Ilusi

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Renungan
dipublikasikan 26 November 2017
Ilusi

Kau tahu, mata dan otak sering bekerja sama untuk menciptakan bayangan. Bayangan yang bermain hanya di pikiran masing-masing. Timbul tenggelam, berubah bentuk, atau pandai mengacaukan rasa.

Hati seharusnya menjadi salah satu yang paling sadar untuk mengetuk kenyataan.

Tak semua bayangan itu palsu.Tak semua bayangan adalah ilusi. Karena bisa jadi ia nyata hanya saja ia (bayangan) bukanlah sebuah benda untuk kita sentuh. Tapi ia tetap ada.

Tapi kemudian bayangan itu mampu menjadi ilusi. Saat bayangan yang kita lihat itu tidak benar adanya, saat bayangan atau hasil pemikiran itu tak seperti yang kita duga atau harapkan. Selalu, kita sendiri yang menciptakan ilusi.

Menyangkal

Allah itu sangat baik. ya, Tuhanku amatlah baik. Manusia sering terjebak dalam ilusinya sendiri-sendiri. Ilusi bahwa dirinya tak berharga, tak berguna. Ilusi akan kebencian seakan seseorang tengah membencinya. Ilusi akan ketertarikan seakan seseorang menyukai kita. Ilusi akan keabadian seakan harta ataupun sesuatu bertahan selamanya. Padahal jawabannya selalu tidak. Dan selalu Dia yang membereskan semua sampah ilusi itu di kepala kita.

Tapi kadang kita tidak mau bangun. Kita tidak bisa menerima kenyataan dan mempertahankan ilusi di sisi kita. Bahwa keberadaan ilusi itu membuat kita merasa lebih nyaman. Tidak merasa lelah meyakinkan diri. Tidak merasa lelah menyangkal.

Bagaimana dengan harap? Bukankah harapan tidak pernah salah?. Harapan lah yang mempertahankan kita untuk memiliki impian dan mengusahakannya menjadi nyata?

Ya. Betul. Bagikupun begitu.

Namun harapan memiliki jarak yang pendek untuk mencapai ilusi. Harapan yang tak disertai usaha adalah ilusi. Harapan yang membuatmu melakukan hal tidak patut, itu juga ilusi.

Petir

Petir adalah salah satu cara langit bertasbih, meskipun ia agak sedikit menyeramkan. Tuhan adalah satu-satunya yang tak akan membiarkanmu selamanya dalam ilusi. Dan hanya Dia yang bisa memberi tahumu, dengan caraNya apabila kita telah berkali-kali menyangkal.

Mungkin bukan lagi membisikkan kebenaran itu di dalam hati. Bukan lagi seseorang memberi tahumu lewat kata atau perilaku. Tapi lewat bayangan terpahit yang kamu bayangkan, kenapa? Karena satu-satunya jalan terakhir menyelamatkan manusia yang hampir mati, adalah mengagetkan jantungnya, bukan?


 

Maka sadarlah sebelumnya. Sadarlah saat kenyataan masih membuatmu mencubit gemas tanganmu. Atau saat lidah orang lain menampar lembut hati kita yang dingin. Dan harus kuyakini, bahwa saat Tuhan membangunkan kita, itu adalah kesempatan kedua bagi kita. Itu adalah keputusan terbaik yang harus kita cari bersama hikmahnya. Meskipun akan menyakitkan, awalnya.

Ilusi. Tak ada ilusi yang cukup baik untuk dipertahankan. dan, jangan terlalu sering seorang diri. agar saat kamu terhanyut ada yang selalu sedia menyadarkan.

“ Tidaklah kehidupan dunia itu tak lain hanyalah kesenangan (senda gurau) yang menipu.” (QS 3:185) 

 

Muthi Fatihah Nur,
Yang baru saja disambar petir.

Bandung, 26 November 2017


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi untuk tulisan:

    Sekilas tulisan ini memang sekadar curahan hati. Inti dari coretan ini pun tentang kegundahannya setelah ‘tersadar’ dari ilusi yang ia ciptakan sendiri. Kesadaran, yang ia sebut sebagai petir. Tamparan dari Tuhan yang menyadarkannya untuk bangun dari harapan palsu yang ia buat sendiri.

    Yang membuat tulisan ini layak kami pilih adalah cara Muthi dalam menyuarakan masalahnya. Pemilihan kata yang tepat sehingga curahan hatinya terbaca jujur dimana ia mengakui kesalahannya. Pertolongan dari Tuhan pun terasa sebagai hal baik yang dilakukan layaknya sahabat terbaik yang ia miliki. Hal-hal inilah yang membuat tulisan ini terkesan kuat dan memotivasi buat pembaca yang lain dengan rasa sedih yang masih bisa kita rasakan tetapi dengan porsi yang kecil. Tipikal tulisan curahan hati positif bukan munafik yang bisa kita contoh.