Aku, Kita, dan Jogja (2)

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Januari 2018
Aku, Kita, dan Jogja (2)

Destinasi selanjutnya, setelah beristirahat semalam di masjid Jogokariyan dan menikmati sarapan soto di dekat sana yang sangat enak (enak atau lapar?), adalah kami mampir sebentar ke malioboro. Berbelanja.

Aku? tidak berbelanja. hanya sibuk JJGJ (jalan-jalan gak jelas) dan Berkarya layaknya anak SD.

image
 

Siang menjelang, kami pergi kemudian ke Teras Dakwah. Setelah melewati jalan berliku di gang, diatara rumah-rumah asri dan berwarna-warni, kami menemukan mereka.

Teras Dakwah

Teras Dakwah, bermakna “Sebelum ke Rumah, pasti ke Teras dahulu.” “Teras Dakwah sengaja kami buka pintunya lebar-lebar bagi orang-orang yang baru belajar tentang Islam”.

Perjuangan mereka saat merintis, sama-sama dimulai dari masjid meskipun tidak berakhir di masjid, melainkan di sebuah teras rumah yang kemudian direnovasi agar bisa merangkul kawan-kawan seiman dengan nyaman dan optimal. Dilengkapi dengan Teras Geprek , sebuah rumah makan ayam geprek yang sering menyediakan bonus, kedai kopi kecil-kecilan. Sebuah tempat yang nyaman untuk mampir istirahat sambil menuntut ilmu.

Saat melakukan syi’ar, kekuatan mereka adalah di sosial media. Begitu pandainya mereka  membuat pamflet dengan bahasa yang dipahami, dan menarik, desainnya unik dilihat mata. Percayalah sudah banyak sekali orang-orang terkenal mampir ke Teras Dakwah, mengisi acara ataupun kajian. Berkah dari Allah, aamiin..

image
 

 

image
 

Pantai Goa Cemara dan ParangKusumo

Bagaimanapun, kalau dpikir-pikir, meskipun main ke pantai selalu menyisakan baju kotor dan sepatu penuh pasir, tapi pantai adalah tempat dimana kamu bisa melihat langit begitu luas, dan aku mendapat jawaban dari pertanyaan...
“Lautan atau langit yang lebih luas”
“Katanya sih jawabannya Laut, karena pada laut, kita bisa melihat bayangan langit.”
“Tergantung bagaimana jawabannya sih, karena diatas laut itu langit, dan diatas lautan tetap langit”
Aku mengangguk.

Tak perlu benar-benar masuk ke dalam air, laut sudah menyapa sepatu dan kakiku, menerimanya saat menghantam kita lembut. Meski kami bermain tarik ulur kepada ombak, maju kedepan, kemudian saat ombak menggulung ke arah kami, kami mundur ke belakang, kabur. Begitulah manusia ya.

“Kita diberi rasa takut, agar tahu kapan harus kembali. Kita diberi keberanian agar tahu kapan harus lari ke depan.”, salah satu Aha! ku muncul saat melihat mereka.

Dan sekali lagi pantai memberiku ketenangan dan membalas kerinduanku pada langit sore dan air lautan. Kemudian dilanjut saat pagi, kami ke pantai lagi, pantai Parang Kusumo, yang lebih sepi dan lebih tenang.

Dan aku sibuk menemani kepiting berjalan-jalan, dan ada satu kepiting yang aku sakiti. Kemudian ada yang minta bantuan untuk menangkap kepiting. Kemudian ada kepiting yang mencapit  kelingkingku hingga berdarah.

Sunrise yang gelap tapi indah. Sunrise yang sunyi. Sunrise yang dinikmati bersama-sama. Sunrise baruku, setelah Sunrise Sikunir. Sunrise Jogja.

image
 

Silaturahmi

Ada Teh Ifa, yang ternyata Kakak PAS ITB semester 61, yang rumahnya kami repotkan untuk ditinggali selama semalam. Kakaknya mengajarkan kami tentang perjuangan dan pentingnya menjadi istiqomah. Bahwa berada di Salman, naungan mesjid ini, adalah tempat yang cukup homogen dan dunia luar akan lebih berat dari ini. Dan Cintanya teh Ifa dan Kakaknya terhadap Ibunya, si Mbok dan Ayahnya. Ingin sekali ku contoh.

Silaturahmi kedua adalah bersama bang Aad. Ada yang dinamakan dengan Capacity Building. Inilah yang harus kita kejar sebelum nanti umur 40 tahun. Saatnya umur-umur ini meningkatkan kapasitas diri, banyak mencoba, jatuh bangun. Bang Aad juga mengajarkan kami soal feminitas dan maskulinitas. tentang pentingnya menjadi peka untuk memahami banyak hal di bumi ini, contohnya alam. 

“Alam itu seperti wanita.”, katanya.

Selanjutnya, Bang Aad juga membahas sedikit tentang pernikahan. Tentang pernikahan yang akhirnya membuat daya juangnya semakin tinggi. Pernikahannya yang membuatnya berhasil memberikan hasil jerih payahnya pada keluarga diumur 25 tahun. Ada kalimat lucu dari beliau yang terngiang-ngiang dikepalaku. Sebuah percakapan Beliau dengan pamannya. 

“Insya Allah rezeki ini cukup untuk menghidupi diri saya sendiri.”

“Tapi nanti kan kamu akan hidup berdua, bukan sendiri.”

“Menikah itu berarti, rezeki (calon istri) yang selama ini Allah titipkan ke Ayahnya, akan pindah ke kantong saya.”, “Jadi tidak perlu khawatir. Apalagi nanti akan datang yang namanya Rezeki Pernikahan.”

Masya Allah.

Yah. diri ini hanya tertawa kecil. Apa yang beliau sampaikan memberiku keyakinan, tapi aku akan tetap menyerahkan segala serba serbinya kepada Allah. Hanya, tidak ingin terprovokasi tapi hilang persiapan.


 

Begitulah. Seusai itu pulang. Lalu kusaksikan perpisahan satu demi satu yang mengharukan. 

Perjalanan dengan niat yang baik selalu membawa cerita manis untuk diceritakan. Aku sama sekali tidak menyesal. Kuucapkan terima kasih kepada mereka yang menerimaku, mengajakku, berbagi cerita dan tertawa bersamaku.
Jazakumullah khoiron katsiron :)

BMKA goes to Jogja
Semoga jadi kebaikan yang mengalir
29-31 Desember 2017

  • view 68