Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 17 Juli 2018   17:16 WIB
Jejak Anak-Anak

Ini adalah berita dari Inilah koran yang memuat cerita dari sanlat yang diselenggarakan bersama antar beberapa lembaga, dan aku masuk di dalamnya. Aku ikut bangga.

Hari-hari bersama anak-anak itu terlewati bagai angin. Kadang ia menyibak debu pada mata, membuatmu menangis. Kadang ia bertiup lembut menyejukkan harimu. Kadang ia gersang dan kosong, tak terasa apa-apa.
Wkwk, yang diatas itu hanya majas saja.

Anak-anak lagi. Karena kegiatanku bergulat dengan anak-anak lagi, anak-anak lagi. Mereka kira aku suka sekali dengan anak-anak. Nyatanya tidak,  aku hanya suka ‘aja’ , bukan suka ‘banget’.

Lalu apa yang membuatku bertahan dengan mereka?

Cermin

Aku selalu memasang cermin pada anak-anak saat aku bermain bersama mereka, dan  melihat bahwa mereka seperti adik-adikku. Kadang aku juga mengandaikan mereka menjadi aku. Aku punya empat adik, (cukup banyak walau selalu ada yang lebih banyak) dan aku tumbuh bersama mereka dengan segala sifatnya.

Aku mengingat saat-saat pertengkaran kami, 
saat dimana aku harus mengontrol diri melihat ulahnya,
saat dimana aku harus berterima kasih setelah aku meminta tolong, 
saat dimana aku harus mengapresiasi karyanya,
saat dimana aku meminta mereka melakukan sesuatu, seperti mandi, sholat, atau makan.

Aku berusaha menganggap mereka sama, dan menggunakan cara yang sama  meskipun tidak selalu. Setiap anak seperti keluarga bagiku. Dengan cara itu, aku bisa lebih bersabar. Sebagai tambahan, Alhamdulillah Allah memberikan rasa ingin selalu menolong dan empati. Itulah yang membuatku bertahan bersama mereka.

Mengetahui Tahap Perkembangan Mereka

(Aku tahu? Sebenarnya aku juga masih cari tahu soalnya dulu pernah baca tapi tidak diarsipkan. Trus sekarang menyesal karena ketika butuh, datanya tidak ada)

Ada nih, sepercik nasihat yang pernah kubaca, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyampaikan..

“Biarkanlah anak-anak kalian bermain dalam tujuh tahun pertama, kemudian didik dan bimbinglah mereka dalam tujuh tahun kedua, sedangkan tujuh tahun berikutnya, jadikan mereka bersama kalian dalam musyawarah dan menjalankan tugas.” 

Sudah kuduga anak laki-laki cenderung lebih memberontak daripada anak perempuan apabila diminta untuk melakukan sesuatu, terutama apabila mereka tidak merasakan manfaatnya secara langsung. Salah satunya adalah Shalat.

Bagi kita yang sudah dewasa pun shalat tidak selalu mudah dilakukan. Apalagi bagi anak-anak. maka jangan langung memarahi dan bersabarlah. 

Guru fisikaku pernah membuat status di facebook,

“Ajarilah anakmu sholat dan bersabarlah dalam melakukannya.”

Aku punya cerita, ketika Sanlat kemarin, ada anak yang lucu namanya arkaan. Dia berlarian di gedung serba guna Salman ITB saat iqamat sudah berkumandang. Tadinya kupikir, lambat laun dia akan pergi ke masjid,tapi ternyata tidak.

Maka,kusimpan sapu yang daritadi kugunakan dan berhenti mengabaikannya. Saat kudekati dia melarikan diri dan saat duduk kuajak dia bicara.

“ Arkan, mau tahu sebuah rahasia nggak?

“Apa?

“Arkaan, tahu nggak, kalau anak yang umurnya  10 tahun itu kalau gak mau sholat boleh dipikul?”

“ Tahu” 

“Kakak nggak akan pukul arkan kok. Kakak cuma pengen ngasih tahu, kalau sholat itu wajib banget”

Setelah itu arkaan bediri, lari-lari lagi, “Aaaah, aku mau dipukul.. ”, katanya sambil tertawa lalu ia berlalu dari hadapanku dan pergi untuk shalat.

Cerita lain, anak-anak remaja tanggung melakukan kesalahan dengan bermain bola di lorong. Membuat para tetangga kamar tidak bisa tidur dan terganggu, dan seluruh panitia berada di lantai yang berbeda untuk briefing hari esok sehingga tak ada yang tahu.

Anak-anak memang unpredictable, ketika ditinggalkan, keadaan kondusif seperti biasa. Tidak ada yang mengira anak-anak akan bermain bola. Salah kami (sebagai panitia) karena tidak ada panitia yang menjaga mereka sehingga tindakan tegas itu akhirnya dilakukan orang lain.

Anak-anak mungkin sering membuat masalah dan meninggalkan jejak-jejak kekacauan, karena pikiran mereka belum berkembang sebagaimana orang dewasa. Disiplin, tanggung jawab, kejujuran, kebersihan, dan ketertiban nilai-nilai itu, masih harus ditanamkan secara perlahan. Mereka juga perlu dikenali perihal sanksi / hukuman. Dan melakukan pendekatan melalui fisik dan emosi. Saat kita tahu pada tahap mana mereka berada kita bisa memberikan treatment yang tepat.

Aku tidak menuliskan ini karena aku expert di bidang anak-anak. No. Salah besar. Sejujurnya, aku ingin memberitahumu bahwa saat kita menghadapi anak-anak, aku harap kita, sebagai orang dewasa memposisikan diri dengan benar, kapan kita berperan sebagai komandannya (yang bersahaja dan dipatuhi), sebagai sahabatnya (tempatnya bermain dan bersenang-senang), dan sebagai orang yang dituakannya (tempatnya bersandar dan bertanya). Itu saja.

dan, selalu, tulisan ini adalah tamparan untuk diriku sendiri juga.

Foto : diambil bersama di Taman Film (Pasopati) Bandung

Muthi Fatihah Nur
17/07/2018

Karya : Muthi Fatihah Nur