Catatan Perjalanan : Aku, Kita, dan Jogja

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Januari 2018
Catatan Perjalanan : Aku, Kita, dan Jogja

Memenangkan diri atas diri sendiri itu tidak mudah. Aku awalnya memang terlalu malas untuk menerima perubahan. Terlalu takut untuk memulai. Terlalu yakin bahwa nanti aku tidak akan merasa nyaman .Maka menerima  ajakan ke Jogja ini adalah pilihan yang berat bagiku. Hampir aku memutuskan untuk pergi hanya karena rasa takut, tapi kemudian aku menyerah dan memilih melawan diriku sendiri. Aku yang cengeng ini mewek di depan Tuhannya dan berkata,

“Aku tidak akan mengundurkan diri kecuali Engkau yang memberhentikan aku untuk pergi..”
maka 1-0, antara diriku degan hatiku.

Kemudian tentu saja semuanya berjalan tidak seperti apa yang aku kira. Asumsi memang melemahkan. Aku tidak merasa sendirian. Aku tidak terasing. Kami berbeda-beda kepentingan,berbeda-beda cara menafsirkan, berbeda-beda latar belakang, tapi tujuan kami semua sama, bersenang-senang sambil belajar, niat kami menuntut ilmu.

PT STECHOQ

Kunjungan pertama kami adalah ke PT STECHOQ. Dari namanya saja sudah unik. .Sengaja dipilih nama ini katanya agar muncul di google paling atas, karena cuma the only one .  Perusahaan ini membuat alat-alat praktikum, robot-robot, dan lain-lain. PT ini juga belum terlalu lama merintis, banyak cerita jatuh bangunnya (Soal kisah cintanya, soal pengorbanannya, soal hasil kerja yang diakui orang lain, dll).

Tapi menariknya, sang juru kunci cerita ini adalah Sang Pimpinannya, Mas Malik Khidir adalah sosok yang amat rendah hati. Ia fokus berkarya tanpa menjadikan uang sebagai tujuannya. Tanpa menjadikan popularitas sebagai target. Ia benar-benar menyerahkan hampir seluruh halnya kepada Allah, niatnya begitu lurus dan bagiku, itulah yang membuatnya mampu berkembang hingga sekarang.

“Silahkan ambil ide saya selama itu untuk kebaikan bangsa Indonesia.”, begitu katanya.

Sebenarnya banyak sekali kalimat-kalimat beliau yang sesungguhnya ingin saya abadikan, namun saya hanya bisa mengabadikan kalimat ini,

“ Kata-kata mutiara kalau disampaikan ke orang yang salah, maka akan merusak kata mutiara itu sendiri.”

image
 

Sabila Farm

Pemiliknya Bapak Gunung Soetopo. Milyarder yang sangat suka berbagi, dan tidak asal berbagi, karena bukan hanya soal harta.Tapi ilmu. Beliau telah menjadi besar karena selama ini beliau membesarkan orang lain. Menjadi bermanfaat untuk orang lain sambil mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sabila ini memiliki kepanjangan nama, yaitu Sarana Belajar Ilmu Allah. Jangan sangka, dulu sebelum akhirnya menjadi petani pun, sebenarnya Pak Gun dan istrinya sudah sukses, namun kekayaan itu tidak membahagiakan mereka. Akhirnya beliau meminta petunjuk Allah dan lahan buah naga adalah jawabannya. Mereka pun sama, punya kisah suka dan duka. Selama bertahun tahun mereka memupuk ilmu dan sekarang lahan mereka amat berkembang. Sudah 11 hektar dan memiliki berbagai macam komoditas buah-buahan.

Sabila Farm ini sangat menarik hingga membuatku menyimpan keinginanku untuk kembali dan berguru kesana. Doakan semoga bisa segera kuwujudkan ya!

image
 

Masjid Jogokariyan

Masjid kebanggaan Ust.Salim A. Fillah, masjid kecil yang berisi orang-orang besar, calon orang-orang besar, teman-temannya orang besar yang juga semoga jadi orang besar. Masjid yang jamaah shubuhnya seperti sholat jumat, bahkan ada yang bawa tikar saking banyaknya jamaah yang hadir.

Masjid ini juga menyimpan banyak sejarah dan beberapa diantaranya bersinggungan halus dengan Masjid Salman. Para Pendirinya. Aktivisnya. Oleh Ketuanya kami dikisahkan tentang kebanggan masjid sebagai tempat lahirnya orang-orang yang memperjuangkan persatuan ummat islam. Sudah dua kali aku kesana namun karena temanya berbeda, berbeda pula ilmu yang kudapatkan.

Satu hal yang kugarisbawahi dari hikmah pertemuan dengan jogokariyan adalah, Dimanapun kita, kita berada, bernaung di masjid, dikader menjadi orang yang nantinya akan memegang panji dakwah, Jadi bawalah kebaikan dakwah itu kemana saja. meskipun kita akan berdakwah dengan caranya yang berbeda-beda. Aku menulis, kamu terjun, dia desain grafis, mereka membuat video, dan lain-lain.

Nah, masing panjang. Dilanjut di tulisan kedua ya ^^

  • view 73