Ulasan Buku : 40 Hari Menuju Kematian

Ulasan Buku : 40 Hari Menuju Kematian

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Buku
dipublikasikan 09 Agustus 2018
Ulasan Buku : 40 Hari Menuju Kematian

Kemarin pagi, aku melihat seekor kucing hendak menyebrang. Dalam waktu yang sama aku mendengar sebuah motor melaju dengan kecepatan tertentu. Dalam sekali rasa, aku seperti merasa ada kemungkinan bahwa si kucing bisa saja tertabrak. Maka aku berusaha sedikit menghalangi jalannya tersebut. Tapi dengan mudahnya dia melewatiku.

Dan, suara rem motor. Suara tabrakan kecil. Suara kucing.

Saat itu, aku merasa sangat menyesal karena tidak bisa menghentikan si kucing. Aku menangis selama beberapa detik karena merasa bersalah kemudian berusaha mengondisikan hati kembali. Padahal kucingnya, tak apa-apa, tapi ia pincang pada satu kaki depan sebelah kiri.

Kematian adalah kepastian.

Temanku pernah membagikan sebuah insight, ia baru saja kehilangan Ayahnya, kemudian beberapa hari setelah itu dia bercerita:

“Ayah saya sehat, sangat sehat. Sebelumnya masih bicara dan mengobrol biasa. Kalau orang yang tidak percaya kematian, pasti tidak akan mudah percaya ini bisa terjadi. Mungkin juga tidak akan mudah menerimanya. Tapi kita, sebagai orang Islam, mempercayai hal-hal ghaib , mempercayai bahwa kematian itu sudah ditentukan oleh Allah, sehat, sakit, tua, muda..

InsyaAllah saya sudah menerimanya.”

Kita tidak bisa menghentikan / mencegah suatu mudharat yang telah ditakdirkan Allah kepada sesuatu / seseorang. Begitu juga kita tidak bisa memberikan suatu mudharat kepada sesuatu atau seseorang kecuali dengan kehendak Allah subhanahu wata’ala.

“Pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering..” (HR. Tirmidzi)


 

Dan itu semua adalah Intermezzo.

Sebenarnya saya ingin mengulas tentang buku 40 Hari Menuju Kematian. Namun, mohon maafkan saya bila ulasannya kurang mewakili isi buku atau tidak legkap, karena buku saya itu hilang. Lebih tepatnya, Allah titipkan kepada yang lain. Tapi, semoga bermanfaat ya.

Judul : 40 Hari Menuju Kematian
Penulis : Syaikh Maulana Muhammad Islam

Kalau anda berpikir bahwa buku ini menceritakan tentang ciri-ciri orang yang akan meninggal dalam waktu 40 hari, maka anda telah keliru. Walaupun memang dari judulnya mengarah pada hal tersebut ya? Hehe. (sebenarnya hal itu juga yang membuat saya akhirnya duduk dan membaca contoh bukunya)

Pada bagian awal, buku ini menceritakan tentang sakaratul maut, tentang orang-orang yang memilki cara sakaratul maut yang indah, tentang orang-orang yang mendapatkan janji-janji Allah setelah kematiannya. Pada bagian ini, banyak sya’ir syair kematian yang dituliskan.

Bagian selanjutnya, kamu mungkin bisa menebaknya. Apa yang terjadi setelah kematian? Apa yang kita jumpa?

Alam Barzakh. Malaikat Munkar dan Nakir. Nikmat dan Siksa Kubur. Diceritakan pada bagian ini betapa mengerikannya azab kubur. Bila mana kita mendapatkan azab pada saat Alam Barzakh, ketahuilah siksa neraka jauh lebih mengerikan daripadanya. Dan bilamana kita mendapatkan kenikmatan karena amal sholeh di alam barzakh, ketahuilah bahwa syurga sungguh jauh lebih nikmat dari apa yang kita bayangkan.

Diceritakan juga tentang betapa butuhnya orang yang meninggal terhadap do’a- do’a kita (orang yang masih hidup). Terutama seorang orang tua kepada anaknya. Tentang betapa pentingnya memiliki amal jariyah untuk mengalirkan pahala kebaikan kepada kita setelah kita meninggal nanti.

Bagian selanjutnya, diceritakan pada pembaca tentang Neraka kemudian Syurga. Tentang siksa-siksa neraka yang ayat-ayat Al-Qur’an sebenarnya sudah cukup banyak menceritakannya. Buku tersebut mendeskripsikannya secara rinci, hingga kadang kepalaku terasa pusing, membayangkannya.

Kuberi salah atu cuplikan buku yang pernak kuabadikan :

Nah, belum selesai aku membaca part tentang Neraka, buku itu berpindah tangan. Hehe.

Saya jamin, teman-teman akan menangis di tiap bagiannya. Karena sebegitu jelasnya Allah memberikan ancaman kepada orang-orang yang bermaksiat, tapi kita selalu bisa bermaksiat lagi- dan lagi. Kadang bahkan kita menyombongkan diri, berbisik , ‘tak apalah aku berbuat dosa yang ini, nanti aku akan menanggung siksanya, yang penting aku punya iman kepada Allah sebesar biji zarrah, maka nanti akan Allah selamatkan aku ketika di Neraka’. Padahal dengan lemahnya kita ini, sedetikpun kita tidak akan bisa bertahan dari siksa neraka. Sedetikpun kita tidak akan mampu berdiri untuk nanti melewati sirathal mustaqim tanpa Rahmat-Nya. Dan aku juga yakin kita akan menangis mengetahui seberapa besar nikmat yang Allah telah berikan dan Allah siapkan di surgaNya. Menangis karena hati kecil kita berharap untuk masuk ke dalam syiurga. Ya Rabb.

Buku ini sangat bagus sebagai pengingat kita. Bawa ia kemana-mana. Tak pernah ada jaminan berapa lama lagi kita akan bernafas. Tak pernah ada jaminan bahwa kita akan selamanya dalam nikmat iman dan islam. Sebentar saja Allah cabut nikmat-nikmatNya maka kita tak akan bertahan, entah di dunia maupun di akhirat. Terus berdo’a, meminta ampun, menjalani kehidupan sesuai dengan perintahNya dan tuntunan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam.
 

“Menangislah kamu, apabila kamu tidak bisa menangis, maka pura-pura menangislah” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Dishohihkan oleh Hakim dan Dzahabi)

Semoga Bermanfaat,

Sincerely, 
Muthi Fatihah Nur

  • view 28