perjalanan menembus waktu

musthofa as-shomandany
Karya musthofa as-shomandany Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Agustus 2016
perjalanan menembus waktu

 

Perjalanan menembus waktu

By: mUSTHOFA ash-shomandany

 

 

Membulatkan tekad

 

            Panas mentari mulai terasa menyengat. Mungkin terlalu siang.Aku melirik jam tangan. Pukul delapan lebih empat puluh lima. Sementara aku sudah tiga puluh menit menunggu bus. Tapi tak kunjung dapat. Tak terasa , keringat membasahi keningku. Kalau tidak karena niat yang sudah bulat, aku pasti sudah mengurungkan keberangkatanku.

            Aku kembali mengarahkan pandanganku ke ujung jalan.Di dalam hati aku masih berharap ada bus yang lewat.Bismillah…aku mencoba memberikan semangat untuk hatiku.

Beberapa menit kemudian….aku mulihat bus sinar mandiri menurunkan penumpang..tanpa membuang banyak waktu, aku langsung melambaikan tangan. Bus merapat.Lalu aku segera melompat pada pintu belakang.Ternyata kursinya penuh.Aku mengarahkan pandanganku ke seluruh penjuru. Di ujung depan kiri terlihat ada satu bangku kosong. Dengan sedikit tergopoh-gopoh aku berjalan menuju kursi tersebut. Aku merebahkan tubuhku.Alhamdulillah..ucapku dalam hati. Untuk sampai di Jepara dengan naik bus Sinar Mandiri, aku harus menghabiskan waktu empat jam. Itupun belum sampai pada tujuan.Bus Sinar Mandiri hanya melewati trengguli.Perbatasan semarang-jepara.Setelah itu aku harus mencari bus jurusan Semarang-Jepara.Memang perjalan yang jauh. Baru kali pertama aku akan melakukan perjalanan ke Jepara.

            Kontur jalan yang tidak rata, membuat perutku terasa di koyak-koyak.Mungkin juga karena kondisi bus yang kurang layak.Kepalaku terasa pusing, perut mual.Ahh aku benci saat-saat seperti ini.Aku mencoba menghibur diriku dengan membuka facebook.tapi, bukannya sembuh, rasanya perutku semakin parah. Pandanganku pun menjadi samar-samar.Aku masih bisa mengendalikan diriku.Lalu aku mencoba memejamkan mataku.Aku berharap bisa tidur.Mungkin setelah bangun tidur, kondisiku bisa lebih baik. Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi.

            Pukul 10:30 aku terbangun.Rasa mual mulai sedikit berkurang. Terasa lebih segar. Aku melihat ke luar jendela bus.Ternyata baru sampai Rembang.Aku memeriksa barangku.Masih lengkap.Lalu aku menyalakan ponselku.Terlihat ada messenger yang masuk. Ternyata dari grup obrolan supera(santri utusan pantai utara). Aku kembali merebahkan tubuhku.Mencari posisi yang paling enak.Tak terasa aku kembali terlelap.

            “trengguli persiapan” suara kondektur bus. Aku langsung terjaga.Memeriksa barangku.Setelah semua terpastikan lengkap. Aku langsung berdiri dan menuju pintu depan. Tidak berselang lama.Bus pun merapat ke tepi jalan.Aku langsung melompat.Sengatan matahari yang seakan melelehkan ubun-ubun kepalaku.Aku mengarahkan pandanganku ke segala arah.Kini aku harus mencari bus jurusan Semarang-Jepara.Lalu aku menyeberang jalan.Mencari temapt yang cocok untuk duduk.Sekedar mengistirahatkan tubuh, setelah hampir empat jam duduk di bus. Aku melihat ada bangku kosong di depan sebuah ala minuman. Sambil duduk, aku menunggu bus jurusan Semarang-Jepara. Ahh, sungguh capek rasanya. Hingga beberapa menit kemuadian, dari ujung pertigaan aku melihat ada bus tujuan Jepara.Aku langsung mencangklong tasku.Berdiri di tepi jalan.Setelah naik ke bus, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru bus.Hanya ada satu bangku kosong.Yaah, hanya satu.Itupun disampingnya ada seorang wanita, yang kelihatanya masih sangat muda, aku taksir mungkin baru berumur delapan belas tahun.“Dari pada berdiri, lebih baik aku duduk saja” gumamku dalam hati. Lalu aku duduk di samping wanita itu, dengan tetap menjaga jarak, aku melihat ke arah depan. Anehnya, wanita tadi sama sekali taka ada perubahan. Seakan-akan dia tak melihat ada orang yang duduk di sampingnya.

            Awalnya bus yang aku tumpangi melaju dengan kecepatan sedang, tapi entah kenapa ?setelah memasuki kawasan yang cukup padat kendaraan, laju bus semakin cepat dan cepat. Beberapa kali bus menyalip kendaraan yang ada di depan. Terlihat sopirnya sudah sangat hafal dengan belokan di setiap jalan.Aku melirik kearahnya.Terlihat ekspresi wajahnya sangat tenang.Sama sekali tidak menunjukan rasa gugup.Pikirannnya buyar ketika tiba-tiba bus berhenti mendadak.Suara decitan rem begitu keras.Wanita disampingku ku berteriak histeris.Penumpang yang lainya saling mengumpat.Ternyata hampir saja bus menabrak seorang yang sedang menyebrang jalan.Semua terlihat menangkan diri.Termasuk aku.Aku terus membaca kaliah hauqolah untuk menenangkan diri. Setelah semua tenang ,bus kembali melaju. Seperti tadi, awalnya memang kecepatan sedang, tapi lama-kelamaan kembali ngebut.Bus tidak hanya menyalip lewat lajur kanan, tapi juga lewat lajur kiri.Cukup berbahaya memang.Perutku kembali terkoyak.Pusing di kepala mulai terasa.Ahh, ini gara-gara sopir tadi.Aku mencoba memajmkan mataku.Aku berharap bisa lebih tenang.

            “polsek pecangaan” suara kenek bus membangunkanku. Aku langsung merangsek ke pintu keluar.Setelah bus merapatkan tubuhnya ke tepi jalan, aku angsung melompat keluar.

“akhirnya, keluar juga aku dari bus itu” ucapku lirih. Kini aku harus mencari SMP Islam. Di sana aku akan berttemu dengan Pak Wa’i. beliau adalah koordinator yang akan memberikan pengarah untukku selama tiga hari di Jepara. Jarak ke SMP Islam ternyata tidak jauh, sekitar lima puluh meter. Setelah masuk ke komplek sekolahan akhirnya aku bertemu dengan Pak Wa’i. setelah berbicara mengenai tugas, dan istirahat sebentar , aku langsung berangkat ke Pesantren Al-Mustaqim, aku diantar mas Tamam, aku kenal dengan mas Tamam adalah ketika mengikuti acara workshop bersama Pusat Study Pesantren di Rembang empat bulan yang lalu.

 

Pesantren Al-Mustaqim

            Sekitar tiga puluh menit lamanya perjalanan menuju Pesantren Al-Mustaqim.Aku melihat beberapa pesantren juga banyak di sini.Akhirnya aku sampai pada gerbang pesantren Al-Mustaqim.Sebuah pesantren lantai tiga.Bangunannya terlihat kokoh.Tapi terlihat sepi.Kata mas Tamam semua santri sedang mengaji. Lalu aku istirahat di kantor pesantren. Sambil menunggu selesai mengaji dan sowan ke pengasuh pesantren.Mungkin karena terlalu capeknya. Aku tertidur di kantor. Baru sekitar setengah empat sore aku terbangun.Setelah mecuci muka, dan sholat Ashar, aku diajak mas Tamam untuk sowan pada Kyai Sholahuddin.Beliau adalah ketua Yayasan Al-Mustaqim, setelah mendapatkan beberapa tausiyah dari beliau, kami berpamitan untuk sowan pada Kyai Habiburrahman, mereka adalah kakak – adik.Karena Yayasan sudah di serahkan pada Kyai Sholahuddin, maka dengan kesepakatan bersama, pesantren diserahkan pada kyai Habiburrahman.Kemudian setelah beberapa kata sambutan dari kyai Habiburrahman, aku dipersilakan untuk menuju ke kamar.Aku memilh satu kamar dengan Ridlo, dulu waktu di rembang, ridlo juga ikut.

            Sampai di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku pada dinding kamar.Meluruskan kedua kakiku.Beberapa santri yang sekamar denganku pun memperkenalkan diri.Dengan celoteh khas anak pantura, membuatku merasa di pesantren sendiri.Mereka tertawa dengan renyah.Yahh.Begitulah santri, kalau bertemu dengan kawan senasib dan seperjuangan.

            “mas, sampeyan istirahat aja dulu. Kalau mau lihat-lihat pesantren saya, besok aja. Mas pasti capek” kata Ridlo. Memang benar kata Ridlho.Masih ada waktu dua hari di sini.Lebih baik aku istirahat aja.Paling tidak untuk memulihkan tenagaku yang tinggal satu-dua ini.

            “iya dlo, aku istirahat aja, soalnya cuapek banget nihh.. tadi rasanya nggak kayak naik bus, tapi naik traktor” jawabku. Mereka tertawa mendengar akhir kalimatku.

            “hahaa..iyaa mas silakan istirahat saja, maaf nggak ada alas tidurnya. Nikmati aja mas.Banyangin kayak di hotel, nanti jadinya nyenyak tidurnya” canda ridlo.Kami semua kembali tertawa.Setelah semua barangku aku masukkan ke lemari yang sudah di sediakan.Aku langsung membaringkan tubuhku.aku menggunakan tangan kananku sebagai pengganti bantal. Itulah yang selalu aku lakukan di pesantren.Setelah itu aku tidak mendegar apa-apa.Aku sudah berlayar ke pulau kapuk.

###

            Suara adzan yang menggema membangunkanku.Aku merentangkan tubuhku.terlihat yang lain sudah persiapan untuk sholat shubuh berjama’ah. Aku langsung bergegas mengambil air wudlu, dan ikut sholat shubuh berjama’ah.Yang menjadi imam adalah kyai Sholahuddin.Setelah selesai sholat shubuh, dilanjutkan mengaji kitab Tasir Jalalain, karangan syekh Jalaludin As_Syuyuthi dan Syekh Jalaluddin AL_Mahalli.Sebelum pengajian di mulai.Beliau, kyai Sholahuddin menyuruh salah satu santrinya untuk membaca pengajian kemaren.Beliau sangat jeli dalam memperhatikan setiap lafadz yang di baca santrinya.Satu lafadz saja yang salah, atau harokatnya yang tidak tepat, beliau langsung menyalahkannya.Baru setelah itu beliau mengkaji kitab tafsir tersebut.Penjelasan yang beliau sampaikan begitu ala min dan mudah di fahami.Semua santri terlihat khusyu’ memberi makna pada kitabnya masing-masing.Aku hanya mendengarkan, sambil mencoba meresapi setiap paparan yang beliau sampaikan.Pengajian selesai sekitar pukul setengah enam pagi.Sebelum beliau keluar dari majlis pengajian, semua santri barjajar dengan rapi untuk bersalaman degan beliau.Sebuah tradisi ulama’ salaf yang sangat baik, dan sudah mulai tergerus oleh perkembangan zaman.

            Pukul tujuh, pesantren sudah sepi.Semua telah berangkat sekolah.Sebuah contoh disiplin yang sangat baik.Padahal kalau di pesantrenku, jam tujuh masih pada antre untuk mandi.Tepat pukul setengah delapan baru pesantren sepi.Tapi disini aku melihat sebuah bentuk pendidikan disiplin yang sangat baik. Aku berharap kelak suatu hari pesantrenku akan seperti ini. Pesantren yang menjadi idaman setiap orang. Yang kelak akan mencetak para generasi penerus yang ala mini serta tidak menutup kemungkinan untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Semua itu tidak akan bisa terwujud kecuali dilaksanakan dengan disiplin.

            Karena tadi pagi aku belum mandi, maka aku memutuskan untuk mandi. Ketika air menyentuh ubun-ubun kepalaku, rasanya begitu segar. Kalimah syukur terucap dengan sendirinya dalam hatiku.Aku sangat bersyukur karena aku disini mendapatkan perlakuan yang sangat ramah.Semuanya menyambutku dengan suka-cita.Seperti menyambut keluarga jauh yang baru datang. Setelah mandi aku minta izin untuk ke kantor. Karena sambungan listrik di kamarku agak kurang stabil. Di kantor pun para pengurus menyambutku dengan sangat ramah. Seperti sudah kawan lama. Mereka sama sekali tidak sungkan untuk bertanya, mengenai ihwalku di pesantren, ala m pendidikan, dan hal lain yang tidak ada hubungan dengan pesantren pun mereka tanyakan. Seperti kondisi lingkungan di rumah dan lain-lain. Maklumlah, daerah Tuban dan Jepara memang beda. Kalau di tuban sudah terlalu banyak pabrik.Setiap malem suara bising mesin yang terus beroperasi membuat tidur tidak nyenyak.Memang kalau siang suara mesin tidak begitu jelas.Tapi, suara kendaraan yang lalu-lalang membuat pekak telinga. Sebuah pemandangan yang jauh beda dengan di Jepara. Disini, semua masih begitu asri.Pepohonan menghijau hampir di setiap jalan. Belum lagi jaraknya yang cukup jauh dari area ala min, membuat udara disini masih benar-benar segar. Tentunya masih belum tercampuri polusi udara.

            Pukul setengah dua siang, semua sudah pulang dari sekolah.Tentunya pesantren menjadi ramai.Setelah istirahat sebentar, sholat jama’ah dzuhur dan makan siang.Mereka harus bersiap-siap untuk berangkat ke madrasah diniyah.Yaa , memang inilah dunia pesantren. Mau tidak mau semua harus menyamakan visi mereka, semua adalah senasib dan seperjuangan. Madrasah diniyah disini terdiri dari mulai SP(santri persiapan), kelas satu, sampai kelas enam. Semua berjalan lalu-lalang membawa kitab sesuai tingkatan masing-masing.Sebuah pemandangan yang sangat familiar di dunia pesantren.Pukul empat sore mereka pulang.Terlihat wajah mereka berbeda-beda.Ada yang masih tetap semangat, ala mi juga yang terlihat kecapekan.Lalu mereka segera menyambar handuk untuk mandi. Kau memutuskan untuk mandi setelah jama’ah maghrib saja. Karena terlihat antrean yang sudah mulai mengekor. Setelah jama’ah maghrib, semua santri harus mengikuti mengaji Al_Qur’an. Setelah selesai mengaji Al_Qur’an semua bersiap-siap untuk sholat jama’ah isya’. Kali ini yang menjadi imam adalah kyai Habiburrahman.Beliau terlihat sangat khusyu’.Bacaan sholatnya pun sangat tartil.Setelah jama’ah sholat isya’ selesai seluruh santri tidak lansung keluar dari musholla.Semua langsung membentuk shof seperti saat jama’ah tadi. Yahh, mereka akan melanjutkan kegiatan yaitu nadzoman, atau membaca sebuah kitab dengan cara dilagukan bersama-sama. Terdengar begitu serempak dan indah.Kebetulan ala mini kitab pilihannya adalah kitab hidayatus shibyan, kitab yang membahas ilmu tajwid.Hampir seluruh pesantren di Indonesia untuk para santri pemula menggunakan kitab ini. Dulu waktu aku pertama kali masuk pesantren pun kitabnya sama, hidayatus shibyan. Sekitar pukul setengah delapan nadzoman selesai.Ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu.Yaah.Makan malam, terlihat wajah mereka berseri-seri.Walau makan hanya dengan seadanya tapi guratan kebagiaan sangat terlihat dari wajah mereka.Aku pun ikut larut dalam kebahagiaan yang mereka ciptakan.

###

            Tak terasa sudah tiga dari aku disini.Tentunya aku harus kembali ke pesantrenku. Kenangan di sini sungguh tak akan bisa aku lupakan. Tertawa bersama.Makan dengan satu talam.Serta antrean wudhu yang mengekor. Semua itu akan selalu aku ingat. Dari sini aku dapat banya sekali pelajaran.Mulai dari arti pentingnya disipilin waktu, hingga kenapa santri disini ditekankan untuk menghafal.Memang kalau di fikir lebih dalam.sistem pendidikan di sini sesuai dengan sistem pendidikan ulama’ salaf. Dulu waktu zaman ulama’, apapun disiplin ilmu yang akan mereka pelajari, pasti sudah mereka hafal di luar kepala. Sehingga ketika mereka menerima penjelasan dari gurunya, mudah untuk faham. Sesuai dengan bait kitab ‘imrithi.

“wa an yakuna nafi’an bi ‘ilmihi # mani’tana bi hifdzihi wa fahmihi”

Yaa …hafal dulu baru faham.

            Terima kasih tentunya aku sampaikan pada beliau, kyai Sholahuddin, dan kyai Habiburrahman yang telah memberikan izin kepadaku untuk ikut nyantri di pesantren Al-Mustaqim ini.Semoga beliau berdua selalu mendapat rahmat dan ma’unah dari Allah SWT. Amin..yang terakhir kepada seluruh santri pesantren Al-Mustaqim pada umumnya. Untuk kang Ridlo, kang khoirun yang telah dengan ramah melayani kebutuhanku selama tiga hari. Semoga kalian bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan barokah .amin ..

 

 

 

 

 

Dilihat 139