Penampilan Kakek Gila, Tapi Hobinya adalah Membaca "Orang Luar biasa"

MustaQim
Karya MustaQim  Kategori Renungan
dipublikasikan 19 Januari 2017
Penampilan Kakek Gila, Tapi Hobinya adalah Membaca

Pagi tadi, saya melangkahkan kaki menuju kampus tercinta untuk bertemu dengan dosbim dan melanjutkan naskah skripsi.

Tidak sengaja saya bertemu dengan seorang kakek didepan moshollah fakultas FE,

Sedangkan biasanya kakek tersebut duduk didepan perpus Mesjid Alhikmah Universitas Negeri Malang.

Ketika saya akan masuk dalam mosholla, hati ini terketuk dan ingat bahwa dalam tas saya ada bekal makanan dari kos.

Pertama dalam fikiran saya terbesit bahwa kakek tua ini bukan orang biasa, dan bukan orang gila. saya suka dengan kebiasaan beliau yang membudayakan membaca dalam dirinya.

Rasa takut dan lain sebagainya campur aduk dalam diri saya ketika akan menawarkan makanan, namun saya coba beranikan diri menawarkannya dengan tangan gemetar,,

Saya    ; Kakek suka membaca,,,, x 2 awal permulaan sapa saya pada kakek tersebut (dengan wajah merunduk dan sambil membaca koran bapak tersebut menghiraukan saya, akhirnya saya masuk dalam mosholla dan sambil merenung,,, setelah itu saya keluar

Saya    ; "Pak ini makanan" menawarkan makan lagi pada nya, dan ternyata bapak itu menolak makanan dari saya dengan kode “melambaikan tangan” pada saya.

            Kemudian selang beberapa menit ada mas pegawai  kampus yang biasa duduk dengan saya bertanya,

Mas Y ; “Ada apa…?

Saya    ; “Gak papa mas, Cuma tadi saya nawarin makanan, bapak nya tidak mau”.

            Dan ternyata awalnya saya berfikir bahwa bapak itu tuli, dan bisu, ternyata salah duga, dengan sambil merunduk dan membaca, beliau menjawab ditengah perbincangan saya bersama mas Y dengan pernyataan yang sangat menampar batin saya,

Kakek  ; “kamu kok marah dikasih makan” sambil merunduk membaca,

            Dan saya sangat malu pada kakek tersebut, karena cara berfikirnya luar biasa, dia memaknai pernyataan saya dengan rasa kecewa  diri saya karena ditolak makanannya (saya kurang bersyukur). saya pun malu, karena saya tidak tahu bapak itu makan dari mana, Wallahu A’lam,, hanya Allah yang tahu…

Saya    ;  “saya tidak marah pak, saya hanya ingat pada bapak saya dirumah karena umurnya hampir sama dengan bapak” kakek tersebut tidak melihat saya tetap dengan posisi yang sama merunduk dan focus pada korannya,  dengan memilah-milah tiap poin-poin penting/informasi penting yang ada pada koran tersebut,

Kekek ; “saya tidak ada urusan dengan anda, saya tidak kenal dengan anda, saya biasanya bicara dengan orang yang saya kenal saja, kasihan sama saya, untuk apa, anda tidak kenal saya, pergi sana” dengan melambaikan tangannya pada saya sebagai kode untuk pergi darinya, dengan rasa bersalah dan malu saya beranikan menjawab,,

Saya    ; “baik pak, sebenarnya saya senang melihat bapak yang memiliki budaya membaca, saya hidup ini bukan untuk diri sendiri pak, tapi harta saya sebagian adalah milik orang lain (orang miskin), makanya saya menawarkan pada bapak, bisa jadi bapak itu lebih baik dari pada kami, Cuma hanya penampilan saja yang berbeda dimata orang biasa”. Membela diri..

Kakek ; “saya tidak perlu dikasihani, kamu masih kurang ya”..? sambil memcari uang dikantong nya, kemudian dia memberi saya uang receh 200 rupiah “ ini kalau masih kurang buat tambahan”, sambil tersenyum bapak itu akhirnya menatap saya.

Saya    ; “gak pak, uangnya bisa ditaruh di mosholla ini”,, dan sambil berjalan pergi saya berkata “ saya senang dengan kebiasaan bapak” namun bapak itu tetap saja menyuruh saya pergi dengan kode tangannya

Kakek ; “ saya tidak ada urusan dengan anda”.

            Beberapa menit kemudian sesampainya saya diperpus FE, saya melakukan presensi dan akan mengambil data dalam hp, dan ternyata hp saya tidak ada dalam kantong, padahal saya taruh dalam kantong, kemudian saya berfikir mungkin jatuh tadi didepan mosholla, dengan fikiran khawatir, saya balik ke mosholla dan mencari hp saya, ternyata ada dalam loker mosholla “tempat penyimpanan mokennah”. Hati saya semakin menimbulkan tanda tanya, kenapa Uang 200 rupiah (receh) yang saya tolak tadi disatukan dengan hp saya dalam loker…??

            Kesimpulan nya adalah dari perbandingan dua tadi (hp dan uang 200 rupiah) meskipun hidup serba kekurangan, sederhana, namun selalu mensyukurinya itu lebih nikmat dan bermanfaat dari pada hp dengan harga mahal tetapi kurang mensyukuri akan memberi sifat tamak dalam diri kita dan harta itu bisa diambil oleh allah kapan saja,, jadi Perbanyak bersyukur dan bersodaqoh,,,,,

Kenali dulu orang nya, pasti anda akan memahaminya,, cuplikan rohani dipagi hari sebagai pembuka aktivitas hari ini,,

(al-Mustakim, Malang, 19/01/2016) 

  • view 129