Pemeliharaan

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Renungan
dipublikasikan 09 Oktober 2017
Pemeliharaan

Disinilah aku berada. Masih di kota kampus seberang dari kampung halaman. Di bawah lampu oranye jalan, menunggu abang-abang fotokopian menyelesaikan tugasnya.  Pemandangan malam Jatinangor. Sudah lama aku tidak menikmatinya. Semoga lebih banyak syukur yang terucap karena sedikitnya keperluan akademik membuatku bisa pulang lebih awal.

Ada yang berbeda.

Bunga kertas yang biasanya berbunga lebat kini ia ranggas dan dipotong. Biasanya ia menjulur bebas. Warnannya yang beragam membuat jalanan sepi itu menjadi tidak menyeramkan. Saat pertama terbesit, rasa kesal lah yang muncul. Mengapa mereka meniadakan sesuatu yang indah? Tanyaku.

Baru kusadari kemudian bahwa tu adalah pemeliharaan.
Bukan peniadaan, tapi pemeliharaan. Pastilah bunga tersebut sudah meliarkan diri. Menjulur kesana kemari sehingga tak terlihat indah lagi. Mungkin bukan hanya itu, karena Bougenvilea spectabilis adalah salah satu tumbuhan berduri, ia juga bisa melukai orang lain..

Juga seperti saat sekelompok rusa yang hidup di suatu wilayah kemudian terjadi over populasi. Daya dukung lingkungan sudah tak mampu lagi menampung banyaknya jumlah. Saat itulah perburuan dianjurkan. Itu bukan pembunuhan. Itu salah satu pemeliharaan.

Meskipun tak semua yang liar perlu dijinakkan, tapi semua yang liar itu perlu pemeliharaan.

Sama seperli lidah kita. 
Ia liar. Aktif hampir setiap hari. Kadang menyanjung, kadang melukai. Karena bahanya kemudian Allah memenjarakan lidah kita dengan dua barisan gigi yang rapi. Bukan karena ia buruk, tapi agar ia dipelihara dan dijaga. 

Adapula yang sama liarnya. Ialah nafsu. Segala macam nafsu itu lia dan butuh diikat. Dan Allah memberitahukan kita untuk berpuasa. Sekali lagi bukan karena ia buruk dan lebih baik tiada. Tapi agar ia dipelihara dan dijaga. Itu pemeliharaan. 

Saat kita gagal memelihara sesuatu yang liar, maka kita akan menanggung akibatnya. Entah kita akan terluka atau melukai karenanya. Kebenaran akan naik ke permukaan, karena aku yakin Allah tidak menunggu untuk menurunkan hikmah. Hikmahnya telah ada namun pasti kitalah yang belum dapat menemukannya. Dan orang-orang memilih jalan yang berbeda demi menemukannya. 

Entah dalam sujudnya atau perjalanannya.
Entah dalam terjunnya atau dalam diamnya. 
Entah dalam tulisannya atau dalam do'anya 

Kita hanya perlu bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Jadilah yang sejati. 

Dalam perjalanan menemukan hikmah kejadian, 

Muthi Fatihah Nur 
Bandung - Jatinangor, 8 November 2016

Sumber gambar : Tumblr, www.ilovedoodle.com

  • view 33