Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 29 Oktober 2016   19:50 WIB
Hujan di Langit Oktober (Part 1)

23 Oktober.

Aku masih mengingat jelas kesibukan malam itu, berkemas. Keesokan harinya adalah jadwal keberangkatanku. Hari yang ditakdirkan Tuhan untuk meninggalkan kampung halaman. Ke mana? Menuju  salah satu tempat yang terlihat paling berkilau di mata siapa pun, Jakarta.

 “Semua berkas penting sudah masuk koper? Pelatan mandi sudah lengkap?” Mama tak berhenti berkicau sejak tadi, mengecek semua barang bawaanku.

“Sudah beres semua, Ma. Gak usah khawatir lagi ….” Jawabku untuk yang kesekian kali. Kadang-kadang aku suka kesal dengan segala ketelitian Mama.

“Sabun cucinya juga jangan lupa dibawa!” Mama tiba-tiba berseru lagi.

“Apa? Sabun cuci?! Ma, Adek ini ke Jakarta, Ma. Bukan ke hutan!” ah yang benar saja! Aku semakin kesal, Mama terlalu berlebihan. 

“Ya gak apa-apa, untuk persiapan. Siapa tau hari-hari pertama kamu di sana belum sempat belanja, belum tahu arah warung atau minimarket, kan bisa tetap nyuci baju.” Mama menjelaskan alasannya. 

Ah … Mama, selalu saja seperti itu. Bahkan aku pun disuruh membawa beras, B-E-R-A-S! Sebelum aku sempat protes, setengah karung beras sudah dimasukkan ke dalam sebuah kardus TV 21” yang juga memuat berbagai macam camilan khas daerahku, tak lupa abon, dendeng sapi dan ikan kering! Aku mulai bingung tentang tujuanku sekarang. Melihat isi kardus yang luar biasa banyak, aku merasa tujuanku ke Jakarta adalah untuk berjualan makanan. Haaah!

***

Malam itu, ketika tanah kelahiranku sedang dibuai mimpi, aku sibuk mengembara di antara harapan dan kecemasan. Menyadari besok akan pergi, jantungku melonjak-lonjak. 

Selama ini aku sering membayangkan betapa asyiknya bisa kuliah di kota besar, jauh dari kampung halaman. Tapi, itu hanya sebatas angan. Aku tidak pernah benar-benar berharap. Bukan karena tidak mau, tapi tidak boleh. Mama tidak akan pernah rela melepaskan anak gadisnya ini menuju tempat-tempat jauh.

Tapi, takdir berkehendak lain. Aku dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Emas yang disponsori oleh PT. Newmont Nusa Tenggara. Padahal aku bahkan sudah lupa, sebab aku tidak berharap banyak ketika mengajukan berkas beasiswa. Kenyataan yang tiba-tiba ini, akan mengantarkanku menuju kehidupan yang bahkan tak pernah ada dalam daftar masa depan yang aku rencanakan. STEI SEBI, Jakarta. Mendadak. Siapkah aku?

***

26 Oktober.

Aku tiba dengan selamat. Perjalanan jalur darat selama tiga hari itu memang melelahkan, tetapi juga menyenangkan. Sumbawa-Jakarta sangat jauh. Menyusuri tiga pulau dan menyeberangi tiga lautan. Tapi aku sengaja menempuh jalur darat agar mampu lebih menghayati awal perjalanan rantauku ini. Tentu juga disebabkan barang bawaanku yang akan membuat pesawat mana pun mendadak kelebihan beban. Hihihi ….

Ciputat. Di sinilah aku akan tinggal. 

Kos-kosan yang kutempati suasananya sangat nyaman. Kamarku berada di lantai dua, paling ujung, paling jauh dari tangga naik. Balkon yang selalu bertabur sinar matahari pagi dan matahari senja, adalah hal yang paling kusuka dari tempat tinggalku itu.

Kedatanganku hari itu disambut adzan dzuhur dari masjid As-Salam yang berada di depan kos-kosan. Jika berdiri di balkon, maka masjid itu terletak persis di samping kamarku. Hanya sepelemparan batu, segalanya terlihat jelas dari balkon. Adzan pertama yang mengalun di tanah rantau. Tiba-tiba terbersit rindu. Rindu pertamaku, rindu Mama dan keluarga. Rindu Sumbawa. 

***

27 Oktober. Kuliah perdanaku.

Aku berangkat ke kampus berjalan kaki. Beruntung sebab jarak kampus tidak jauh dari kos-kosan. Tiba di sana, aku berkeliling, mencari Ruang Akademik untuk melaporkan kedatanganku dan menanyakan letak kelasku. Aku tidak mengalami yang namanya Masa Orientasi. Jadi aku datang ke kampus dengan lagak seperti anak hilang, tak satu pun manusia yang kukenal di tempat ini!

Tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang. Aku menoleh, seorang gadis manis menatap hangat dengan senyum cerah. 

“Halo … kenalin Aku Lita.” Ujarnya riang sambil mengulurkan tangan. Aku menyambut tangannya. Aku langsung menyukai gadis ini.

“Eh, iya. Kenalin juga, aku Nina.” Kataku, tak kalah riangnya. Aku senang, akhirnya dapat kenalan.

Ternyata kami berada di jurusan yang sama, Akuntansi Syari’ah. Kebetulan sekali. Lita gadis yang hangat dan periang. Tak butuh waktu lama bagi kami untuk menjadi akrab. Dia menjadi pemanduku hari itu.

“Kamu asalnya dari mana, Say?” tanya Lita ketika kami berjalan menuju kelas setelah menyelesaikan urusan di Ruang Akademik.

“Dari Sumbawa Be …” belum sempat kutuntaskan kalimatku, Lita memotong cepat.

“Wah, jauh banget sih, di NTT itu, ya?” 

“Iiih yang itu Sumba …. Kalau tempatku itu Sumbawa Besar, NTB.”

“Sumbawa Besar? Itu di mana sih?” tanyanya bingung.

“Setelah pulau Bali, pulau Lombok, terus pulau Sumbawa. Nah, NTT itu setelah pulau Sumbawa.” Aku menjelaskan panjang lebar.

“Ooo … ku pikir NTT tadi, abis namanya mirip sih, hahaha ….” Lita menertawakan dirinya yang bertingkah sok tahu. Aku ikut tertawa geli. Dia tidak tahu, sebelumnya sudah ada beberapa orang yang mengatakan hal serupa ketika di perjalanan, juga Ibu Kos-ku kemarin. 

Hari pertama kuliah berjalan lancar. Di kelas aku diperkenalkan oleh Lita kepada semua teman. Mereka sudah akrab sebab telah bersama sejak Masa Orientasi. Hanya aku yang masih asing. Tapi rasa asing itu hanya singgah sebentar sebab tak lama kemudian aku sudah berbaur. Mereka menerima kehadiranku dengan hangat. Aku beruntung sekali.

Setelah jadwal mata kuliah berakhir, aku meminta Lita menemaniku membeli rice cooker dan setrika. Dia mengajakku ke Supermarket yang lokasinya tak jauh dari kampus. Tidak lama di sana, kami memutuskan pulang. Kutawarkan Lita untuk mampir di kos. Sayangnya, dia tidak bisa karena harus segera pulang. Dia dari Depok, pulang-pergi setiap hari.

Sampai di kos, aku menelepon ke rumah. Rindu Mama dan keluargaku. Aku juga rindu teman-teman sepermainanku di sana. Rindu pada segala hal tentang Sumbawa.

Aku menceritakan semua pengalamanku yang menyenangkan hari ini. Di seberang telepon, Mama menimpali ceritaku dengan nada riang. Pasti Mama senang aku sudah punya teman-teman baru. Ya, di rantauan, keberadaan teman-teman adalah salah satu hal yang paling penting dan berharga.

Mama tak lupa menasehatiku, mengingatkan tentang banyak hal, seolah tak pernah bosan, juga mengomeli aku yang tidak sempat sarapan sebelum berangkat ke kampus. Jika masih berada di rumah, aku akan malas sekali mendengarnya mengomel dan mengulangi hal yang sama hampir setiap hari. Tapi di sini, rasanya berbeda. Aku merindukan semua omelannya,  aku selalu menanti semua nasehatnya, juga telepon-teleponnya, mengingatkan setiap tiba waktu makan, waktu shalat. Ah … begini ternyata. Semua terasa berharga ketika berjauhan.

 

***

Aku membongkar kardus rice cooker baru. Ku cuci bersih sebelum memakainya untuk pertama kali. Ah … melakoni semua ini membuat aku sedih lagi. Seorang diri, di sini. Untuk makan aku harus mempersiapkan semua seperti ini. Masak nasi, atau seperti kemarin, harus turun ke warung membeli nasi. Aku merasa sangat bersalah pada Mama. Selama ini, bahkan ketika hidangan sudah tersaji lengkap di atas meja, aku selalu bilang “nanti” setiap kali mama menyuruhku makan. Bahkan Mama sering datang untuk menyuapiku jika aku tetap bergeming setelah berkali-kali dipanggil. Sementara di sini, jika tidak bergerak, aku tidak akan bisa makan. Tidak ada yang akan menyiapkanku makanan atau menyuapiku. Betapa selama ini, sangat sedikit yang mampu kusyukuri. Mama, maafkan anakmu ini, hiks ….

Aku sudah bersiap makam malam ketika pintu kamarku diketuk. Siapa?

“Assalamu’alaikum … ini Lita, Say.” Ujar suara dari balik pintu.

Hah? Lita, malam-malam begini? Sambil menjawab salam, aku buru-buru membuka pintu.

“Eh, Lita? Ayo masuk?” aku terheran-heran. Tidak dapat kutarik satu pun kesimpulan yang memungkinkan tentang alasannya datang malam-malam. Lagipula dia kan belum pernah ke sini sebelumnya.

“Aku tadi nyari masjid As-Salam terus nanya sama ibu di warung depan, kosan anak baru yang dari Sumbawa di mana. Ketemu deh.” Seolah-olah bisa membaca pikiranku, dia menjelaskan dengan wajah sumringah.

“Oh … iya. Eh kamu sama siapa?” tanyaku linglung, Aku masih heran tentang kedatangannya yang tiba-tiba. Masa iya dia kangen sama aku?

“Sama Bapak, nunggu di bawah. Ini buat kamu makan …” dia menyodorkan sebuah rantang dua susun, lalu membuka tas punggungnya dan mengeluarkan sebuah tas plastik lumayan besar yang entah berisi apa. Dia memberikannya kepadaku. Berat.

“Aduh … kok repot-repot banget, Say. Jauh-jauh dari Depok ke sini, malam-malam lagi.” Aku jadi terharu dan sekaligus merasa tidak enak hati.

Kubuka rantang itu, nasi lengkap dengan ayam goreng, perkedel, oseng-oseng, sambal, dan beberapa potong mentimun. Aku menelan ludah, sungguh menggiurkan. Lalu yang di plastik itu apa? Kulepas ikatannya dan kubuka. Ya Tuhan … beras! Ya, B-E-R-A-S! Hah? Kok bisa? Aku kaget setengah mati!

“Tadi di rumah aku cerita tentang kamu ke Mama aku, Mama terharu lho, anak gadis sendirian, jauh ke sini nuntut ilmu. Dia ngebayangin kalo itu aku, pasti sedih banget. Mama langsung masak tadi sore, abis maghrib minta aku sama Bapak ke sini ...” Bagai mitraliur, Lita menjelaskan sangat cepat sampai kehabisan napas.

“Duh …makasih banget ya, udah peduli sama aku.” Aku tak dapat menahan haru yang semakin buncah. Kupeluk dia. Aku merasa menemukan keluarga baru yang sangat baik. Tapi … tapi …

“Mama nyuruh aku  bawa beras, katanya di Sumbawa sana beras susah didapat ya?”

Glek! Aku seperti menelan segenggam paku, mendengar penuturan Lita yang begitu jujur apa adanya.

“Eh kata siapa?” aku menjawab heran. Ya Tuhan … separah itukah keadaanku dalam bayangan mereka?

Aku merasa ini lucu sekali. Aku ingin membantah hal yang terakhir itu. Tapi kuurungkan. Melihat wajah Lita yang tersenyum tulus dalam kepolosannya, aku tidak tega. Tidak tega mengecewakan dia dan keluarganya yang sudah susah payah melakukan ini untukku. Biarlah … biar dia tidak perlu tahu tentang berliter-liter beras di sudut dapurku, yang bahkan mungkin tidak akan habis dalam sebulan. Biar waktu yang menjelaskan semuanya nanti.

Ketika Lita pamit, aku tak lupa membungkuskan beberapa kue, camilan khas Sumbawa seperti Manjareal, Permen Susu Sapi, dan Dodol Tape, tak lupa Madu dan Kopi Sumbawa yang diracik sendiri oleh nenekku. Aku harap mereka senang menikmati oleh-oleh dari kampung halamanku itu. Aku juga berniat membawanya ke kampus besok, membaginya kepada teman-teman baruku.

Oh … Mama, lihatlah, bahkan di tempat jauh yang baru kudatangi ini, keluarga yang belum kukenal berbaik hati mencemaskan aku. Mama, do’a-doa’mu dikabulkan Allah. Dia selalu menjagaku di sini!

Bersambung ke Hujan di Langit Oktober (Part 2)

#MR, 29 Oktober 2016

Gambar diambil di sini

Karya : Muthmainnah Rati