Tulisan : Pemaknaan Sederhana Teknologi untuk Kehidupan

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Agama
dipublikasikan 01 April 2018
Tulisan : Pemaknaan Sederhana Teknologi untuk Kehidupan

Teknologi adalah pedang bermata dua. Teknologi adalah kendaraan. Teknologi tergantung bagaimana manusianya.

Kalau kita memaknai cara hidup manusia yang hidup sebelumnya dengan yang hidup pada saat ini, kiranya sungguh berbeda. Bahkan tidak sampai sepuluh tahun yang lalu, tidak begini rasanya. Ke-positif-an yang bisa kita ambil dari kemajuan teknologi adalah nikmat dari Allah, sedangkan buah dari penggunaan teknologi untuk kebaikan diri dan ummat menyangkut iman dan islam adalah berkah, rahmat, anugerah dari Allah.

Kecerdasan atau aqli (akal) yang dimiliki manusia, tak Allah ciptakan selain untuk kembali kepada Allah. Untuk menemukan kuasa di balik tujuh lapisan langit yang tak tertembus (kecuali dengan sulthannya). Menemukan hikmah pada dua lautan yang tak bercampur. Menemukan kuasa dibalik bangun dan tidurnya manusia. Dan kecerdasan itu menjadi Rahmatalil ‘alamin bilamana seimbang dengan kecerdasan spiritualnya. Karena tak akan sampai akal kita pada pemahaman tentang Allah. Tapi rasa fitrah kepada iman dan islam, akan membawa kita mendekat dan mengenal Allah.

Ustadz Somad mengatakan, “Carilah Allah menggunakan rasa.”

Namun si pedang mata dua bisa menusukkan sisi lain teknologi pada dada manusia. Berkatnya juga, fitnah dunia didekatkan, seakan dibawa ke depan mata. Sedekat jarak antara mata dan gawai kita. maka, jika kita tak berpelindung pada Allah, pasti mudah bagi kita mengikuti hawa nafsu. Hasilnya? Kerusakan moral, kemalasan, pencurian hak milik, itu baru sebagian akibat permainan teknologi dan manusia. Belum kuceritakan tentang alam. Belum tentang persenjataan. Belum tentang genosida dan  kezhaliman lainnya.

Kuceritakan ini padamu, bukan berarti aku memahami kedua tema ini. Tapi mari saling mengingatkan tentang bagaimana kita bersikap adil pada diri kita sendiri dan hidup. Menjauhkan diri dari hal buruk dan menjadi orang yang bermanfaat di jalan Allah dengan jalan dan cara apapun yang kita pilih. Teknologi akan jadi kebaikan.

Ustadz Somad menambahkan dalam ceramahnya tadi suatu kalimat yang menggugahku, “Puncak dari teknologi adalah Waqinaa ‘azabannaar, lindungilah kami dari azab neraka. Berserah diri kepada Allah.”

Pun, pemikiran kita ini hanya seupil atau bahkan tak sampai dari kuasaNya. Bila dalam kisah Nabi Sulaiman yang hendak membawa kerajaan Ratu Bilqis, disitu diceritakan kembali oleh Ustadz Abdul Somad tadi ada jin Ifrit yang mampu membawa kerajaan dalam sekejap berdiri hingga duduk, dan ada orang shalih (Ahli kitab) yang mampu membawa kerajaan dalam sekejap mata. Lah kita?

Sekian.

**
Intermezzo : Kata Talent Mapping, saya punya bakat context yang disebutkan bahwa saya mudah terpesona oleh masa lalu. Sulit Move on, dan menyukai sejarah. Well, itu benar. Menulis soal teknologi dan bayangan masa depan, saya tak pandai melakukannya. Untuk itu saya mohon maaf atas kekurangan dalam tulisan ini.

Happy reading!

Memaknai hikmah Tabligh Akbar Ustadz Abdul Somad
Bandung, 1 April 2018

Copyright : Muthi Fatihah Nur

  • view 104