Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Buku 31 Juli 2018   17:24 WIB
Ulasan Buku : Blink

Saat itu, kalimat yang pertama kali aku baca pada cover-nya adalah “Blink : Kemampuan berpikir tanpa berpikir.”. Kemudian saat kulihat cuplikan di belakangnya, kalimat selanjutnya yang aku baca adalah, ‘keputusan sekejap bisa dilakukan dengan informasi yang sedikit tapi akurat melalui snap judgement dan thin slicing.’

Detik selanjutnya kukatakan pada diriku, ‘Aku mau baca buku ini’.

Judul : Blink
Tebal Halaman : 316 halaman
Penulis : Malcolm Gladwell

Blink adalah buku yang menarik. Bagimu yang suka ‘mengetahui latar belakang’ sebelum ‘isi’, maka Blink melakukan hal yang sama pada pembacanya. Ia menyajikan banyak kisah dan juga data penelitian  pada setiap chapter sebelum maksud yang ingin disampaikan.

Blink menceritakan bahwa manusia memiliki alam bawah sadar dan otak yang teramat canggih. Dalam proses yang singkat namun tepat, manusia bisa menentukan hasil terbaik dibandingkan proses yang memiliki terlalu banyak perenungan dan input untuk dipertimbangkan. Kemampuan untuk melakukan thin slicing dan snap judgement ini sebenarnya sering kita lakukan. Ia juga bisa dilatih, karena nyatanya tak semua orang pandai melakukannya dan pada akhirnya melakukan kesalahan karenanya. Contohnya, pada suatu chapter berjudul : Riset Pasar Tidak Selalu Mencerminkan Keinginan Pasar’, pada buku ini dibuktikan bahwa menanyai beberapa orang secara  langsung untuk menilai hasil karya, tidak begitu efektif dan  apalagi bila yang diminta untuk mengambil cuplikan tipis itu adalah mereka yang bukan ahli.

Pada Blink juga, pembaca diajarkan untuk memiliki sesitivitas untuk tidak menilai berdasarkan apa yang kita lihat secara kasat mata. Blink  juga bisa bisa berbahaya. Bagaimana saat otak berada dalam stress yang sangat tinggi, bisa menjadi tidak mampu untuk melakuka rapid cognition (Pemahaman cepat) yang biasa dengan mudah dilakukan kepada wajah, bisa bersikap agresif dan tidak mampu membaca keadaan dan pikiran orang lain sehingga pengambilan keputusan bisa salah dan berakibat fatal.  Otak kita mengalami autisme sesaat. Kisah tentang tragedi di Wheeler Avenue, New York City menarik untuk disimak. Dan kisah ini membuatku beruraian air mata entah mengapa.

Terakhir, pada chapter ‘Mendengarkan dengan Mata’, pembaca dibuat merenung bahwa kemampuan Blink, harus dijauhkan dari prasangka. Blink bukanlah kekuatan magis, melainkan kemampuan yang dilatih dan dapat dikendalikan, juga ditingkatkan.

Menurutku, buku ini memberikan banyak sekali informasi dan membuka pikiran kita terkait padangan kita terhadap sesuatu atau pada orang lain. Sangat menarik, kuberi nilai delapan dari sepuluh!.

Untukmu, cobalah juga untuk membacanya. Semoga bisa kau dapatkan manfaatnya.

Sincerely,
Muthi Fatihah Nur

 

Karya : Muthi Fatihah Nur