Rp50.000, Tarif Menggantang Asap

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Agustus 2016
Rp50.000, Tarif Menggantang Asap

Sebagai seseorang yang sangat tidak toleran terhadap asap rokok, saya merasa senang ketika mengetahui kabar bahwa harga rokok akan dinaikkan, demi mengurangi jumlah perokok.

Tapi kemudian, saya memikirkan banyak hal.

Mungkinkah kenaikan harga rokok benar-benar akan berdampak positif, menekan jumlah perokok aktif pada akhirnya?

Bagaimana mungkin seseorang yang bertahun-tahun menghisap asap bisa mendadak berhenti hanya karena harga rokok melambung tinggi?

Ibarat sebuah kebiasaan, tidak mungkin bisa segera diubah atau dihilangkan dalam semalam. Begitu pula dengan kebiasaan merokok.

Apalagi, rokok sudah masuk dalan kategori 'candu'.

Banyak orang yang bilang bahwa hidupnya kurang 'hidup' tanpa rokok. 

"Kalau gak ngerokok saya pasti merasa pusing seharian."

"Kalo gak ngerokok saya gak bakal bisa mikir!"

Nah, loh ... gawat kan?

Orang-orang sudah terlanjur menjadikan rokok sebagai "mood booster".

Alih-alih berhenti, mereka semua akan memutar otak, mencari cara agar tetap bisa merasakan kenikmatan rokok.

Mungkin bagi orang-orang berduit, kenaikan harga rokok tidak menjadi masalah. 

Tapi, bagi orang-orang melarat, apalagi yang pengangguran, melambungnya harga jelas menjadi pukulan telak, yang tiba_tiba. 

Situasi ini menjadi dilema.

Bagi orang yang masih mampu berpikir bijak, mereka bisa saja mengekang hawa nafsunya, mengurangi jatah rokok harian.

Tapi, bagi orang yang tidak berpikir panjang, tidak ada kompromi. Bagi mereka, yang penting keinginan merokok harus terpenuhi. Tak peduli apa pun yang terjadi.

Nah, ketika keinginan tidak sebanding dengan kemampuan, di sinilah letak masalah yang sesungguhnya.

Ingin merokok tapi tak punya uang? Kita bisa membayangkan berbagai macam skenario yang bisa jadi akan ditempuh oleh orang-orang yang terjebak dalam situasi ini, dalam keadaan frustasi.

Yap, benar sekali. Melambungnya harga rokok akan berdampak sejajar dengan melambungnya angka kriminalitas.

Namun demikian, bukan berarti bahwa kenaikan harga rokok akan selalu berdampak negatif.

Karena bagaimana pun, meski kebijakan kenaikan harga rokok terkesan labil, tetap ada harapan.

Harapan bahwa orang-orang akan segera tersadar.

Menyadari betapa sia-sianya jika mereka harus membakar Rp50.000 per hari hanya untuk menggantang asap, mengajukan diri agar disambangi segera oleh Pencabut Nyawa.

Meskipun untuk mencapai kesadaran itu juga tidak mudah dan butuh banyak usaha.

Pada akhirnya, semua tergantung pada keputusan individu.

Yang perlu dilakukan adalah memutuskan. Berhenti, atau terus menggantang asap hingga penyesalan datang dan mereka akhirnya sadar semua sudah terlambat.

Terlepas dari semua itu, pada akhirnya, yang kaya akan semakin kaya, dan yang miskin-bisa jadi- akan semakin lara hati.

#MR, 29.08.2016

Gambar diambil di sini