Wanita yang pergi ke masjid

Muthi Fatihah Nur
Karya Muthi Fatihah Nur Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 September 2016
Wanita yang pergi ke masjid

Namanya Yahya dan Taqi. Adik laki-lakiku yang masih sekolah di jenjang SD. Mereka mempertanyakan banyak hal yang tak masuk akal bagi mereka dan punya banyak keinginan. Banyak memprotes bila tak sesuai keinginan mereka. Mereka juga cerewet seperti ibunya, dan kakaknya-kakaknya.

Setiap shubuh mereka selalu dibangunkan oleh ummi, agar berangkat sholat shubuh ke masjid. Tapi jujur tak semudah itu. Biasanya ada persilatan lidah antar adikku yang terkecil, yahya, dengan ibuku. Rupanya dia marah karena masih mengantuk, dan tak mau sholat ke masjid.  Atau seringkali, karena ummi takut terlambat ke masjid, beliau meninggalkan Yahya. Kemudian ketika pulang, Yahya duduk di kursi cemberut dan berkata, “ Ummi mah nggak ngajak aku ke masjid!”

                Serba salah, kata ummi. Tapi ummi tidak menyerah.

Adapun Taqi, dia adalah tipe anak yang penurut, tapi banyak komentar. Dan suka menggoda adiknya. Jadi kerusuhan pagi di rumah, dalangnya kalau tidak Yahya pasti Taqi. Aku sadar memang tidak mudah mengajak anak-anak untuk sholat, apalagi sholat shubuh di masjid. Ada saja kerikil-kerikil kecil yang menyandung.

Guru fisikaku pernah menulis sebuah kalimat yang kurasa amat benar, yaitu,“Ajarilah anak-anakmu untuk sholat, dan bersabarlah dalam melakukannya.”

Saat mereka dalam umur seperti ini, memang sangat rentan soal pola pikir. Mereka mengambil kesimpulan secepat apa yang dapat mereka pahami. Makanya ummi selalu mencoba menanamkan banyak hal dan memberi pengertian tentang banyak hal, terutama soal kehidupan. Seperti, ‘Kita harus masuk ke Syurga bersama-sama’, ‘Sholat itu wajib’, ‘Ayo, menabung’, ‘Kalian harus pandai dan banyak mengaji dan belajar’,dan lain-lain. Walaupun, namanya juga anak-anak, sesaat mereka paham, kemudian sesaat mereka lupa dan tidak mau nurut lagi.

Suatu saat aku iseng bertanya, “ Yahya, kenapa yahya sholat di masjid?”

“ Karena ummi selalu membangunkan dan diajak ke masjid.” , katanya.

“ Tapi yahya tahu kan sholat shubuh itu wajib? “, lanjutku.

“Iya, yahya tahu.”

Kalau Taqi, dia punya jawaban berbeda, “Taqi, kenapa taqi sholat di masjid?”

“Karena kata ummi, kita harus membangun peradaban.”

Aku hanya tertawa mendengar jawabannya, dan  ada rasa kagum menyelinap ke dalam hatiku. Adikku hafal benar apa yang selalu dikatakan ummi. Aku tahu, jika adikku bisa terus sholat shubuh di masjid, maka ketika besar mereka akan menjadi lelaki sejati.

Dahulu, aku agak tidak setuju ketika ummi harus keluar pagi-pagi dan pergi ke masjid bersama dua adikku. Bukankah, perempuan itu lebih baik sholat di rumah? Pikirku saat ummi kerap mengajak aku juga sholat di masjid, dan aku menolak.

“Ya sudah, biar ummi saja.”

Ya itulah Ummi, selalu kuat. Ummi tahu kalau perempuan memang lebih baik sholat di rumah. Tapi aku sadar, Ummi tak punya pilihan. Adik-adikku tak punya sesiapapun untuk mencontohkan hal itu, sehingga ibuku harus mengambil alih agar mereka tidak kehilangan teladan yang baik. Bukan hanya sekedar kisah-kisah yang diceritakan setelah habis maghrib, tapi juga contoh, yang benar dilakukan oleh orang-orang sekitarnya. Oleh karena itu ibuku selalu meminta aku juga bangun pagi sebelum adik-adikku untuk sholat walaupun tak pergi ke masjid. 

Ini seharusnya memang menjadi tugas seorang Ayah. Tapi mereka memang masih terlalu kecil saat Abi (ayahku)  pergi. Sehingga adik-adikku tak bisa mengingat apapun tentang ayahku selain dari wajahnya. Oleh karena itu ketika ummi sadar ada sebuah ruang kosong di dalam hati anak-anaknya, ia berusaha menutupnya sekuat tenaga. Ummi tidak peduli walaupun jadi satu-satunya 'ibu-ibu' yang pergi ke masjid saat shubuh. Ummi juga tidak peduli apa kata orang tentang ini. Yang beliau inginkan adalah, 'Adik laki-lakiku belajar sholat di masjid'

Ya itulah ibuku, selalu kuat. Bagi setiap anak, tentu saja orang tua merekalah pahlawan mereka. Orang tua merekalah yang terbaik. Akupun begitu. Tak ada wanita yang lebih aku kagumi di zaman ini kecuali Ibuku. Ibuku senang mengulang-ulang kalimat ini,

“ Ummi mau ke syurga bareng-bareng. Kalau ada anak ummi yang tidak berhasil maka sayap ummi akan patah. Kita tidak bisa ke syurga bersama-sama.”

Biasanya aku dan adikku hanya senyum-senyum saja mendengarnya. Tapi jauh di dalam hati, aku mengetuk pintu hatiku dalam-dalam. Mengetuk nuraniku agar selalu berusaha menjadi anak yang sholehah, agar sehidup sesyurga dengan mereka. Karena saat di syurga kelak,  kemana kita kan berkumpul selain kepada keluarga?

Muthi Fatihah Nur,
11/09/2016

  • view 277