Belajar Sepeda

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Oktober 2017
Belajar Sepeda

 

Aku pernah mendengar bahwa miniatur kehidupan itu adalah seperti belajar menaiki sepeda, entah siapa yang mengatakannya. 
Tapi kurasa itu benar.

Di dunia ini banyak hal baru yang kita temukan, atau sesuatu yang mungkin belum sempat kita ketahui atau pelajari. Terlambat? Orang-orang selalu bilang tidak ada kata terlambat untuk belajar. Menaiki Sepeda butuh keseimbangan, butuh keberanian.

Dan saat mengayuh sepeda ke dunia luar..

dan satu hal yang sangat mungkin terjadi adalah, Terjatuh

Ada yang tua mencemoohmu
Ada pula yang muda menertawaimu
Ada yang mengintip tapi diam saja
Ada yang menengok ke belakang lalu pergi

Tapi, kemudian ia bangkit dan menaiki sepeda itu lagi.
dan jadi lebih berani.

Itulah belajar, dan tahu bahwa

Jatuh itu sakit.
tapi naik sepeda itu menyenangkan

Ya, meskipun dalam kehidupan kita harus jatuh, atau pernah jatuh jatuh, atau barangkali  jatuh berkali-kali. Tapi kita tahu bahwa kehidupan adalah kebahagiaan, kan? Bahkan Allah menciptakan kita karena cinta. Oleh karena itulah kita diberi rasa Bahagia atau senang. Setidaknya kita pasti pernah merasa senang . Senang sebagai adjektif, bukan kesenangan sebagai sebuah kata benda. Kebahagiaan itu patut kita syukuri.

Oh iya, Dan saat terjatuh, tahukah siapa yang mengulurkan tangannya setia untukmu?

“Kak Muthi, nggak apa-apa? Sini yahya bantu.” (Yahya, si bungsu kelas 3 SD)

Keluarga.

Dari yang telah berjanji belajar sepeda sebelum menikah,
Muthi Fatihah Nur
Bandung, 1 Juni 2016

  • view 21