Hujan di Langit Oktober (Part 2)

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Oktober 2016
Hujan di Langit Oktober (Part 2)

28 Oktober. Kuliah hari kedua.

Mata kuliah Pengantar Ilmu Akuntansi. Aku menyimak sepenuh hati. Tak henti-hentinya keningku berkerut mendengarkan penjelasan dosen. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya aku bersinggungan dengan segala hal yang berkaitan dengan Akuntansi. Selama di SMA aku belajar di jurusan IPA. Jadi, Semua ini masih asing bagiku.

Di luar terdengar rinai hujan. Hujan di langit Oktober. Hujan pertamaku di tanah rantau.

Akhir-akhir ini langit semakin sulit ditebak. Untung saja bawa payung, tak ada yang perlu dicemas. Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu. Oh Mama ... bagaimana ini?

***

Aku berjalan tergesa. Andai bisa terbang, sejak tadi sudah kukepakkan sayap langsung dari kelasku di lantai 3. Ya Tuhan, apakah ... apakah ... 

Tatapanku nanar, aku terpaku di depan balkon. Seonggok kasur tergolek pasrah di sana. Basah, kedinginan. Huaaaa!

"Neng, tadi Ibu buru-buru angkat kasurnya, ternyata udah basah. Ibu gak tau Neng jemur kasur di atap, untung ibu naik ngecek jemuran." Tiba-tiba Bu Fitri, pemilik kos, muncul diujung tangga. Rumahnya di depan, masih satu halaman dengan kos-kosan.

‘Neng’, begitulah anak gadis biasa di sapa di tempat ini.

"Oh iya, makasih banget. Maaf udah ngerepotin." Aku merasa tidak enak hati pada perempuan yang super baik itu.

"Nggak apa-apa. Besok-besok kalau ninggalin jemuran titip aja sama Ibu. Maklum udah musim hujan."

"Iya, Bu. Makasih ya ...." Aku melontarkan senyum termanis dan masuk ke kamar. Perempuan itu baik sekali. Sebaya Mama. Segala perhatiannya mengingatkanku pada Mama, perempuan yang selalu menerbitkan rindu.

Aku menyeret masuk kasur yang basah. Bagaimana lagi? Tidak mungkin kutinggalkan di balkon. Tadi pagi aku menjemurnya di atap tetangga yang letaknya persis di depan balkon. Mama yang mengingatkanku, sebab itu kasur fasilitas kos, harus dijemur supaya lebih bersih. Hari sudah gelap, dan rinai hujan masih awet, terlalu keras kepala, tak mau mengalah untuk sekedar jeda.

***

Kasurku hampir semuanya basah, hanya tersisa sedikit kering di ujung kiri. Aku sudah lelah, otakku penat dijejali teori akuntansi yang belum sepenuhnya ku mengerti. Tapi bagaimana aku akan tidur jika seperti ini?

Andai saja ada Mama di sini, atau aku bisa terbang, pulang, tidur di kamarku yang nyaman tanpa mencemaskan apa pun, lalu besok terbang kembali ke sini. Ah ... tiba-tiba sesuatu yang hangat mengalir di pipiku. Air mata lagi?

Apa kutelepon Mama saja? Melaporkan semua yang terjadi? Tapi buat apa? Hanya untuk menambah kecemasannya? Oh  … tidak … tidak … biarkan Mama tidur nyenyak!

Malam itu aku tak berhasil menjemput mimpi. Sudah kuyakinkan diri bahwa segalanya akan baik-baik saja, aku mencoba bersabar atas keadaan, tapi … sulit sekali. Seharusnya aku tidak perlu ke sini, seharusnya aku tetap di Sumbawa, kuliah di STKIP Hamzanwadi, seperti yang kurencanakan sejak kelas 3 SMA. Masa bodoh dengan beasiswa!

***

Selepas shalat subuh, aku kembali berbaring. Tadi sudah kucoba melawan keadaan. Menggumamkan kata “aku sehat” lebih dari tujuh kali,  seperti yang selalu aku lakukan setiap merasa tidak enak badan. Tapi kepalaku berat, berdenyut. Badanku hangat. Aku demam? Apa lagi ini? Baru hari kedua kuliah, dan aku sudah terkapar di sini?

Tiba-tiba HP-ku berbunyi. Mama ….

“Assalamu’alaikum … sudah siap-siap kuliah, Nak?” Mama menyapa di seberang sana.

“Wa’alaikumussalam … sebentar lagi, Ma.” Aku memutuskan untuk tidak memberitahu Mama bahwa aku sedang demam.

“Kenapa suaranya lemas? Sakit?” ah … Mama, selalu tahu apa yang terjadi. 

Ya, anakmu ini sedang demam, Ma …. Tapi …

“Nggak kok, Ma. Mungkin karena belum sarapan.” Kutegar-tegarkan suaraku, agar Mama tidak curiga lagi.

“Ya sudah, cepat sarapan. Sebelum ke kampus, periksa semua aliran listrik, kunci jendela, pintunya juga.” Mama mengingatkan aku panjang lebar. Begitulah … Mama selalu tahu cara mencemaskan segala hal!

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, seharusnya aku sudah di kelas mengikuti kuliah. Tapi, aku tidak berdaya bahkan untuk sekedar bangkit dari tempat tidur. Kepalaku menjelma batu seberat ribuan ton. Aku memutuskan menghubungi Lita, mengabarkan keadaanku. Gadis Depok itu berjanji akan menjengukku pulang kuliah nanti.

Kutegar-tegarkan diri untuk bangkit. Aku harus makan sesuatu, lalu minum obat. Beruntung Mama membekali aku dengan obat-obatan untuk mengantisipasi saat-saat sakit. Di dapur juga ada abon sapi yang aku bawa dari Sumbawa. Tapi tidak ada nasi. Aku baru ingat, semalam aku menghabiskan semua nasi. 

Duuuh … bagaimana ini? Harus masak nasi dulu, tapi aku benar-benar tidak kuat. Aku rindu Mama, rindu rumah! Andai saja Mama ada di sini, pasti aku sudah disuapi makan, dibuatkan teh panas, diselimuti, dan tidur kembali tanpa mencemaskan apa pun. 

Sedang sibuk meratapi nasib, pintu kamarku diketuk.

“Assalamu’alaikum, Neng … nggak kuliah?” Bu Fitri rupanya.

“Wa’alaikumussalam …” kubuka pintu perlahan. Kepalaku semakin berdenyut.

“Ya Allah, kenapa, Neng? Sakit ya?” raut Bu Fitri berubah panik demi melihat keadaanku. Tangannya meraba dahi dan leherku.

“Saya lagi nggak enak badan, Bu. Tapi nggak apa-apa, kok.” Aku berusaha tersenyum.

“Nggak apa-apa gimana? Itu muka pucat banget. Kan Ibu sudah bilang, jangan sungkan sama Ibu. Di sini Ibu pengganti Mamamu ….” Kurasakan ketulusan dari kata-kata perempuan kelahiran Aceh itu.

Perhatian Bu Fitri membuatku terharu, rinduku pada Mama semakin membuatku sesak. Aku tak tahan lagi untuk tidak menangis. Kupeluk perempuan ayu ini.

“Saya kangen Mama, Bu, kangen rumah ….” Aku makin tersedu.

“Sabar, Nak. Ini ujian untuk orang-orang yang merantau. Menuntut ilmu memang nggak mudah jalannya,” Bu Fitri menepuk-nepuk pundakku, “apalagi Neng kan masih baru di sini, jadi wajar masih sering kangen.”

“Iya, Bu. Tapi saya nggak kuat, coba Mama di sini.” Ingusku sudah mengalir turun.

“Ssssttt … sudah, Nak. Jangan sedih. Kan ada Ibu …” Bu Fitri mengusap air mataku, “sekarang kamu istirahat, ya, Ibu belikan bubur ayam buat kamu.” Dalam keadaan sehat, aku jelas akan menolak. Pantang merepotkan siapa pun. Seperti kata Mama.

Tapi aku sedang tidak berdaya sekarang. Jujur, aku sangat bersyukur Bu Fitri mau melakukannya untukku.

Setengah jam kemudian, Bu Fitri kembali dengan semangkuk bubur ayam, asap mengepul menggugah selera. Aku berterima kasih sampai air mataku hampir tumpah lagi.

Setelah menghabiskan sarapan, aku memikirkan banyak hal. Betapa di tempat yang sangat jauh dari rumah, terpisah oleh dua pulau dan tiga lautan, Tuhan masih sudi melimpahkan kasih sayang bagiku. 

Kehadiranku di tempat ini, sepertinya tidak semata-mata untuk mengejar ilmu, Tapi Tuhan sedang mengajarkanku tentang kedewasaan, juga tentang rasa syukur. Aku menyadari betapa Mama sangat penting bagiku. Selama ini Mama selalu mencemaskan banyak hal, tapi aku tahu, itu adalah caranya menunjukkan kasih sayang. Di rumah, aku mendengarkan nasehat-nasehat mama setiap hari hingga bosan. Tapi di tempat yang asing ini, betapa aku merindukan semua itu!

Aku ingat nasehatnya pada malam sebelum keberangkatanku.

“Nak, hati-hati di kampung orang, jangan malas makan, jangan lupa shalat, rajin belajar. Jaga sikap dan jaga nama baik keluarga kita.” Mama menitahkan nasihatnya dengan air mata berlinang-linang. Bahkan Mama menulisnya di kertas lalu diselipkan di dompetku!

Aku pikir, aku akan betah di sini tanpa rindu yang menyakitkan. Nyatanya, setiap hari aku sibuk meredakan rindu yang bergejolak. Apalagi kedatanganku yang mendadak, tidak memberikanku waktu yang cukup untuk mempersiapkan mental rantau, hingga semua terasa begitu tidak mudah, dan aku selalu ingin pulang. Mungkin benar kata Bu Fitri. Semua ini ujian bagi para perantau. Seiring waktu, aku akan terbiasa dengan keadaan ini. Empat tahun adalah waktu yang lumayan panjang.

Mungkin nanti, ketika aku sudah mulai terbiasa menjinakkan rindu, hari-hari di sini akan terasa jauh lebih menarik. Tapi tetap saja ….

Rumah adalah tempat paling aman untuk kembali. Keluarga adalah tempat paling nyaman untuk sandarkan hati. Dan dekap hangat Mama adalah yang paling menentramkan dibanding apa pun di muka bumi!

***

#MR, 29 Oktober 2016

Gambar diambil di sini