Instanisasi

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Inspiratif
dipublikasikan 17 Oktober 2017
Instanisasi

Perkembangan zaman memang sangat menarik. Percayalah, teknologi akan selalu bisa membuat kita terpukau setiap harinya. Teknologi yang katanya dibuat untuk memudahkan manusia. Teknologi yang katanya diciptakan untuk membuat kehidupan lebih baik. Nyatanya beberapa teknologi akhirnya justru tidak memanusiakan manusia.

Iklan 1

Suatu hari, saat tengah berselancar di media sosial, sebuah video iklan menahan pandanganku, betapa menariknya. “Mau makan, tapi gak mau masak?; Mau makan tapi mager?; Mau beli tapi nggak mau ngantri?; Mau menyenangkan pacar tapi gamau cape?; Rumah kinclong tanpa cape?; Hidup tanpa batas itu apa sih?” kata iklan tersebut

Sesaat saya bersyukur bahwa sekarang kemudahan dalam berkegiatan sangat mudah didapatkan, tapi sadarkah bahwa kemudahan itu mempengaruhi kita. Kemudahan yang sebenarnya meminimalisir interaksi kepada orang lain membuat kita menjadi individualis, tidak peka, memikirkan diri sendiri. Kemudahan atas capaian hasil yang sebenarnya meminimalisir usaha, akhirnya membuat kita menjadi malas dan tidak apresiatif. 

Iklan tersebut cukup persuasif untuk membuat kita berpikir, hidup itu memang tak perlu repot. Namun kenyataannya, banyak kemudahan yang sebenarnya tidak kita perlukan. Dan nilai usaha kemudian akhirnya menjadi kecil, bahkan tidak dihargai. Contoh, mau ngasih hadiah tapi gak mau cape. Kamu kirimkanlah hadiah itu lewat transportasi online. Menurutmu, penerima akan lebih bahagia kalau si mamang yang membawakan atau kamu yang membawakan? Kamu sayang temanmu tapi terlalu malas melakukannya? Bukankah rasa sayang itu dilihat dari usahanya? Atau, kamu malas merapihkan rumah akhirnya minta tolong g*clean atau g*apapun itu, lalu ketika suami pulang ke rumah, kamu asik makan ciki sama susu kedelai di depan tivi sedangkan orang lain yang mengerjakan pekerjaan rumah. wkwk, disitu bagiku, berbahaya bila akhirnya kemudahan mengikis nilai usaha

Hidup tanpa batas? Hidup kita tak terasa hidup. Kita dihidupi orang lain. 

Iklan 2

Saya berada di sebuah perjalanan menuju Mall, lagi-lagi muncul iklan yang menurut saya, ia cukup persuasif untuk membuat kita melakukan hal yang tidak berguna. “Coba ketik di search box, cara beli follower; cara jadi terkenal di sosmed”. iklan itu membuatku sedih.

Memang, kita hidup di zaman kepalsuan dan serba pamer. Image yang mati-matian dibangun, pandangan orang lain yang dibawa overthink, tapi sekaligus keras kepala  dengan pendapat sendiri menjadi ciri netizen kebanyakan. Agak menggemaskan bahwa sebenarnya banyak iklan yang isinya membodohi diri kita sendiri / masyarakat, mengajak kita untuk memalsukan diri sendiri, demi meningkatnya penghasilan / keuntungan suatu kelompok. Ada beberapa kalangan yang mungkin mampu mencegah diri dari konten sia-sia atau bahkan negatif dari sebuah iklan, tapi bagaimana dengan mereka yang awam?


Mau tidak mau, inilah salah satu tantangan masyarakat atau sikap-sikap yang mungkin akan dimiliki generasi kedepannya. Dan, jangan salahkan mereka seutuhnya.

Saya tidak membenci kemudahan yang ditawarkan pihak-pihak iklan, sebenarnya tidak semuanya berdampak buruk,banyak yang baik dan membantu kehidupan kita , namun banyak juga yang tidak perlukan. Saat ini masyarakat perlu menjadi cerdas, cerdas emosional dan sosial untuk menjaga nilai-nilai kehidupan yang baik tetap lestari. Kita harus pandai memilih teknologi yang baik dan harus pandai menggunakan teknologi tersebut untuk hal yang baik.

value / norma tidak bisa kita beli. Kadang, bukankah kesulitan lebih mendidik kita?

Dan alangkah baiknya bila, Manusia lebih pintar daripada gadget pintarnya.

Bagaimana Menurutmu?

Muthi Fatihah Nur
14 Oktober 2017

Sumber gambar : www.ilovedoodle.com

  • view 86