Tulisan : Naik level?

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Motivasi
dipublikasikan 11 Maret 2018
Tulisan : Naik level?

Kelemahan Kita, seharusnya jangan menjadi pembenaran untuk tidak menerima keadaan orang lain.

Kelemahan kita, seharusnya tidak menjadi alasan untuk menolak kebaikan yang datang.

Kelemahan kita, tentunya bukan batu penyandung yang membuat kita berhenti naik level.


Saat itu aku pasti tertakdir untuk mengucapkan kalimat itu,

“Apakah semua orang tertakdir untuk jadi seorang pemimpin?”

Dengan sedikit tertawa pada awalnya, beliau kemudian menjawab, “ Setiap pemimpin punya gayanya masing-masing dalam memimpin.”

“Dan tentu setiap orang adalah pemimpin, tapi memang tidak semua orang mampu menjadi pemimpin pada keadaan tertentu.”

Lalu, beliau bercerita tentang kisah Abu Dzar dan Rasulullah SAW..

‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata tentang Abu Dzar, “Abu Dzar bagai sebuah wadah yang penuh dengan pengetahuan.”Tapi Abu Dzar tidak pernah diberikan kepemimpinan oleh Rasulullah SAW, bahkan di masa kekhalifahan selama beliau hidup, beliau belum pernah menjadi pemimpin.

Diceritakan, pada suatu hari Abu Dzar menawarkan diri kepada Rasulullah SAW. Bukan karena ia haus akan kekuasaan, namun ia ingin lebih bermanfaat untuk menolong, dan berbagi kepada orang lain.Abu Dzar mengatakan, “Yaa Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku seorang pemimpin?”

Mendengar permintaan itu, Rasulullah menepuk pundak Abu Dzar dan bersabda :“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim no. 1825).Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:“Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (HR. Muslim no. 1826).

Kemudian Beliau melanjutkan, “Tapi saat sebuah amanah jatuh ke suatu pundak, kelemahan jangan dijadikan pembenaran untuk tidak naik level (menolak suatu amanah).”

Aku mengangguk-angguk. Aku tidak berusaha membantah karena merasa apa yang dikatakannya adalah benar.

Kadang kita merasa memahami diri kita sendiri sejauh apa jangkauan kita, sehingga kita menolak untuk merengkuh capaian lebih jauh padahal kita bisa atau kita merasa bisa merengkuh capaian sejauh apa yang kita bayangkan tapi ternyata kita tidak mampu. Itulah yang Rasulullah SAW lakukan pada Abu Dzar.

Sisi yang tidak bisa kita lihat pada diri kita sendiri adalah sisi untuk dilihat orang lain. Mungkin kita perlu memadukan pandangan untuk mendapatkan keputusan terbaik. Maka di bagian ini, kehadiran orang lain menjadi penting. Kemudian, aku bersyukur karena ada yang mampu melihatnya dan mengarahkanku (secara tidak langsung) untuk menjadi lebih baik.

Copyright : Muthi Fatihah Nur

Jum'at, 9 Maret 2018

Sumber Sirah Nabi Muhammad SAW dan Abu Dzar : https://haryobayu.web.id/blog/memilih-pemimpin-ala-rasulullah/

  • view 95