Kepada Dara Jelita

Muthmainnah Rati
Karya Muthmainnah Rati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 April 2016
Kepada Dara Jelita

Rahim yang mulia adalah tempat ayah-bunda menabur segala asa. Tentang dirimu yang akan menjadi kebanggaan jiwa. Kau yang akan tumbuh jelita dan berakhlak mulia, mengukir banyak prestasi sepanjang usia. Menjadi penyejuk mata, penghibur saat duka menyapa. Setampah cinta tumpah ruah untukmu yang diharap menjadi pembuka gerbang menuju Surga.

Belasan tahun terlampau sejak jantung hati melonjak gembira oleh hadirmu di dunia. Tak ingatkah bisik lembut ayah saat lantunkan azan di telinga? Tak ingatkah senandung do’a yang setia dilangitkan Bunda? Berharap kau mekar, menjelma indah jiwa raga. Namun kau, dengan sadis membunuh segala rupa asa ….

Kau belia, menggelar hidup seolah akan bernapas selamanya. Pergaulan menggila telah mengikis setumpuk bekal jiwa yang dikemas bunda. Hingar-bingar dunia remaja telah menyamarkan lantunan nasehat ayah yang kerap semarakkan sukma. Atas nama persahabatan, kau tepikan akal, kaukebas raut ayah bunda, kautelan mentah ajakan kawan tuk lakukan segala, bahkan saat kau tahu itu salah dan tak seharusnya.

Mendewakan gejolak darah muda, segala macam kesenangan kaukulum nyata. Kautabrak pagar etika, bergaul suka-suka, berpesta pora. Kautangisi diri jika pasangan kasih belum ada. Saat pasangan kau dapat, kemesraan terumbar sepanjang jalan seolah dunia milik berdua.

Tak cukup itu saja. Dengan tega kau pun menipu orang tua. Maka kaupentaskan skenario usang; harus menuntaskan tugas sekolah, muka memelas sembari membentangkan telapak meminta dana. Menyebut sejumlah fantastis dengan wajah polos tanpa dosa.

Nyatanya, hasil keringat ayah melayang tiada guna. Demi menjadi “Anak Gaul”, kauhamburkan rupiah membeli berbagai wujud benda tak jelas tujuannya. Berdandan tanpa etika; baju ketat membentuk lekuk raga, rok mini memapar paha, bibir merah menggoda. Rupanya itu membuatmu bangga.

Ke sekolah kini hanya sekedar hadir saja. Galau melanda karena kalah tebar gaya, alih-alih mencemaskan nilai yang semakin rutin membuat ayah-bunda mengurut dada. Lalu, bagaimana masa depanmu akan merupa? 

Lupakah kau bahwa dunia ini fana? Tak sadarkah bahwa yang kautapaki itu hanya fatamorgana? Atau mungkin otakmu sudah tak lagi menetap di tempurung kepala?!

Wahai dara … masa depan jangan kaugadai untuk sekilas euforia. Segeralah benahi jiwa-raga, sebab tak ada jaminan bahwa kau akan hidup hingga tua. Jangan sampai maut menyapa saat kau terlelap dalam buaian dunia, meninggalkan ayah-bunda menanggung duka tanpa jeda.

 

#MR, di bawah naungan langit Sumbawa

#TLBK, 18 Mei 2015

Gambar diambil di sini


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    T_

    Layak promo...

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Darah muda..darahnya para remaja...!! Begadang jangan begadaaaang...!! Maaf kang rhoma muncul..
    Pandangan anak muda tak seluas anak tua..maksudnya orang dewasa, makanya kata orang tua lebih susah jaga anak gadis pas remaja..
    Semoga masih tersisa usia untuk menyadari kealpaan dan segera memperbaiki..karena sudah ga zaman rosul dan sahabat, saat salah langsung kena tegor dengan azab..
    Sekarang kita ditegor kalau Allah sayang , wujud maha penyanyangnya Dia..tapi mungkin kalau kita jauh dariNya, kita akan dibiarkan aja dengan segala pemberiannya, wujud maha pemberinya Dia.
    Kitalah yang menentukan mau di sayang atau mau diberi aja dan dicuekin.
    *Mamah sedang ceramah

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Mngkin terinspirasi sm adek2 yg baru lulus sekolah ya mbak?

    Baju dicoret, rok dirobek, pose miring sambil sedikit sensual...biar dpt gelar kekinian...

    • Lihat 14 Respon

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    merajuk rindu dalam sukma, entah sampai kapan sembilu ini meratapi kegelisahan yang terlalu dini..

    mba spasinya jangan lupa di perbaiki

    • Lihat 11 Respon