Self Overthink

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Renungan
dipublikasikan 16 September 2017
Self Overthink

Pernah merasa lelah? Bukan fisikmu yang lelah tapi sesuatu yang ada di dalam dirimu, entah itu jiwa atau emosimu yang sedang terengah-engah. Dan akhirnya kamu butuh waktu untuk duduk sendirian dibawah bangku pohon yang rindang atau di  selasar masjid yang sejuk ditiup angin. Pernah?

Tidak semua orang seperti itu tentunya. Ada pula mereka yang merasa beristirahat dengan berjumpa dengan para teman sejawat, sapa kiri-kanan dan bercerita pada banyak manusia.

Adil

Bagiku, bersikap adil kepada diri sendiri itu penting. Seperti menghukum diri sendiri saat kita melakukan kesalahan dan mengapresiasi diri saat sampai pada suatu pencapaian. Seperti menggapai apa yang kita inginkan disamping itu juga menahan diri dari apa yang tidak kita butuhkan. Dan memberi waktu untuk sendiri untuk menghayati diri, itu juga diperlukan. Maka bersikaplah adil dan berikan waktu untuk dirimu sendiri. Intropeksi.

Tapi, jangan tenggelam.

Ada sebuah kalimat mutiara oleh Lao Tzu, seorang filsuf cina :

“Memahami orang lain adalah kebijaksanaan, memahami diri sendiri adalah pencerahan”

Overthink Kill Your Happiness

Setuju dengan kalimat ini? Pasti setuju kalau kamu pernah merasakannya. Memberi waktu kepada diri sendiri itu baik, namun saat kamu terlalu lama sendiri (kaya lirik lagu ya? jangan nyanyi!), sama saja seperti kamu berjalan terus di pesisir pantai ke arah laut sampai dimana kamu tidak bisa lagi berpijak. Pikiran manusia itu liar sehingga kadang ia meluas ke arah yang tidak kita perlukan. Kebenaran menjadi sesuatu yang remang, karena kenyataan yang kamu lihat terbawa oleh pikiran yang dipengaruhi perasaan. Kemudian tanpa kamu sadari, ia merenggut apa yang berharga bagimu. Kebahagiaan. Prasangka baik. 


 

Mendengarkan diri sendiri harus diimbangi dengan meminta nasihat kepada para terkasih. Orang tuamu, sahabat sholeh-sholehahmu. Karena kata hati kita tak selamanya benar. Dan berdoa kepada Allah untuk minta restu adalah senjata pamungkasnya dan kemudian berpasrah diri.

Terlalu banyak berpikir mungkin adalah efek dari keresahan atau kekhawatiran yang bermula dari ketidakpercayaan bahwa sesuatu mungkin tidak berjalan dengan baik, sesuatu tidak sesuai harapan, padahal ia belum tentu seperti apa yang kita pikirkan.

Rasa.

Bukankah kadang ia bisa begitu mengerikan?

Di saat kita menyadari bahwa kita berada dalam keadaan tersebut, maka saatnya mengobati diri, mengobati hati. Obat hati yang lima perkara itu, perlahan mari kita belajar mengaplikasikannya. Temukan kebahagiaan untuk mengganti semua pikiran yang tidak diperlukan itu. Biarlah seseorang menyelami lautan untuk mendapatkan sekadar mutiara, tak perlu terlalu dalam untuk menemukan karang tajam dan menganggu hewan mengerikan di dalamnya.

Sebagai penutup, sebuah quotes dari Ali bin Abi Thalib ini baik untuk dihayati,

“Hiburlah hatimu, siramilah ia dengan percik-percik hikmah. Seperti halnya fisik, hati juga merasakan letih.”

 

Pun untuk diriku,
Muthi Fatihah Nur

Bandung, 16 / 09 / 2017

  • view 113