Pahit di Lidah, Lembut di Telinga

Pahit di Lidah, Lembut di Telinga

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Renungan
dipublikasikan 05 Desember 2017
Pahit di Lidah, Lembut di Telinga

Mengatakan kebenaran itu Wajib? Wajib. Bahkan terdapat sebuah hadist yang hadist yang berbunyi, Berkatalah yang benar walau itu pahit.. Inilah prinsip yang diajarkan dalam Islam oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nasehat ini beliau sampaikan pada sahabat mulia Abu Dzarr. Bagaimana kita mesti menerapkan kebenaran meski banyak yang berkomentar. Kebenaran tetap diterapkan walau ada celaan dan ada yang tidak suka.

Selengkapnya sila di cek di : Sumber : https://rumaysho.com/3657-katakanlah-kebenaran-walau-itu-pahit.html 

Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku: .... (5) beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit. ...

 (HR. Ahmad 5: 159. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih, namun sanad hadits ini hasan karena adanya Salaam Abul Mundzir)

Namun, mungkin diantara kita, salah satunya aku pun pernah, menyalahpahami makna hadist ini. Kebanyakan orang mungkin malah menjadikan kalimat itu sebagai pembenaran untuk menyakiti orang lain.

“Kejujuran itu memang pahit. Tidak apa, kasih tahu saja. Dia harus tahu yang sebenarnya.”

“Teriakkan kebenaran! Kebenaran itu kadang terdengar menyakitkan dan sulit diterima, ya memang begitu.”

Ya. Kita lupa menyakiti hati orang lain dengan kebenaran pada rentetan kalimat tak diayak. Kita lupa mempermalukan orang lain dengan  mengumumkan kebenaran di depan khalayak. Kita lupa menyampaikan kebenaran dengan baik melainkan dengan amarah, suara tinggi, juga berteriak. S

Sehingga pantas saja kebenaran itu sulit diterima. 

Dalam sebuah kajian Ust. Nur Ihsan Jundullah, ada salah satu pesan yang cocok untuk kubahas dalam tulisan ini, kupatri dalam hati, 

“Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit. Pahit itu adanya dimana? Di Lidah. Di Lidah Kita. Orang yang mengatakannya. Bukan di telinga. Orang yang mendengarkannya harus tetap merasa nyaman dan baik. 

Ya. Sehingga semenjak itu kupahami, kita memang wajib menyampaikan kebenaran, menerapkan kebenaran, tapi pilihlah cara yang baik. cara yang memadamkan api pada hati orang lain. cara yang tak menimbukan luka dalam pada diri orang lain.  Aku yakin selalu ada cara yang lembut, meski tak sepenuhnya manis didengar telinga. Meskipun kita -yang mengatakannya- harus menerima komentar atau cela. Meskipun kita -yang mengatakannya- juga menahan pahit dan luka. 

Mungkin inikah yang banyak membuat begitu mudahnya timbul pertikaian / pertengkaran, begitu banyaknya penolakan terhadap kebenaran yang sebenarnya adalah fakta? 

Pisau bila digunakan di tempat yang tepat, ia akan berguna, kata seorang temanku.

Allah pun sudah ajarkan kita caranya sedari dahulu,

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS Ali Imran : 159)

Bagaimana, lain kali kita akan bisa jadi lebih lembut ya?

Muthi Fatihah Nur
Bandung, 05 Desember 2017

  • view 139