Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 20 April 2016   12:52 WIB
Kepada Dara Jelita

Rahim yang mulia adalah tempat ayah-bunda menabur segala asa. Tentang dirimu yang akan menjadi kebanggaan jiwa. Kau yang akan tumbuh jelita dan berakhlak mulia, mengukir banyak prestasi sepanjang usia. Menjadi penyejuk mata, penghibur saat duka menyapa. Setampah cinta tumpah ruah untukmu yang diharap menjadi pembuka gerbang menuju Surga.

Belasan tahun terlampau sejak jantung hati melonjak gembira oleh hadirmu di dunia. Tak ingatkah bisik lembut ayah saat lantunkan azan di telinga? Tak ingatkah senandung do’a yang setia dilangitkan Bunda? Berharap kau mekar, menjelma indah jiwa raga. Namun kau, dengan sadis membunuh segala rupa asa ….

Kau belia, menggelar hidup seolah akan bernapas selamanya. Pergaulan menggila telah mengikis setumpuk bekal jiwa yang dikemas bunda. Hingar-bingar dunia remaja telah menyamarkan lantunan nasehat ayah yang kerap semarakkan sukma. Atas nama persahabatan, kau tepikan akal, kaukebas raut ayah bunda, kautelan mentah ajakan kawan tuk lakukan segala, bahkan saat kau tahu itu salah dan tak seharusnya.

Mendewakan gejolak darah muda, segala macam kesenangan kaukulum nyata. Kautabrak pagar etika, bergaul suka-suka, berpesta pora. Kautangisi diri jika pasangan kasih belum ada. Saat pasangan kau dapat, kemesraan terumbar sepanjang jalan seolah dunia milik berdua.

Tak cukup itu saja. Dengan tega kau pun menipu orang tua. Maka kaupentaskan skenario usang; harus menuntaskan tugas sekolah, muka memelas sembari membentangkan telapak meminta dana. Menyebut sejumlah fantastis dengan wajah polos tanpa dosa.

Nyatanya, hasil keringat ayah melayang tiada guna. Demi menjadi “Anak Gaul”, kauhamburkan rupiah membeli berbagai wujud benda tak jelas tujuannya. Berdandan tanpa etika; baju ketat membentuk lekuk raga, rok mini memapar paha, bibir merah menggoda. Rupanya itu membuatmu bangga.

Ke sekolah kini hanya sekedar hadir saja. Galau melanda karena kalah tebar gaya, alih-alih mencemaskan nilai yang semakin rutin membuat ayah-bunda mengurut dada. Lalu, bagaimana masa depanmu akan merupa? 

Lupakah kau bahwa dunia ini fana? Tak sadarkah bahwa yang kautapaki itu hanya fatamorgana? Atau mungkin otakmu sudah tak lagi menetap di tempurung kepala?!

Wahai dara … masa depan jangan kaugadai untuk sekilas euforia. Segeralah benahi jiwa-raga, sebab tak ada jaminan bahwa kau akan hidup hingga tua. Jangan sampai maut menyapa saat kau terlelap dalam buaian dunia, meninggalkan ayah-bunda menanggung duka tanpa jeda.

 

#MR, di bawah naungan langit Sumbawa

#TLBK, 18 Mei 2015

Gambar diambil di sini

Karya : Muthmainnah Rati