Maunya Allah

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Motivasi
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Maunya Allah

 

Seberapa sering kita mendengar Maunya Allah?

Kadang manusia itu terlalu angkuh untuk berdialog dengan dirinya sendiri, dengan lubuk hatinya yang paling dalam. 

“Thinking is difficult, that’s why most people judge” -C.G. Jung

Dalam sebuah perjalanan, semua orang bisa saja melakukan kesalahan. Seperti aku. Yang nyatanya harus banyak belajar dibanding merasa seperti orang sibuk. Sebagai orang yang melakukan kesalahan aku tak minta untuk dibela. Aku rela bila mereka melempariku dan aku terluka karenanya.

Di saat-saat yang terlalu lelah dan berada dalam tekanan, kita sulit berfikir jernih. kita cenderung untuk menyelamatkan diri. Mengambil kemungkinan terdekat dan berusaha mengatasi dan bersedia menaggung apapun resikonya, asal selamat.  kemudian, Menyerah.

Tapi, itu bukan Maunya Allah.

Yang Allah Mau adalah kita berjuang sedikit lagi. sampai badanmu terasa remuk dan hatimu berat oleh ‘kata-kata’ orang lain yang sebenarnya mereka ingin membuatmu berpikir bahwa masih ada Kuasa Allah. Bahwa kita juga tidak sendirian dalam menghadapi ini semua. Bahwa kita tidak bisa mengorbankan kebahagiaan orang lain demi kelelahan kita.
meski, kita tidak bisa membuat semua pihak bahagia

Akhirnya, tentu saja yang berjalan adalah rencanaNya Allah. Manusia hanya bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi, dan belajar darinya. Kini air mata itu berubah jadi senyuman yang banyak. Syukur, Alhamdulillah.

Saat termenung, aku ingat saat aku bercerita tentang lika liku-nya berjuang, seseorang mengatakan, “ Ingat saja, Inna ma’al ‘usriy usroo”. Sekarang ketika semuanya berakhir, air mataku menggenang di pelupuk mengingatnya. Lega. 

Allah tak pernah mengecewakanmu.

Bandung, 17 Oktober 2016
Muthi Fatihah Nur

  • view 54