Ujian Kesabaran

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Motivasi
dipublikasikan 13 Maret 2018
Ujian Kesabaran

Saat ujian, guru selalu diam, katanya. Ujian mungkin begitu. Jawaban setiap persoalan itu ada, namun ia turun pada waktunya. Atau barangkali ia sudah turun dari sekian lama tapi kita gagal menemukannya.

Aku dinasehati, ”Inti dari ujian adalah jawabannya. Kamu harus benar-benar paham, kira-kira apa sebenarnya soal dari Allah. Supaya jawabannya tepat. Hati-hati tertipu sama soal bersayap. Kenali banget masalahnya.”

Membacanya aku terdiam sejenak meski rasanya ingin menangis malu. Belakangan ini lingkungan terasa tidak mendukung Beberapa hari pulang-pergi berkegiatan  tanpa jiwa. Aku harus mengajak diriku berbicara dengan hatiku, sebenarnya aku ada apa. Apakah karena satu hal merusak suasana kemudian rusak hatiku hingga niatnya. Rusak senyumanku hingga kebahagiaanya. Apa kabar niat untuk terus berbuat baik, jangan jangan tinggal ampasnya. Seharusnya, betapa indah bila ketulusan niat dibarengi kesabaran yang lapang.

 

Kemarin, aku mendengar sebuah cerita dalam sebuah kajian online,”Pada saat kejadian mengenaskan di Karbala, keluarga Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dibantai. Seusai kejadian itu, para pembunuhnya ada menjadi gila, ada yang terusir, ada yang menjadi pengemis, dan lain-lain. Tapi, Ali bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cicit Rasulullah SAW, menjaga mereka, merawat mereka. Kemudian ditanyakan, Mengapa?

Ali bin Zaenal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib berkata,

“Mendendam itu seperti memasukkan racun ke dalam mulut kita sendiri, lalu kita berharap orang lain yang akan mati.”

Ah, betul juga. Betapa beracunnya sebuah kebencian sebab itulah cicit Rasul melepaskannya. Kalimat itu amat menarik untukku yang tak pandai mengungkapkan dan lebih mampu memendam rasa.  Pendam dan Dendam. Dua kata yang mirip namun berbeda makna. Dan aku meski harus memendam, kuharap itu demi kesabaran. Bukan memupuk dendam.

Aku ingin berbaik sangka bahwa Allah ingin aku terus, terus dan terus memaafkan. Umar bin Abdul aziz mengatakan, “Carilah kemaafan Allah dengan banyak-banyak memaafkan manusia.” Kiranya ketentraman hati yang jadi tujuan kita, memaafkan pasti bisa kita lakukan. Bahkan saat orang yang menyakiti kita tak layak untuk dimaafkan, tapi kita layak mendapatkan kedamaian. Orang muslim itu baik, dan kata Ust. Salim, ‘betapa uniknya agama kita ini karena di dalam Al-Qur’an dan hadist kita lebih banyak diperintahkan untuk memberi maaf ketimbang meminta maaf.

Dan aku, tetap saja tak luput, aku juga pasti banyak kesalahan sana sini. Kau yang membaca ini, bila ada luka di hatimu karena aku, mohon maafkan aku.

Bandung, 13 Maret 2018

Copyright : Muthi Fatihah Nur

  • view 72