perisai itu.

Rejeki itu tak perlu dikejar, tak perlu dicari, buat apa mencari rejeki? Rejeki itu selalu ada dan bertebaran di muka bumi setiap saat. Malaikat Mikail selalu rajin dan tak pernah lupa menebarkan rejeki. 

Yang harus kita kejar, yang harus kita usahakan adalah membuka, menghancurkan, meruntuhkan perisai yang menghalangi diri kita dari hujan rejeki.

Kita harus mengupas perisai, menghitung dosa-dosa kita, mengakuinya, lalu memohon ampunan kepada Allah atas setiap dosa yang kita perbuat.

Kita harus sadar, bukan karena Allah yang pelit, bukan karena Allah yang pilih kasih, tapi karena diri kitalah yang bermasalah. Dan buruknya lagi, kita tidak pernah sdar bahwa diri kita bermasalah.

Sekarang kita sudah tahu rahasianya, kita sudah tahu permasalahannya.

Dan yang kita perlukan adalah membuka diri agar permasalahan itu hilang, mengupas tameng dan perisai yang menghalangi kita dari rejeki-rejeki yang baik, rejeki yang berlimpah.

Kita bertaubat, memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang kita perbuat. Kita berjanji untuk tidak mengulangi lagi setiap perbuatan dosa, dan kita meningkatkan ibadah kita.

Ingat, rejeki itu bukan hanya berupa materi, kesadaran kita juga termasuk rejeki yang tak ternilai. Bahwa kita tahu apa masalahnya, kita tahu bahwa diri kitalah yang bermasalah, berarti kita sudah setengah jalan dalam penyelesaian masalah itu. Kita harus mensyukurinya.

Karena begitu banyak orang yang rumit kehidupannya tapi dia bahkan tidak tahu di mana letak masalahnya.

Selanjutnya adalah bagaimana cara kita untuk bisa jujur kepada diri sendiri,  juga jujur kepada Allah dan memohon ampun sepenuh jiwa raga.

Buka tameng dan perisai itu, maka rejeki akan datang bertubi-tubi.

 

Selama ini, ketika kita mendapatkan sebuah kesulitan, rejeki seret. Kita membandingkan diri dengan orang lain, menganggap Allah tidak adil, bahkan mengumpati Allah. Kita merasa kesal, kita tidak terima, kita marah.

Dengan begitu, bukannya kita akan menemukan jalan keluar, bahkan tidak ada jalan yang bisa terlihat, semua tertutup, pandangan kita tertutup oleh kabut yang menyesaki hati dan pikiran.

Kita tidak pernah mencoba untuk menyelami diri. Merenung, berpikir. Bahwa bukan kehidupan, buka Allah yang salah memberi. Tapi kitalah yang tidak tahu diri.

Jarang sekali kita memiliki rangkaian sikap yang benar, sehingga kita semakin terpuruk dalam kesulitan, bukannya menemukan jalan keluar.

Kita tidak bisa mencapai kesadaran diri, kita bahkan tidak tahu diri, tidak juga pandai bersyukur. Padahal, di sanalah rahasia dan celah yang mengantarkan kita pada sebuah jalan keluar.

Lihatlah, para orang taat, para khalifah, mereka adalah orang orang sabar yang selalu pandai bersyukur. Bukannya mengumpat, ketika Allah memberikan ujian, mereka langsung menunjuk diri sendiri sebagai orang yang bersalah, meminta ampun, dan bersyukur.

Itulah sebabnya, Allah kemudian mengganjar mereka tidak hanya dengan kemuliaan hidup dan jaminan surga, tapi juga dengan harta benda yang berlimpah.

Dan semua yang mereka miliki diberkahi Allah.

Khalifah Umar bin Khatab r.a. sudah wafat 1400 tahun yang lalu. Tapi tahukah? Rekening hartanya masih aktif hingga hari ini. Hartanya berlipat ganda dan terus bertambah hingga hari ini. Digunakan untuk kemakmuran masyarakat di Tanah Suci dan untuk membiayai para jemaah haji yang datang ke Tanah Suci. Maasyaa Allah...

Ini juga sudah dijanjikan oleh Allah, ketika kita taat, maka Allah akan memberikan keberlimpahan rejeki, diberikan kebun-kebun, anak-anak.

Bukan hanya anak keturunan, tapi di sini yang dimaksudkan adalah anak perusahaan, cabang-cabang usaha, dan sebagainya. Intinya, kebaikan-kebaikan yang bercabang-cabang, berlipat ganda.

Bagaimana dengan kita? Kita masih hidup tapi rekening lebih banyak minusnya. Karena apa?

Karena kita masih mencintai perisai rejeki kita. Kita mencintai dosa-dosa melebihi cinta kita pada kemuliaan yang Allah janjikan.

Perisai lainnya adalah SIKAP dan PIKIRAN NEGATIF.

Kita harus memproyeksikan segala sesuatu menjadi yang positif dengan bersyukur, apa pun yang terjadi, kita harus bersyukur.

Kita harus yakin bahwa segala sesuatu ada hikmah dan Allah tidak pernah bermaksud untuk menyusahkan hamba-Nya.

Maka jika kita menginginkan kemuliaan dan rejeki yang baik serta kebahagiaan hidup, kita harus menghancurkan setiap lapis perisai yang menghalangi kita dari taburan rejeki Allah. Juga selalu bersyukur dan menyikapi setiap yang terjadi dengan pikiran dan sikap yang positif.

Bersyukur di setiap keadaan, menyesali dosa, bertaubat, dan selalu menjaga diri untuk beribadah dengan sebaik-baiknya, insya Allah rejeki akan datang bertubi-tubi, dari arah yang tidak disangka-sangka. Bi idznillah .. aamiin ....

Ditulis kembali ole Rati berdasarkan audio "PERISAI REZEKI" oleh ust.Nasrullah di chanel Telegram @audiomagnetrezeki

Jika teman-teman ingin belajar langsung dari audionya, silakan klik Link ini:

https://telegram.me/audiomagnetrezeki

 #MR, 30 Oktober 2016

Gambar diambil di sini


  • Anis 
    Anis 
    11 bulan yang lalu.
    terima kasih buat linknya mbaa
    mungkin bisa diedit: https://telegram.me/audiomagnetrezeki

    soalnya link mba yang ini kalo dibuka hasilnya postingan ini juga, hehe.

    • Lihat 6 Respon

  • 31 
    31 
    11 bulan yang lalu.
    Bener nih..karena rejeki tak hanya berupa gaji setiap akhir bulan..ada berkah kenikmatan yang besar hanya dengan sedikit harta..mungkin itu juga rejeki .
    *maaf lagi cerewet komen hehe..

    • Lihat 1 Respon