Kehilangan

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Renungan
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Kehilangan

Ada yang pernah bilang, secara tidak langsung, sebenarnya manusia itu tak pernah kehilangan apa-apa. Karena tak ada sesuatu yang benar-benar jadi milik kita sehingga apabila ia pergi atau diminta kembali, maka seharusnya kita tak perlu terlalu bermuram durja. Nafas, Harta, Keluarga, semua itu milik Tuhan YME.

Tapi, mari bahas kehilangan yang terjadi antar rasa kepemilikan manusia secara harfiah.

Untuk merasakan kehilangan, kita harus tahu apa yang berharga dalam hidup kita.Di saat kita tidak tahu apa yang berharga, kepergian itu tidak mengusik kita, sering kali tak disadari. Tapi saat kita tahu kita telah kehilangan sesuatu yang berharga bagi kita, kita akan merasakan sebuah kekosongan.

Kupikir, tak ada seorang pun yang berharap mengalami kehilangan, karena naluriah manusia yang serakah punya insting selalu ingin memiliki, juga tak bisa dipungkiri bahwa kehilangan selalu menghasilkan kesedihan, meski pada awalnya saja, atau bahkan berkelanjutan.

Tapi kisah kehilangan paling menyedihkan adalah saat kita tidak menyadari apa yang berharga, lalu kita kehilangannya. sesuatu yang diberikan Tuhan tiada duanya, diciptakan sedemikian rupa dengan kemampuan dan keunikan yang berbeda. Sekuat tenaga mesti kita menampik rasa ingin membandingkan diri dengan orang lain. Diri kita. Dirimu. Diriku. Berharga.

Maka, Kehilangan yang sebenarnya adalah saat kita mencederai keyakinan kita, kehilangan diri sendiri.

Aku ingin menghiburmu. Seseorang menasihatiku tadi sore dan berkata,“Semua ada hikmahnya” . Mungkin hal ini terjadi kepada beberapa orang. Tak penting siapa orangnya dan bagaimana ceritanya, tapi yang pasti, kuharap kita semua masih bisa bangkit lagi dan bersyukur  di akhir nanti untuk  kita bisa merasakan hikmah dari fase yang membuat kita semakin dewasa, semakin bijaksana.

1 Oktober 2017
Muthi Fatihah Nur

  • view 38