Sayap - Sayap Keberkahan

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 September 2017
Sayap - Sayap Keberkahan

Di usia yang tak lagi belasan, kita mulai harus menyiapkan sayap-sayap keberkahan untuk terbang ke tempat yang lebih tinggi. Dimana dengan keridhoan Allah kemudian darinya hidup kita menjadi kebaikan di setiap langkahnya. Kedua sayap itu adalah sayap dari Orang tua dan Sayap dari pasangan.

Bersama-sama menuju syurga, mungkin itu adalah mimpi setiap keluarga. Walaupun jalan menuju syurga itu berliku dengan kerikil tajam di setiap tikungannnya. Tak saling setuju, kurang berkomunikasi,  pertengkaran kecil, amarah, kekecewaan, dan lain-lain. Tapi tidak apa-apa. Kita perlu mengingat bahwa orang tua kita pun tidak sempurna,  apalagi kita yang belum seperempat abad menginjak bumi,  tahu apa soal dunia dan perjuangannya.

Pernah terpikirkan olehmu saat kita harus kehilangan orang tua kita? Percayalah padaku, bahwa suatu saat itu akan terjadi. Entah kita atau orang tua kita terlebih dahulu yang nanti hatinya hancur lebih dulu. Kita harus bersiap. 

Apakah sepuluh tahun kehilangan seorang Ayah,  membuatku hancur setiap tahun karena mengingatnya? Ya,  pada tahun-tahun pertama akan terasa amat sulit karena kita butuh waktu mengumpulkan hati-hati yang berserakan itu. 

Melewati hari Idul Fitri tanpanya.
Meminta maaf tanpanya. 
Makan bersama tanpanya. 
Bersilaturahim ke saudara,  teman ayah dan ibu,  tanpanya.


Kemudian, kesedihan itu tak lagi jadi penting. Kehilangan itu dihadapi bersama-sama dalam keluarga dan mulai terbiasa tanpanya. Kehilangan itu pasti terjadi,  karena sejatinya tak ada yang benar-benar milik kita. 

"Semuanya adalah milik Allah,  dan kepadaNya lah semua akan kembali"

Mencintai apa yang kamu miliki adalah satu hal yang paling dekat tapi juga sulit untuk dilakukan.  Karena kadang kita lupa apa yang ada didekat kita untuk mengejar sesuatu di depan. Orang tua adalah harta yang paling berharga yang dimiliki seorang anak, karena kehilangannya  berarti juga kehilangan sumber keberkahan dalam hidup kita.

Jadi, 
Dengarkan apa keinginannya. 
Banyaklah bicara / diskusi dengannya.
Bantulah mereka sedalam yang kamu bisa. 
Jangan menaikkan nada suara dengannya.
Mengertilah kelelahan mereka tanpa diminta.
Kabari mereka saat lama tidak berada di rumah.


Jagalah sayap-sayap keberkahan yang sedang kamu punya.  Cintai dia sebaik baiknya selama masih ada. Ayah dan Ibumu. Jangan membiarkan sesal menggantung di hatimu karena waktu tak lagi memberi kesempatan. 

Dan semoga maaf yang terucap hari ini,  menjadi bekal kita untuk berbuat baik kepada mereka di hari-hari seterusnya. 

"Waktu akan selalu melaksanakan tugasnya.
Menjadi saksi dari perubahan manusia
dari muda menjadi tua
Sementara itu, masih banyak dari kita yang lupa
Salah satu tugas sebagai seorang anak, pada Ibu dan Ayahnya
yaitu, Mencintai mereka

Ummi, Abi, Ayah, Ibu, Bunda ataupun Bapak, atau apapun sebutan cinta seorang anak pada kedua orang tuanya.
Menjadi kenangan termanis bagi mereka, saat mengingat kita.

Pernah berkata seseorang,
"Surga dibawah telapak kaki ibu adalah haq dan benar. Perjuangan langkah Ibu diiringi sejajar dengan mau megerjakan kebaikan sesuai perintah Allah maka JanjiNya pasti dalam setiap do'a akan dikabul dan diperkenankan sampai akhirat"

Sedang Ayah,
Ia terhubung dengan Surga karena kerja payahnya. Menjadi seseorang yang pertama ditunggu putrinya untuk melindungi. Menjadi imam dalam sholat di keluarga. Membimbing dan membantu pkerjaan rumah.
Rasulullah Shallallahu'Alaihi Wasallam bersabda : "Barangsiapa yang mencukupi kebutuhan dan mendidik dua anak perempuan hingga mereka dewasa, maka dia akan datang pada hari kiamat nanti dalam keadaan aku dan dia (seperti ini)," dan beliau mengumpulkan jari jemarinya". (HR. Muslim no. 2631)

Allah juga selalu mengingatkan kita, dalam Al-Ahqaf ayat 15 :
"Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim. "

Apa yang berharga, kadang baru terasa menyakitkan, ketika kita kehilangannya.
Atau sadar bahwa semua itu tidak lagi sama.

Ketika saat itu datang, dan mengingat membuat hati kita menjadi pedih..
Allah yang Maha Penyayang, telah memberi kita obat dari kepedihan itu...
dengan menjadi anak yang sholeh dan shalehah.

Bila kelak kita akan menua
Atau ketika mereka telah tiada
Obat rindu itu, ada pada kita, sendiri.

"Jadilah anak yang sholeh dan sholehah".

- Muthi Fatihah Nur
Bandung,  1 Syawal 1438 H

  • view 16