Catatan Hari Kelahiran

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Catatan Hari Kelahiran

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, menyempatkanku menikmati kehidupan hingg detik ini.

Terima kasih kepada mama tercinta, untuk keikhlasannya melahirkanku dan membesarkanku dengan sangat baik.

Waktu berlalu tanpa terasa, aku bertumbuh hingga kini semakin dewasa.

Sudah menjadi apa diriku?

Apa yang sudah kulakukan?

Apa yang sudah kudapatkan?

Apa yang sudah kukumpulkan?

Apa yang sudah kupersiapkan?

Jangan-jangan aku belum melakukan apa-apa yang diridhoi-Nya

Jangan-jangan aku belum mendapatkan apa-apa dalam penilaian-Nya

Jangan-jangan aku hanya mengumpulkan dosa dan masih minim pahala

Jangan-jangan aku belum menpersiapkan apa-apa untuk kembali kepada-Nya

Terus terang, aku sering menggalau karena pertanyaan-pertanyaan itu. Akhir-akhir ini.

Entah karena aku sudah dewasa, mungkin karena aku sudah mulai mengerti

Bagaimana pun, aku selalu penasaran, berapa jatah umur yang Dia berikan untukku? Sampai kapan aku akan hidup? Di Bumi mana aku akan mati?

Seiring bertambahnya usia, prioritasku bergeser, jika dulu, aku akan sedih ketika tak ada acara apa pun untuk memperingati ulang tahunku

sekarang, aku merasa sedih karena berkurangnya jatah umurku. Iya, tak masalah lagi apakah orang-orang akan mengingat hari ini atau tidak.

Aku hanya akan bersyukur dengan caraku sendiri, muhasabah dan mujahadah.

Seharusnya seperti itu .... semua orang seharusnya seperti itu.

Memperingati hari lahirnya, tanpa pesta meriah, hura-hura, tanpa nyanyian, tanpa tiupan lilin.

Seharusnya seperti itu.

Tapi rupanya, tak setiap orang bisa mengerti, bahkan tak setiap orang akan tahu dan sadar tentang ini.

Bagaimana pun, aku sangat bersyukur karena Allah telah memberiku kesempatan untuk tahu dan mengerti sehingga jalan yang kutempuh menjadi lebih terang, tentang batas-batas, aku bisa melihat lebih jelas. Seiring makin jauhnya tapak-tapak kakiku melangkah. Aku semakin mengerti arah.

Meski untuk itu sangat tidak mudah kulakui, berbagai semak, onak, duri, jalanan terjal berbatu, tak jarang aku tersandung, terperosok lubang, tertusuk duri, tergores semak, bahkan tersungkur jatuh di jalanan terjal.

Semua itu kulalui, tak terhitung luka yang kudapat.

Dulu, aku selalu ingin marah ketika Tuhan menghadapkanku pada hal-hal seperti itu. Tapi jauh kemudian, aku mengerti, bahwa itu semua adalah cara Tuhan untuk mendidik, mengajari, membuatku mengerti. Menjadikanku kuat dan tangguh. Hingga tak ada lagi kesedihan, kesusahan, penderitaan yang mampu membuatku tumbang.

"Hal-hal menyakitkan yang tak berhasil menbunuhmu, akan membuatmu lebih tangguh." Itu benar ... meski aku tak tahu, orang bijak mana yang mengatakan itu, aku tahu dia benar. Karena dia juga telah mengalami semua itu. Pasti.

Entah berapa lama lagi aku diberi kesempatan hidup, semoga berapa pun sisa usia ini, benar-benar mampu kumanfaatkan dengan sebaik-bailnya, tanpa lalai lagi, seperti dulu.

Tak hanya janji-janji, atau sekedar omong kosong tanpa realisasi. Aku harus menolong diriku sendiri unttuk menjadi lebih baik setiap hari, lebih baik di masa depan, lebih baik di kehidupan akan datang.

Sebab hanya aku yang bisa menolong diriku sendiri. Bukan orang lain. Betapa pun inginnya orang lain, mereka tak akan bisa.

Bukankah Allah sendiri yang mengatakan bahwa Dia tak akan mengubah nasib manusia sebelum manusia itu mengubah dirinya sendiri.

Maka aku harus berubah. Jelas ini tidak mudah. Tak terhitung berapa janji, berapa tekad, berapa besar semangat yang sudah kuhabiskan di hari lalu.

Aku bertekad untuk berubah, tapi itu sangat tidak mudah karena ada banyak sekali godaan godaan kemalasan dari setan yang tak pernah rela melihat dan membuarkan manusia menjadi lebih baik.

Semoga aku bisa sepenuh hati melawan godaan-godaan itu. Mungkin memang tidak mudah, tapi itu wajar. Perlu pengorbanan untuk menjadi lebih baik di kemudian hari.

Menjadi lebih baik dari hari ke hari ...

Semoga Allah berkenan memberiku kemudahan, keringanan hati, kelapangan jalan.

Semoga selalu pandai bersyukur, apa pun musim, kapan pun waktu.

Selamat Milad, diriku ...

Jadikan sisa usia semakin bertambah berkah.

Jika gajah mati meninggalkan gadingnya.

Semoga kelak kau berpulang, meninggalkan karya dan kenangan baik bagi dunia.

#MR, 24 Oktober 2016