3 Pertanyaan Konsultasi Talent Mapping

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 April 2018
3 Pertanyaan Konsultasi Talent Mapping

Talent Mapping menjadi bahasan yang menarik karena bagiku, bercerita tentang kepribadian seseorang, pemikirannya, sifatnya, entah dari dulu aku menyukai pembahasan itu. Dan sejujurnya, Talent Mapping menjawab banyak pertanyaan yang selama ini aku ajukan kepada diriku sendiri

“Kenapa sih, nih hati kaya tepung, di tiup dikit aja hancur”

“Kenapa aku selalu / hampir selalu bisa melakukan banyak hal untuk orang lain tapi tidak untuk diriku sendiri”

“Kenapa sih aku jadi orang kok susah banget move on, dikit-dikit ingat masa lalu”

“Kenapa sih aku bisa dengan mudah mengenali nama orang satu persatu, sifatnya, kebiasaanya”

“Kenapa sih aku mudah mengetahui sesuatu dengan hanya membaca mimik wajah”

“Kenapa sih aku kok jadi orang perasa banget ya?”

Ah. Dan masih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan sudah melayang-layang di otakku sejak aku SMP dan well, belum ada yang bisa menjawab pertanyaan itu sebaik Talent Mapping. Meskipun dengan mengetahui ini, kita tidak boleh mengotak-kotakkan orang-orang, atau menjadikan bakat dan kelemahan kita sebagai pembenaran atas sesuatu yang ditimpakan atau menimpa kita. Yah, bukankah segala ilmu ataupun teknologi apabila digunakan dalam kebaikan maka ia jadi sebuah keberkahan dan tak mungkin sebaliknya. Jadi pengetahuan kita terhadap TM ini haruslah jadi rahmat kan?

Baiklah. Sejujurnya yang ingin kubagi adalah beberapa pertanyaan yang aku ajukan kepada praktisi. Untuk apa ya kubagi? Sederhana, aku berharap kamu bisa menemukan sesuatu dari pertanyaanku pada praktisi TM. Dan kalau kamu punya pertanyaan yang sama, semoga membantu.  

Pertanyaan 1
“Katanya, aku punya bakat Relator, greetings harusnya adalah hal mudah. Tapi kenapa aku kok nggak seperti itu, malah sebaliknya?”

Jawab : “Karena Woo kamu rendah. Kamu kalau ketemu orang bingung gimana mau memulainya. Gak tahu harus ngapain dan ngomong apa. Tapi kamu bisa membedakan tiap orang, ke si A harus bagaimana, ke si B harus bagaimana. Jadi harusnya kamu bisa memulai dengan caramu sendiri ke tiap orang dan mungkin beda-beda.”

Hikmah : Tidak apa-apa sih. Semua orang punya caranya masing-masing. Menyapa orang lain adalah kebaikan. Seharusnya kamu tidak melarikan diri, dan kuatlah. Sapa saja yang sudah kamu kenal. Senyumin aja. Meskipun tanpa mereka beritahu, kamu sudah tahu.

Pertanyaan 2
“Aku bisa jadi orang yang sangat netral, tapi saat aku menganggap seseorang menyebalkan atau aku menemukan orang yang sifatnya berkebalikan denganku, aku cenderung tidak menyukai itu dan mudah sebal terhadapnya. Apa aku berlebihan?”

Jawab : “Kamu ingin selalu menjalin hubungan dengan orang lain. Nyatanya, ketidakcocokkan itu ada. Kalau tidak cocok ya tidak apa-apa, tidak perlu saling bermusuhan. Minimalisir interaksi yang bisa membuat persinggungan. Carilah jalan dimana kalian bisa tetap bekerja sama.”

Hikmah : Namanya juga bersaudara. Tak sefrekuensi itu biasa. Tak cocok itu biasa. Kemudian Allah mengajarkan kita untuk bersabar dan memberi maaf, Rasulullah mengajarkan kita untuk memaklumi dan bersikap lembut. Dengan empat hal itu, masalah ini harusnya mudah terselesaikan.

Pertanyaan 3
“Kalau mencari pasangan *ehem* (tiba-tiba berdehem tak jelas) eh, partner hidup, kita perlu mencermati kecocokan TM kami atau cukup dengan menjadi dewasa saja (yang penting saling memahami)?”

Jawaban : “Bisa, tapi kamu tidak perlu sampai berpikir ‘Wah, aku bakat Commandnya rendah jadi aku harus cari yang Commandnya nomor 1’. Nah, tidak perlu begitu. Kalau bisa ada bakat-bakat yang sama, supaya bisa bersinergi. Tapi kalau ada beda, tak apa-apa, agar saling melengkapi.”

Hikmah : Setuju. Pasangan itu seperti 2 potongan puzzle mungkin. Harus ada sisi yang datar (kesamaan), juga perlu ada sisi yang menonjol atau melengkung ke dalam (perbedaan) agar pasangannya bisa saling melengkapi. Karena bila benar-benar sama, sama-sama datar, atau benar-benar berbeda, semua pinggiran melengkung, maka ia takkan menempel, hanya bersinggungan saja.

Nah begitu. TM sangat bermanfaat untuk mengarahkan kita untuk memahami diri kita sendiri, tapi ada yang lebih dari itu, kita mencari apa yang Allah rencanakan pada untuk hidup kita, sehingga kita bisa melakukannya sebaik mungkin.Setiap orang memiliki bakat. Dan pada TM yang pernah kujalani ini, disebutkan ada 34 macam tema bakat pada diri setiap orang. Yang berbeda adalah, urutan dari bakat-bakat tersebut. Selanjutnya, aku tak akan menjelaskan, hehe. Jika ingin tahu lebih lanjut, silahkan cari Talent Mapping anda~

Semoga bermanfaat.

Bakatku : Belief, Connectedness, Developer, Emphaty, Relator, Intellection, Harmony, Individualization, Consistency, Responsibility, Includer, Context, Ideation, Significance.

Muthi Fatihah Nur
12 April 2018

 

  • view 53